Quantcast
Predator: Badlands Review - Cultura
Connect with us
The Housemaid Korea

Film

Predator: Badlands Review

Ketika Predator menjadi korban dan aliansi tak terduga membentuk arti kekuatan baru.

★ ★ ★ ★ ★
★ ★ ★ ★ ★

Predator: Badlands adalah film fiksi ilmiah–action terbaru dalam franchise Predator, disutradarai oleh Dan Trachtenberg dan dirilis pada November 2025. Film ini membawa perubahan signifikan dengan menjadikan Predator (Yautja) sendiri sebagai protagonis utama, bukan manusia. Ia mengeksplorasi sisi lain dari budaya pemburu luar angkasa sekaligus memperluas kosmos fiksi ilmiah dengan konflik identitas, teknologi, dan aliansi tak terduga.

Narasi berkisar pada Dek, seorang anggota muda dari suku Yautja yang dianggap lemah oleh keluarganya. Ia dikucilkan oleh ayahnya dan ditantang untuk membuktikan dirinya melalui perburuan makhluk legendaris bernama Kalisk di planet berbahaya bernama Genna. Dalam perjalanan itu, ia bertemu dengan Thia, sebuah android rusak yang menjadi mitra tak nyaman sekaligus penting untuk misinya.

Screenplay karya Trachtenberg bersama Patrick Aison membaurkan unsur mitologi Predator lama dengan elemen baru: konflik internal spesies, loyalitas suku, dan juga kode etik pemburu antar alam. Alur film bergerak dari eksposisi tradisi Yautja ke petualangan survival penuh bahaya dan pertarungan moral, lalu mencapai titik klimaks ketika Dek harus menghadapi konsekuensi dari pilihannya sendiri.

Performa Dimitrius Schuster-Koloamatangi sebagai Dek cukup kuat dalam membawa karakter alien yang bukan sekadar sosok pemburu tanpa perasaan: ia menyimpan keraguan, merasa diasingkan, dan ingin diakui. Elle Fanning juga tampil menarik sebagai Thia, android yang bukan hanya alat teknologi, tetapi entitas yang memiliki kepribadian dan motivasi tersendiri—mengubah dinamika film dari sekadar aksi menjadi aliansi emosional antara dua makhluk berbeda. Chemistry mereka menghadirkan keseimbangan antara aksi brutal dan konflik personal yang jarang muncul dalam film-Predator lain.

Sinematografer Jeff Cutter menciptakan dunia alien Genna dengan desain yang visualnya menarik sekaligus asing. Adegan-adegan alam dan landscape planet Genna terasa berbahaya dan berbeda; penggunaan palet warna dingin dan efek visual yang tebal memberi efek suasana “asing dan mematikan.” Komposisi visual sering menekankan kesunyian sebelum ledakan aksi, sehingga ketika pertarungan benar-benar terjadi kejutannya terasa lebih keras. CGI dan efek makhluk (monster & flora mematikan) ikut menopang intensitas dunia fiksi ilmiah ini.

Film ini membawa tema identitas dan kehormatan dalam budaya predatorial; juga menjelajahi ide bahwa kekuatan sejati bukan semata fisik atau tangisan darah, melainkan pengorbanan, loyalitas, dan pertumbuhan. Keputusan Dek—untuk memperjuangkan nilai sukunya meski melalui jalan yang berbahaya—menjadi inti emosional film. Di samping itu, adanya android Thia memperkenalkan konflik antara teknologi & keaslian — apakah makhluk ciptaan bisa memiliki kehendak yang setara dengan kodrat biologis?

Kelebihan film ini meliputi keberanian mengambil risiko dalam formula franchise: Predator bukan lagi pemburu manusia, melainkan makhluk dengan dilema batin; penggunaan visual & dunia alien baru; dan dinamika karakter yang lebih kompleks. Keputusan untuk tidak menghadirkan manusia sebagai korban utama memberi nuansa baru pada franchise.

Kekurangan muncul di beberapa bagian: pacing terasa lambat pada beberapa fase awal eksplorasi planet, dan beberapa karakter pendukung kurang dikembangkan detailnya. Bagi penonton baru, beberapa konsep mitologi Yautja mungkin sulit dipahami sepenuhnya tanpa latar belakang franchise sebelumnya.

Predator: Badlands berhasil memperbarui formula ikon aksi sci-fi dengan menghadirkan sudut pandang yang berbeda dan karakter protagonis non-manusia yang lebih rentan dan manusiawi. Meski tidak sempurna, film ini membawa napas baru untuk franchise lama dan memperlihatkan bahwa horor & aksi luar angkasa masih bisa punya kedalaman emosional.

die hard die hard

Die Hard dan Kejatuhan Pahlawan Biasa 

Film

Dari Bronson ke Willis: Fantasi Keadilan Amerika

Film

The Scorpion King (2002) The Scorpion King (2002)

Scorpion King: Mitos yang Dibangun Otot

Film

Dances with Wolves Dances with Wolves

Dances with Wolves: Western yang Menyimak, Bukan Menaklukkan

Film

Advertisement Drip Bag Coffee
Connect