Connect with us
radhinal indra

Pengaruh Benda Langit dan Masa Depan Pasar Seni Rupa Menurut Radhinal Indra

Pandangan-pandangan personal Radhinal Indra.

Berbicara tentang hal-hal seperti proses artistik, inspirasi, hingga opininya terhadap inovasi teknologi dalam dunia seni rupa, berikut adalah beberapa pandangan-pandangan personal Radhinal Indra.

Pernah berpengalaman dengan karir sebagai graphic designer, apa yang ngebuat lo mutusin untuk beralih meniti karir sebagai seniman full-time? 

Menurut gue sampai sekarang ini, desain itu adalah ekspresi dari tujuan. Lo punya tujuan, tujuan lo itu lo ekspresikan. Jadi kayak katakanlah, gue punya warung dan butuh logo. Yaudah, kebutuhan logo itu tujuannya, dan lo tinggal berangkat kesitu.

Nah, kalo di seni itu sebenarnya tujuannya bisa dicoret—bisa ekspresi doang. Dan hal itu aja tuh udah membuka infinite possibilities dalam bereksplorasi. Kalo kata temen-temen gue, dua tahun pertama ketika lo masuk industri itu tuh menentukan lo mau jadi apa. Sementara dua tahun pertama gue kerja jadi graphic designer itu susah banget deh.

Dan sekarang mungkin itu jadi kayak memilih hal-hal apa yang lebih nyaman buat gue lakuin. Istilahnya gue itu di seni tuh kecebur, tapi harus belajar berenang. Dan untungnya it worked pretty good so far. Hasrat gue terpenuhi.

Orang-orang sering nanyain pas gue lagi bikin karya tentang alasan gue membuat suatu karya pas waktu enggak ada pameran. Ya karena gue pengen buat aja. Orang enggak ngerti ada urgensi untuk berkreasi atau ada sesuatu di kepala lo yang harus lo keluarin. Sebenernya bahan bakarnya itu doang. Makanya tujuannya ketika dikorek tuh, ya bisa ekspresi doang.

Apa yang menjadikan unsur-unsur astronomi menarik untuk lo angkat dalam karya-karya lo? 

Gini, kalo misalnya seniman-seniman jaman dulu itu kan dia itu ngeliat sekitar ya—looking around. Misalnya waktu ngelukis—mereka mengingat memori akan pemandangan yang pernah atau sedang mereka lihat, dan mengutarakan keindahannya lewat sapuan kuas. Terus ada lagi generasi seniman yang mereka milih melihat ke dalam—looking inside—pas mereka lagi ngerasain emosi seperti misalnya, rasa marah akan sesuatu.

Menurut gue beberapa tipe seniman itu sekitar hal itu aja—antara looking around atau looking inside. Nah, sementara gue itu lebih merasa looking up. Hal itu belum banyak dilihat, itu motivasinya.

Ditambah lagi kalo ngelukis pemandangan, lo masih bisa dateng ke tempat pemandangan itu ada. Terus pas lo looking inside, lo merasakan kesadaran akan kondisi psikologis diri lo. Tapi kalo looking up itu beda, lo enggak bisa kesana juga.

Kalo proses artistik lo dalam mengolah sebuah ide yang kemudian lo kembangkan hingga menjadi sebuah karya itu kayak gimana? 

Ada satu kondisi di kepala gue yang sejak kecil enggak pernah berubah. Ketika gue mendengar kata bentuk permasalahan itu yang gue pikirkan adalah gimana bentuk garisnya atau warnanya apa. Jadi yang muncul di kepala gue ketika melihat suatu problem, suatu ide atau pemantik gagasan itu yang muncul hal-hal visual. Kayak sebuah visualizer dari sebuah aplikasi pemutar musik. Tapi bukan dari suara, melainkan sebuah situasi. Yang muncul ide untuk nge-translate apapun yang gue lihat—permasalahan atau apa, menjadi sebuah form atau bentuk. Mungkin yang dimaksud orang-orang adalah identifikasi masalah, tapi di kepala gue itu tentang gestur, garis, atau komposisi. 

Karena gue itu basic-nya graphic design ya, gue itu akrab sama software. Kadang kan banyak tipe seniman yang ngelukis itu artinya sebuah perjalanan—jadi dia belum tau ujungnya kayak apa, kayak nemu di tengah jalan gitu ibaratnya. Kalo gue enggak gitu, gue sebisa mungkin 90% lukisannya udah jadi di kepala. Baru gue eksekusi di medium yang sebenarnya—dan itu pake software 3D. Jadi kayak misalnya gue berusaha merencanakan baut-baut untuk pemasangan nanti—itu semua gue bikin ukuran-ukurannya.

Karena memprediksi rencana artistik itu menyenangkan aja buat gue. Kayak gue bisa membuat semua obyek-obyek dalam sebuah karya itu saling bekerja satu sama lain. Dan itu cuma bisa dilakukan dengan kalkulasi. Kalo misalnya gue cuma kebayang di kepala gue itu susah. Dan gue sering banget pake software 3D.

Gue kira sih sebenernya itu kombinasi pengaruh dari gue sebelumnya menjadi designer. Pengen semuanya itu efektif. Kecenderungan untuk pengen efektif itu ngebuat gue jadi kalkulatif—dan itu pake software. Akhirnya itu jadi karakter gue juga dalam berkarya yang sebisa mungkin enggak ada resource yang kebuang—yang sebelum gue ngelukis itu ibaratnya udah jadi.

Sebagai seniman, gimana cara lo menghadapi situasi selama setahun pandemi ini? 

Gue itu orangnya pengen sensory experience gue harus taktil gitu. Gue lebih kebuka inspirasinya sama hal yang fisik. Itu udah gue tes, misalnya kayak warna cat itu di monitor itu menurut gue enggak energik aja. Tapi bener-bener pas pandemi ini, sensibilitas gue di monitor itu balik lagi.

Salah satu cara gue adalah, gue ngulik selama pandemi itu gimana caranya bikin karya yang bisa dinikmati di monitor, dan dia didistribusikan antar monitor juga. Yaudah dia menjadi benda untuk dirinya sendiri, gitu lho. Itu menjadi salah satu new artistic approach yang kalo misalnya enggak ada pandemi mungkin gue enggak akan bikin itu. Dan enggak eksperimen atau berusaha untuk sekedar membuat digital version dari lukisan gue. 

Ingin lebih tau mengenai Radhinal Indra dan pengalaman virtual yang menembus batas realita? Rasakan pengalaman dunia virtual 3D yang immersive dan penuh dengan karya di sini.

Hindia Hindia

Spektrum Lain dari Sosok Baskara Putra sebagai Hindia

Music

Scaller Scaller

Scaller yang Progresif dan Tak Terikat Genre

Music

Endah N Rhesa Endah N Rhesa

Kebahagian dan Sentuhan Personal Menjadi Prioritas Endah N Rhesa

Music

Anton Ismael Anton Ismael

Klik Jepret: Anton Ismael

Art

Advertisement
Connect