Connect with us
Mumun Review
Dee Company

Film

Mumun Review: Hantu Sebagai Manifestasi Masa Lalu

Hadir dengan kuatnya elemen dramatik, ‘Mumun’ memberikan nuansa horor yang kuat di awal walau semakin kendor hingga penghujung.

★ ★ ★ ★ ★
★ ★ ★ ★ ★

Dalam berbagai kehidupan manusia, masa lalu merupakan hal-hal yang tak bisa dihindari begitu saja. Mulai dari yang baik hingga buruk, kejadian masa lampau kerap bermanifestasi menjadi bermacam-macam bentuk. Hal inilah yang sepertinya ingin ditunjukkan pada ‘Mumun’ yang sedang tayang di bioskop.

‘Mumun’ merupakan film drama horor Indonesia produksi Dee Company yang disutradarai oleh Rizal Mantovani. Dibintangi oleh Acha Septriasa, Dimas Aditya, dan Mandra, film yang bersumber dari ‘Jadi Pocong’ karya Mandra ini berkisah tentang Mumun yang meninggal karena kecelakaan. Akan tetapi, tali pocongnya yang belum dibuka saat sesi pemakaman membuat pocong Mumun menghantui orang-orang sekitarnya, seperti Husein, Juned, hingga Mimin, adik kembarnya.

Narasi yang diusung dalam ‘Mumun’ sendiri dihadirkan cenderung straightforward. Selain itu, bobot cerita yang dibawakan tergolong ringan, sehingga tidak perlu proses mendalam untuk mengilhami berbagai pesan yang dihadirkan oleh Rizal Mantovani dan segenap kru.

Hal menarik dari ‘Mumun’ ini adalah bagaimana hantu sendiri dihadirkan sebagai manifestasi dari masa lalu berbagai orang, utamanya mengenai hal buruk yang terjadi pada orang-orang yang masih hidup. Hantu Mumun dihadirkan sekadar sebagai pengingat untuk menyelesaikan urusan yang tersisa, dan bisa dibilang pesan tersebut dapat tersampaikan hingga akhir.

Mumun Review

Sebagai film horor, ‘Mumun’ tetap berusaha menebar ketakutan seiring film berjalan. Hadir dengan konsep atmospheric horror dengan build up ala film horor lawas, eksekusinya tampak berhasil pada awal-awal kemunculannya. Akan tetapi, penggunaannya terasa diulang-ulang yang membuat kharisma kengeriannya semakin kendor, menjadikannya terasa membosankan. Belum lagi dengan pocong Mumun yang hadir bukan sebagai ancaman, menjadikan kemunculannya tidak memberikan stake berarti pada para karakternya.

Elemen yang lebih baik justru dihadirkan pada implementasi komedinya. Dengan gaya melawak ala lenong Betawi, segala banyolan yang dilontarkan oleh para karakternya tampil dengan baik. Walau begitu, komedinya beberapa kali mengganggu momen horor yang sedang dibangun, menenggelamkan kengerian yang seharusnya dapat dimunculkan pada ‘Mumun’.

Ensemble cast juga menjadi salah satu hal menarik yang ditawarkan dalam ‘Mumun’. Acha Septriasa tampak berhasil dengan dual role-nya menjadi Mumun dan Mimin dengan karakterisasi yang unik dan grounded. Namun tetap saja, spotlight dalam film adaptasi sinetron ‘Jadi Pocong’ ini adalah Mandra yang tampak luwes membawakan karakter Husein, membuat pengalaman menonton di dalamnya menjadi lebih menyenangkan.

Walau ‘Mumun’ menawarkan potensi menarik pada berbagai aspeknya, teknis yang diusung memiliki plus dan minus. Plus muncul pada representasi sinematiknya yang bernuansa 90an dengan budaya Betawi sebagai center-nya, berhasil memberikan nuansa nostalgia bagi para penikmat source material dan newer audience. Akan tetapi, minus hadir pada penggunaan special effects dan transisi yang masih kelewat kasar ala sinetron, beberapa kali mengganggu cinematic experience seiring durasinya.

Akhir kata, ‘Mumun’ merupakan film horor drama karya Rizal Mantovani yang memiliki banyak potensi dengan elemen dramatik sarat akan pesan moral. Akan tetapi, nuansa ala sinetron dengan horor tipis-tipis menjadikannya tanggung dalam representasinya.

Big Night! Big Night!

Big Night! Review: Tragicomedy yang Merekam Realitas Sosial Kaum Miskin Filipina

Film

Apakah James Bond Harus Selalu Kulit Putih?

Culture

avatar remastered 2022 avatar remastered 2022

Avatar Review: Masih Relevan untuk Penonton Masa Kini

Film

The Outsider Review The Outsider Review

10 Film Hollywood dengan Estetika Jepang

Cultura Lists

Connect