Connect with us

Film

Resident Evil: Death Island Review – Jill Menebus Dosa

Fokus pada Jill, dengan cerita yang tak ramah untuk penikmat ‘Resident Evil’.

★ ★ ★ ★ ★
★ ★ ★ ★ ★

Bagi sebagian orang, akan ada masanya mereka harus berkutat dengan berbagai kesalahan yang muncul pada masa lalu. Akan tetapi, hidup terus berjalan dan orang-orang harus tetap menjalani apapun yang hadir di depan mereka, bagaimanapun caranya. Sekilas, hal ini yang disorot dalam film ‘Resident Evil: Death Island’.

‘Resident Evil: Death Island’ merupakan film action horror berbasis CGI terbaru arahan Eiichiro Hasumi yang berbasis dari seri game ‘Resident Evil’. Menjadi sekuel langsung dari ‘Resident Evil: Vendetta’ yang dirilis 2017 lalu.

Film ini berkisah tentang Leon yang ditugaskan ke Pulau Alcatraz untuk menangkap ilmuwan yang dibawa oleh sekelompok teroris pengguna senjata biologis. Di saat yang sama, BSAA yang beranggotakan Chris, Jill dan Rebecca beserta Claire dari TerraSave juga menyambangi pulau yang sama demi menghindari bocornya virus baru yang membahayakan seluruh dunia.

Dari narasinya, kisah ‘Resident Evil: Death Island’ secara langsung melanjutkan cerita yang diusung pada ‘Resident Evil: Vendetta’, tepatnya satu tahun setelahnya. Mengusung alur maju dengan sedikit flashback sebagai bumbu backstory dari salah satu karakternya, film animasi ini akan membawa para protagonis dari seri ‘Resident Evil’ dalam ancaman baru sepeninggal Glenn Arias.

Resident Evil: Death Island Review

Sebagai film yang masih berada dalam satu semesta inti dengan berbagai media ‘Resident Evil’, ‘Resident Evil: Death Island’ ini memberikan banyak referensi dari seri tersebut. Selain ‘Resident Evil: Vendetta’, film animasi ini juga mengambil secuil cerita dari game-nya, seperti ‘Resident Evil 5’, ‘Resident Evil 6’, serta remake dari ‘Resident Evil 3’ yang dirilis 2020 lalu. Oleh karena itu, bisa dibilang film ini terasa tidak ramah bagi penonton awam yang tidak menikmati seri game-nya.

Berbeda dengan berbagai film CGI ‘Resident Evil’ sebelumnya, ‘Resident Evil: Death Island’ tentunya berpusat pada lima karakter dari seri tersebut, seperti Leon Kennedy, Chris Redfield, Jill Valentine, Claire Redfield dan Rebecca Chambers. Akan tetapi, film ini tampaknya memberikan porsi lebih besar bagi Jill Valentine, menempatkan film ini sebagai redemption arc dari karakter veteran ‘Resident Evil’ ini setelah terakhir memiliki andil menjadi salah satu antagonis di ‘Resident Evil 5’.

Walau begitu, Chris dan Leon tetap mendapatkan porsinya sendiri, terutama pada adegan laga dan pendewasaan karakter mereka seiring berjalannya seri tersebut. Selebihnya, Claire dan Rebecca memiliki peran paling sedikit, seakan hanya menjadi supporting cast dari ketiga karakter utama lainnya.

Seperti beberapa film dan serial CGI ‘Resident Evil’ lain, ‘Resident Evil: Death Island’ hadir dengan antagonis baru yang tak ditemui di game. Memunculkan Dylan Blake sebagai antagonis utama beserta Maria Gomez yang sudah muncul sejak ‘Resident Evil: Vendetta’, antagonis tersebut tampil dengan minim rasa.

Terlepas dari bangunan kisahnya sebagai teroris yang merasa bersalah karena kejadian masa lalu serta anak yang ingin menuntut balas atas kematian ayahnya, karakter yang terlalu ambisius dan bertingkah bak pembantu membuat keduanya sangat tidak likeable. Tak hanya itu, minimnya ancaman yang disajikan keduanya membuat eksistensi mereka terasa semakin sia-sia, terutama karena para protagonisnya kelewat resourceful.

Terlepas dari semua itu, teknis yang disuguhkan dalam ‘Resident Evil: Death Island’ ini tampak lebih baik dibanding ‘Resident Evil: Vendetta’. Sinematografi yang tampak fast-paced menyesuaikan dengan adegan laganya, didukung dengan choreography yang lebih organized memberikan keseruan dalam berbagai sajian action-nya. Meski begitu, nuansa horror yang ditampilkan pada film CGI terbaru dalam seri ‘Resident Evil’ ini sangat minim, membuatnya seakan hanya hadir sebagai action flick lain seperti prekuelnya 2017 lalu.

‘Resident Evil: Death Island’ tampil dengan redemption arc yang ditujukan untuk Jill Valentine setelah absen dalam waktu lama.

Terlepas dari serunya berbagai action yang disajikan seiring durasinya, banyaknya referensi yang merujuk ke seri ‘Resident Evil’ membuat film ini terasa tak ramah secara plot untuk penonton awam, serta antagonis yang ditampilkan soulless membuat film ini cukup kehilangan keseruannya.

Oppenheimer & Maestro Oppenheimer & Maestro

Oppenheimer & Maestro: Film Biopik yang Miliki Banyak Kesamaan

Entertainment

Tiger Stripes Tiger Stripes

Tiger Stripes Review: Body Horror Pubertas Akibat Minim Edukasi

Film

What to Stream on Valentine’s Day

Cultura Lists

Orion and the Dark Orion and the Dark

Orion and the Dark Review: Eksplorasi Keindahan dalam Kegelapan

Film

Connect