Connect with us
Michael jackson: Thriller
Cr. Kevin Mazur/WireImage

Music

Michael jackson: Thriller Album Review

Album ikonik yang berpengaruh dalam kesuksesan King of Pop hingga menembus isu-isu kultural.

★ ★ ★ ★ ★
★ ★ ★ ★ ★

Salah satu bintang pop terbesar sepanjang sejarah, Michael Jackson, dikenal dengan beberapa lagu yang cukup lekat di telinga pendegar musik lintas zaman. Meskipun demikian, kepopuleran Michael baru diakui secara signifikan melalui album keenamnya yang berjudul ‘Thriller’. Album ini rilis pada 30 November 1982 yang dibuat di label rekaman Epic Record.

‘Thriller’ diproduseri oleh Quincy Jones bersama dengan sang penyanyi sendiri yang seluruhnya direkam di dapur rekaman Westlake (LA, California). Album ini terdiri dari 7 lagu utama, yaitu ‘The Girl Is Mine’, ‘Billie Jean’, ‘Beat It’, ‘Wanna Be Startin’ Somethin’’, ‘Human Nature’, ‘P.Y.T’, dan ditutup dengan ‘Thriller’. Kemudian, ditambahkan beberapa lagu seperti ‘Baby Be Mine’ dan ‘The Lady in My Life’.

Dengan anggaran sekitar 750 ribu dolar AS, ‘Thriller’ sukses merajai Billboard AS selama 37 minggu berturut-turut, menjadi penjualan album terbaik di akhir tahun 1983, berlanjut di tahun 1984, dan menjadi meraih penjualan hingga 70 juta copy di seluruh dunia.

Kesuksesan album ini berlanjut dengan mendapatkan sertifikat platinum RIAA hingga 34 kali, memenangkan 8 penghargaan di Grammy Awards 1984, 8 penghargaan di American Music Awards 1984, hingga dicatat dalam Library of Congress sebagai National Recording Registry of culturally, historically, or aesthetically significant recordings. Album ini tidak hanya memberikan pengaruh secara signifikan dalam ranah musik pop, tetapi juga menembus batas ras secara kultural di Amerika Serikat.

‘The Girl Is Mine’ menjadi lagu pembuka dengan konsep featuring. Michael mengajak Paul McCartney untuk membawakan lagu ini dalam paduan genre pop dan soft rock. Kedua penyanyi seakan tengah merayu seorang gadis melalui lirik-lirik dalam lagu ini. Mereka tidak hanya memberikan suara secara harmonis, tetapi juga menyelipkan dialog kepada satu sama lain karena memperebutkan gadis yang sama. Wajar jika setiap gadis yang mendengarkan lagu ini akan terasa spesial karena merasa diperebutkan antara Paul dan Michael hingga akhirnya lagu ini berakhir dengan lirik yang masih dinyanyikan secara bergantian, “The girl is mine. No, mine. She’s mine.

‘Billie Jean’ menjadi lagu berikutnya yang menjadi bentuk peratapan sekaligus penolakan atas kekasih yang mengkhianatinya. Dalam video musiknya, Michael tampil sebagai sosok misterius yang mahir dengan kemampuan menarinya hingga setiap ubin yang dipijaknya menjadi menyala. Bridging dilakukan secara berulang sebagai sarana Michael untuk menarik cakupan vokalnya secara lebih tinggi. Chorusnya juga menjadi ikonik “She says I am the one. But the kid is not my son.” Iringan bass ala genre funk cukup intens untuk mengiringi tarian Michael dalam lagu ini, sementara nuansa disco melengkapi dalam paduan yang harmonis. Lagu ini juga menjadi penada debutnya gerakan moonwalk yang menjadi signature ala MJ ketika ditampilkan di acara televisi Motown 25.

‘Beat It’ menjadi lagu yang tidak kalah ikonik dari MJ. Musik videonya belatar perkelahian antara dua kelompok kriminal, sementara Michael menjadi pihak penengah yang mendamaikan keduanya dengan tarian khasnya. Chorusnya mudah diikuti dalam lirik yang menyerukan perdamian, seperti “Beat it. No one wants to be defeated. Showing how funky strong is your fight. It doesn’t matter who’s wrong or right.

Iringan gitar oleh Eddie Van Halen terasa mendominasi untuk mempertegas lagu ini dalam genre rock, tetapi dapat nyaman diikuti dalam nuansa dance. Alih-alih menunjukkan kekerasan sebagai bentuk pembuktian, lagu ini menjadi cara Michael untuk menggaungkan perdamaian melalui musik yang dapat dinikmati secara bersama.

‘Wanna Be Startin’ Somethin’’ menjadi lagu dalam iringan yang berpacu dalam nuansa disco yang intens. Liriknya terlihat menggunakan pola rima secara ketat, tetapi dapat diikuti dengan mudah misalnya “It’s too high to get over. It’s too low to get under.” Dalam liriknya, Michael seolah sudah tidak tahan dengan tekanan yang diterimanya dan menjadi sosok yang lebih agresif dalam lagu ini. Di akhir lagu, Michael menyerahkan lagu ini kepada backing vocalist dengan lirik ‘Ma-ma-se, ma-ma-sa, ma-ma-ko-ssa” secara berulang dan terkesan sangat lekat dengan kultur Afrika.

‘Human Nature’ menempatkan Michael dalam melodis yang lebih tenang dan menghanyutkan. Dalam liriknya, Michael menjadi sosok lugu yang mempertanyakan naluri manusia dengan berulang kali menanyakan “Why? Why? Does he do me that way?”. Versi pertama lagu ini ditulis oleh Steve Porcaro dari grup band Toto. Oleh karena itu, wajar jika lagu ini mengingatkan kepada lagu ‘Africa’ dari Toto. Ia mengambil inspirasi ketika anak perempuannya mengadu setelah didorong oleh seorang anak laki-laki. Sebagai ayah, Steve menenangkan anaknya dengan tiga alasan: anak laki-laki itu menyukainya, orang-orang bisa menjadi aneh, dan sikap tersebut sebagai “naluri manusia”.

‘P.Y.T (Pretty Young Thing)’ tidak hanya memadukan genre disco dan funk dalam instrumen perkusi, tetapi juga menyelipkan iringan gitar dan synth ala 80-an yang memikat. Liriknya kembali berputar dalam konteks rayuan yang intim dan singkatan yang menyenangkan, seperti dalam chorusI want to love you. (P.Y.T). Pretty Young Thing. You Need some loving. (T.L.C.). Tender love and care.”

‘Thriller’ sudah terasa horor dengan raungan serigala di awal lagunya. Disco dan funk menjadi genre yang mengiringi lagu ini sehingga tetap sesuai dengan tarian yang tidak kalah ikonik ala MJ. Video musiknya diawali dengan tayangan film ketika Michael berubah menjadi manusia serigala dan memakan kekasihnya. Kemudian, Michael kembali berpindah peran sebagai tokoh utama yang menonton film tersebut dan membujuk kekasihnya yang ketakutan. Michael nampaknya terlalu menjiwai hingga menjadi zombie yang menari dengan para mayat hidup.

Meskipun lekat dengan latar horor, lagu ini nyatanya menjadi bentuk rayuan Michael kepada sang kekasih, misalnya dalam lirik “For you and I to cuddle close together, yeah. All through the night. I’ll save you from the terror on the screen.” Dalam lagu ini, Michael juga ditemani dengan monolog yang intens dari Vincent Prince, seorang aktor Hollywood yang terkenal dengan karya-karya horornya.

‘Baby Be Mine’ menjadi lagu berikutnya dari Michael dengan lirik-lirik yang sarat dengan nuansa romantis dan rayuan. Disco kembali mengiringi secara lebih perlahan dengan ritme yang mudah diikuti. Setiap liriknya menjadi ajakan agar pujaan hatinya menjadi miliknya, termasuk dalam chorusnya, “So Baby, be my mine, And girl I’ll give you all I got to give.

‘The Lady in My Life’ menjadi penutup dengan ballad yang paling lembut dalam album ini. Dengan rayuan-rayuan yang intens dalam liriknya, lagu ini menjadi bentuk ajakan Michael kepada sang kekasih untuk menghabiskan malam bersamanya, seperti dalam lirik “You’re my lady, All throught the night”. Di verse akhir, Michael mengekplorasi vokalnya secara lebih relaks dengan iringan backing vocalist yang tetap konsisten.

Best Track

‘Billie Jean’, ‘Thriller’, dan ‘Beat It’ menjadi lagu terbaik dalam menampilkan figur MJ yang energik. Meskipun demikian, ketiganya menyajikan dengan ritme hingga susunan melodi yang tampil secara unik daripada satu sama lain.

Sementara itu, ‘The Girl Is Mine’ patut didengar untuk mengeksplorasi sisi Michael yang ramah dalam nuansa soft ala The Beatles. Lagu ini juga menembus batas ras antara “kulit putih” dan “kulit hitam” dalam balutan narasi romansa dan memperebutkan gadis yang sama.

‘Thriller’ secara keseluruhan menjadi jejak pertama yang menandakan kesuksesan Michael Jackson sebagai King of Pop. Hampir setiap lagu yang dimuat di dalamnya tampil dengan memukau. Michael juga memadukan budaya Afrika-Amerika secara seimbang dalam lagu ini ketika pasar dan industri musik di Amerika masih didominasi oleh kulit putih, baik melalui pihak-pihak yang terlibat, narasi lagu, dan iringan musik di dalamnya. Tidak mengherankan jika lagu ini meraih kesuksesan secara penjualan, tetapi juga berpengaruh dalam budaya Amerika secara meluas.

Whatever People Say I Am, That's What I’m Not Whatever People Say I Am, That's What I’m Not

Arctic Monkeys: Whatever People Say I Am, That’s What I’m Not Album Review

Music

Phoebe Bridgers Phoebe Bridgers

Phoebe Bridgers: Punisher Album Review

Music

Metro Boomin Metro Boomin

Metro Boomin: HEROES & VILLAINS Album Review

Music

SZA SOS SZA SOS

SZA: SOS Album Review

Music

Connect