Connect with us
My Missing Valentine

Film

My Missing Valentine: Menyusuri Ingatan Satu Hari yang Hilang

Rom-Com yang dikemas dengan cara aneh tetapi segar dan menghibur.

★ ★ ★ ★ ★
★ ★ ★ ★ ★

“My Missing Valentine” (2020) merupakan salah satu film komedi romantis Taiwan yang berhasil mendapatkan 10 nominasi dalam Golden Horse Awards ke-57 yang digelar pada tahun 2020 lalu, dan membawa pulang empat piala kemenangan untuk Best Feature Film, Best Original Screenplay dan Best Director untuk Chen Yu Hsun, serta Best Visual Effect untuk Tomi Kuo.

Film arahan sutradara Chen Yu Hsun ini sukses menyuguhkan kisah cinta aneh dengan balutan komedi dan fantasi yang unik, cerita yang orisinal, serta kreatif secara penyajian visual. Jadi walaupun jalan ceritanya tampak surealis namun pembawaannya yang ringan membuat film ini memiliki kesan sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari manusia pada umumnya.

My Missing Valentine

Cerita Tentang Dua Orang dengan Perspektif Waktu yang Bertentangan

Protagonis utama film ini adalah Yang Hsiao-chi (Patty Lee), ia seorang pekerja kantor pos yang sepanjang hidupnya selalu terlalu cepat melakukan segala hal. Dia bangun sedetik sebelum jam berdering, lari dalam hitungan kedua saat marathon di sekolah, serta tidak bisa mengikuti ritme dan gerakan yang selaras karena selalu lebih cepat dari musik, bahkan ia tertawa sebelum sebuah lelucon berakhir.

Kehidupan akhir dua puluh tahunan Yang Hsiao-chi sangat monoton, jauh dari hubungan romantis percintaan. Sampai pada akhirnya, beberapa hari menjelang valentine Yang Hsiao-chi bertemu dengan seorang instruktur senam atletis bernama Liu Wen-sen (Duncan Chow), tanpa perlu waktu lama keduanya memutuskan untuk menjalin hubungan dan berjanji merayakan hari valentine bersama. Namun apa yang terjadi pada hari valentine yang ditunggu-tunggu oleh Yang Hsiao-chi?

Dalam babak kedua, cerita mengalihkan sudut pandangnya pada seorang tokoh bernama A Tai (Liu Kuan-ting), ia merupakan seorang sopir bus yang membawa Yang Hsiao-chi pulang dan pergi bekerja. A Tai memiliki kebiasaan yang sangat kontras dengan Yang Hsiao-chi, ia memiliki masalah selalu terlambat satu hitungan dalam segala hal. Apakah hubungan A Tai dengan Yang Hsiao-chi sebenarnya? Apakah hari valentine yang hilang berhubungan dengan takdir keduanya? Film ini merangkum misteri yang berputar dalam kehidupan dua tokoh utama dengan perspektif waktu yang kontras ini.

My Missing Valentine

Menyuguhkan Kisah Imajinatif yang Aneh Sekaligus Segar

Film ini dibuka dengan sebuah adegan yang menampilkan Yang Hsiao-chi pergi terburu-buru mendatangi kantor polisi dengan keadaan berantakan, sebagian tubuhnya merah kehitaman seperti terbakar matahari seharian penuh. Ia melaporkan tentang satu hari dalam kehidupannya yang hilang, yaitu hari valentine.

Kisah yang dihadirkan “My Missing Valentine” sangat unik, ia bisa berjalan dengan sangat organik bahkan dalam ruang lingkup kehidupan yang surreal, ada waktu yang terhenti, beberapa tampilan makhluk khayali dalam mimpi, misalnya tokoh manusia tokek yang menyimpan banyak barang-barang sebagai bank memori, atau tampilan penyiar radio yang mengisi peran sebagai sahabat Yang Hsiao-chi saat ingin bercerita panjang lebar.

Namun, walaupun memiliki kompleksitas dan banyaknya kemustahilan yang ditampilkan cerita pencarian kebenaran Yang Hsiao-chi tentang misteri satu hari yang hilang tersebut berjalan menarik dan seperti menawarkan banyak kejutan.

Sajian Sinematografi Menawan Minus Kurangnya Durasi Dua Protagonis Utamanya

Tidak heran jika “My Missing Valentine” mendapat ganjaran sebagai Best Visual Effects dalam Golden Horse Awards ke 57, film ini menampilkan gaya sinema yang kreatif secara visual. Dalam beberapa frame film ini menampilkan imajinasi kreatif dari tokoh Yang Hsiao-chi, terutama saat berada dalam lingkup kamarnya, ada dunia lain dalam imajinasi Yang Hsiao-chi baik itu dalam kilas balik, lingkar imaji, dan bayangannya sendiri.

Namun, dibalik gaya pengambilan gambar dan jalannya narasi cerita yang unik dan menawan, film ini masih tampak lesu dalam penggarapan love line dan chemistry kedua pemeran utamanya, mereka terlalu berjalan sendiri-sendiri dalam dunianya masing-masing, dan sedikit sekali panggung yang menampilkan keduanya tampil sebagai pasangan.

Meskipun begitu, jika dilihat dari absurditas jalan ceritanya, keputusan untuk membangun hubungan aneh di antara keduanya menjadi lebih masuk akal, mungkin kisah seperti itu yang ingin disampaikan dalam “My Missing Valentine”.

Big Night! Big Night!

Big Night! Review: Tragicomedy yang Merekam Realitas Sosial Kaum Miskin Filipina

Film

Apakah James Bond Harus Selalu Kulit Putih?

Culture

avatar remastered 2022 avatar remastered 2022

Avatar Review: Masih Relevan untuk Penonton Masa Kini

Film

The Outsider Review The Outsider Review

10 Film Hollywood dengan Estetika Jepang

Cultura Lists

Connect