Connect with us
Raja Ampat
Photo by Ridho Ibrahim on Unsplash

Culture

Narasi Lain dari Raja Ampat dan Miangas

Raja Ampat tidak melulu tentang kemewahan pariwisatanya.

Jika banyak orang di luar sana, melakukan eksploitasi sumber daya alam secara berlebihan, maka di Raja Ampat, masih ada orang-orang yang berpuasa dari godaan “berlebih-lebihan” dengan hasil alam.

Masyarakat Raja Ampat masih mengenal sasi. Sasi adalah salah satu ritual adat untuk mengistirahatkan laut dari ragam aktivitasnya. Bentuknya adalah larangan untuk tidak mengambil sumber daya yang dihasilkan dari daerah tertentu (baik di darat maupun di laut). Harapan masyarakat sepanjang diistirahatkannya daerah tersebut untuk sasi adalah segala sumberdaya hayati di lokasi tersebut bisa pulih dan terjaga populasinya.

Ketentuan tentang pelarangan itu menurut pada adat setempat. Adat merekalah yang mengatur bagaimana narasi tentang perawatan relasi alam dengan manusia itu penting untuk keberlanjutan keduanya. Dengan sasi, daerah tertentu diyakini telah mendapat “perlindungan”.

Hal inilah yang dipotret di film dokumenter Semesta. Dokumenter yang disutradarai oleh Chairun Nissa dan diproduseri oleh Nicholas Saputra yang rilis di awal tahun 2020 ini, dalam salah satu scene mengambil latar di Kapatcol, Papua Barat.

Jika biasanya Sasi (di laut) hanya dilakukan oleh pihak laki-laki, maka di Kapatcol, sasi juga telah dilakukan oleh perempuan atau mama-mama. Bahkan pada peta laut yang mereka pegang, wilayah “sasi mama-mama” dan wilayah “sasi kampung” sangat jelas dan tegas batasannya.

Pada salah satu potongan dialog Almina Kacili, tokoh perempuan di Kapatcol, menegaskan bahwa menjadi perempuan bukan alasan untuk tertinggal. Olehnya, mereka memutuskan untuk juga turut mengambil peran dalam tradisi yang sebelumnya hanya dilakukan oleh laki-laki.

Alasan mama-mama bergerak, membuka dan menutup laut di wilayah-wilayah tertentu, tidaklah muluk-muluk. Dengan sasi, mereka akan memiliki sesuatu untuk dijual dan itu artinya mereka akan punya biaya tambahan untuk keperluan sekolah anak-anak mereka. Sebuah alasan yang sangat feminin dan memperlihatkan betapa berdayanya mereka. Keberdayaan ini ditunjukkan dengan keberaniannya untuk memutuskan, mengorganisir diri dan mengambil peran dalam tradisi yang awalnya lebih banyak dilakukan oleh kaum laki-laki ini.

Dalam kurun waktu tertentu, sesuai dengan kesepakatan bersama mama-mama, laut akan diistirahatkan. Dan jika tiba masa buka, mama-mama akan menaiki kapal kecil untuk mencapai daerah sasi. Mereka lalu serempak untuk turun ke laut dan mencari teripang, lobster, juga kerang lola.

Sementara sebagian mama-mama telah mengumpulkan hasil laut, sebagian lainnya akan berjaga untuk mengukur, menimbang dan membersihkan hasil tangkapan. Tahap ini penting, karena bagi mereka, semua hasil laut yang ditangkap memiliki ukuran standar yang mereka sepakati. Jika sekiranya hasil tangkapan tersebut tidak memenuhi standar yang mereka tetapkan, maka hasil laut tersebut akan dikembalikan lagi ke laut.

Keputusan ini diambil dengan prinsip mengambil seperlunya dari alam. Dengan mekanisme seleksi semacam ini, maka kualitas hasil tangkapan yang bernilai tinggi bisa diupayakan.

Akhirnya, Kapatcol sendiri bukan hanya tentang Glossy Mantled Manucode (manucodia ater), Lesser Birds of Paradise (Paradisea minor), Crinkle–Collared Manucode (manucodia chalybatus), Magnificent Bird of Paradise (cicinnurus magnificus), dan King Birds of Paradise (cicinnurus regius) sebagai endemik Burung Cendrawasih yang dimilikinya. Masyarakat setempat juga memiliki masalah sosial ekonomi yang perlu mereka tangani sendiri. Dan Sasi, adalah salah satu solusi terbaik yang bisa kita lihat di sana.

Serupa Tradisi Manami di Miangas

Miangas, nusa di ujung utara Indonesia ini berbatasan laut dengan Filipina dan bahkan lebih dekat dengan negara tetangga ini. Letaknya yang mengapung di atas bentangan Laut Sulawesi dan Samudra Pasifik, membuat berbagai biota laut dapat dengan mudah dijumpai. Tuna, lobster, baboca (gurita), ular laut, dan ketam kenari misalnya.

Di atas tanah yang kerap kali menjadi saksi laut yang kadang berubah garang dan angin yang berhembus ganas ini, kopra menjadi salah satu komoditas utama. Dikaruniai kekayaan alam yang melimpah tidak membuat masyarakat Pulau Miangas menjadi rakus dalam mengambil hasil alam.

Masyarakat di pulau ini sangat memegang teguh adat istiadat, termasuk dalam hal mengelola hasil alam. Jika masyarakat di Kapatcol mengenal Sasi, maka masyarakat Miangas mengenal adat Manami. Adat Manami dijadikan salah satu pegangan untuk mengelola hasil alam di Pulau Miangas.

Pada dasarnya, upacara adat Manami merupakan masa ikan dipanen secara bersama-sama. Dengan berkiblat pada bulan purnama tepatnya pada Januari hingga Mei. Upacara ini pun dilaksanakan dengan berbagai prosesinya pada satu hari yang disepakati bersama secara adat.

Penentuan jadwal kegiatan Manami ditetapkan dalam pertemuan adat antara Mangkubumi I (Ratumbanua) dan Mangkubumi II (Inangbanua), masing-masing dengan wakilnya, disertai kepala suku, pemuka agama, pemerintah desa dan camat. Biasanya pertemuan tersebut dilakukan di bulan Januari dan saat itulah dibahas mengenai waktu pelaksaan upacara Manami.

Manami dilaksanakan di dua pantai di Miangas. Yaitu Pantai Wolo dan Pantai Liwua. Oleh karenanya, selama waktu awal manami hingga waktu akhirnya ditetapkan, akan berlaku Eha (larangan). Eha ini menjadi masa larangan bagi masyarakat di Pulau Miangas untuk mengambil hasil laut disekitar dua pantai itu.

Eha dilaksanakan bukan tanpa tujuan. Selama Eha berlangsung, tidak boleh ada ganguan apa pun, termasuk masyarakat yang ingin berkunjung ke kedua pantai tersebut. Dipercaya bahwa, suasana tenang, tanpa adanya gangguan akan memberi kesempatan kepada ikan-ikan untuk berkembang biak secara sempurna.

Hari ini, di banyak tempat di muka bumi, banyak dari kita yang hanya tahu mengambil, tanpa tahu caranya menjaga dan melestarikan hingga kita alpa dari teropong masa depan. Seakan alam akan terus berbaik hati memberi dengan segala kelimpahan. Dari Kapatcol dan Miangas, kita seharusnya belajar banyak tentang narasi keberlanjutan, tentang bagaimana mengistirahatkan alam dan memberinya waktu untuk memulihkan diri.

Related Articles:

Click to comment

Leave a Comment

Advertisement
Cultura Podcast
Connect