Connect with us
gunung papandayan garut
Photo Doc: Gloredtha

Travel

Mendaki Gunung Papandayan Bagi Pendaki Pemula

Ini adalah cerita pengalaman pertama mendaki gunung.

Mendaki gunung bukan destinasi favorit saya dalam bervakansi. Pertama, udaranya dingin. Kedua, mendaki gunung adalah pekerjaan melelahkan. Harus berjalan berkilo-kilometer sebelum mencapai tujuan. Namun teman saya meyakinkan, bila pergi ke Baduy saja bisa apalagi mendaki gunung? Akhirnya diputuskan pendakian ke Gunung Papandayan.

Tentu adalah alasan dalam memilih Gunung Papandayan yang terletak di Garut, Jawa Barat ini. Papandayan dikenal sesuai untuk pendaki pemula. Jalur pendakiannya tidak terlalu panjang. Memang tetap menguras tenaga karena suhunya yang dingin. Ada beberapa tanjakan yang cukup terjal. Namun poin tambahannya adalah kita takkan kekurangan makanan.

Cerita tentang pengalaman pertama mendaki gunung papandayan

Berkumpul setelah berdoa bersama

Ini karena di sepanjang jalur pendakian ada banyak penjual makanan. Hal itu membuat banyak pendaki gunung menyebut pendakian di Gunung Papandayan tergolong mewah. Karena itulah, saya dan sembilan teman lainnya berkendara dari Jakarta sekitar lima jam untuk mencapai Garut. Kemudian kami mencapai pos untuk membayar tiket masuk, tiket berkemah, tiket mobil, dan izin untuk mendapatkan sertifikat mendaki.

Mendaki Gunung Papandayan Pemula

Pendakian dimulai dengan pemandangan yang sangat indah. Kawah Gunung Papandayan terletak di sebelah kiri kami. Kami berjalan pada anak tangga yang disusun dari bebatuan curam. Aroma belerang tercium menyengat. Ada beberapa titik asap yang keluar dari kawah. Tak lama kami pun beristirahat di sebuah saung. Warungnya menjual semangka yang baik untuk mengatasi dehidrasi karena mengandung banyak air.

Mendaki Gunung Papandayan

Jalur Berbatu

Setelah itu jalur silih berganti baik melandai, menanjak, maupun menurun. Tips bagi pendaki pemula adalah tidak mudah menyerah. Kalaupun merasa berat atau susah, jangan lupa bahwa langkah kita akan memengaruhi tim. Untunglah teman-teman saya sabar membantu.

Ada dua pos yang dapat dipilih untuk bermalam. Pos Goberhut tempatnya lebih sempit, hanya cukup untuk 10 tenda. Sementara Pos Salada bisa untuk bermalam ratusan tenda sekaligus. Kami memilih bermalam di Pos Salada. Namun tak mudah untuk mencapai tempat itu. Sampai matahari terbenam kami masih terus berjalan.

gunung papandayan dari jakarta

Pemandangan menjelang malam

Malam datang dan tiap langkah kami hanya diterangi senter. Begitu tiba kami langsung berbagi tugas. Anggota laki-laki mendirikan tenda sementara anggota perempuan memasak. Malam semakin kelam dan udara semakin dingin. Sebenarnya kami berharap dapat melihat Bima Sakti. Namun bahkan pakaian lima lapis masih tidak cukup menahan dinginnya udara di gunung. Padahal kami telah duduk mengelilingi api unggun dan bercengkerama.

Salah satu tips untuk mendaki Gunung Papandayan adalah berhati-hati setelah makan. Sisa makanan harus dibereskan. Ada banyak babi gunung yang senang menyantap sisa makanan pendaki. Dikhawatirkan mereka justru mengacak-acak tenda pendaki juga. Karena itu selesai makan semua harus dirapikan agar tidak memancing mereka datang.

gunung papandayan garut

Mengumpulkan energi sebelum melanjutkan perjalanan ke Tegal Alun

Matahari membangunkan kami. Hari itu kami akan melanjutkan perjalanan ke puncak Gunung Papandayan, Tegal Alun. Kami tidak makan dengan buru-buru. Suasana itu harus dinikmati karena belum tentu akan terulang lagi. Udara yang sejuk, pemandangan yang indah, ditambah suasana yang tak ditemui sehari-hari akan sangat terkenang.

Akhirnya perjalanan ke Tegal Alun dimulai. Jalurnya cukup sulit dilalui karena berpasir dan berkerikil sehingga licin. Kadang saya terjatuh ketika melangkahkan kaki. Namun saya tidak mau menyerah atau merasa marah. Tidak apa-apa, ini pengalaman indah. Akhirnya sampailah kami di Tegal Alun.

Edelweiss Gunung Papandayan

Ladang Edelweiss

Puncak gunung ini begitu cantik karena dihiasi ladang bunga Edelweiss terbesar di Asia. Edelweiss biasanya hadir setelah musim hujan berakhir sehingga sinar matahari bersinar lebih intens. Kurang lebih di Bulan April hingga September. Namun saat kami singgah, yaitu di Bulan Juli, tidak banyak bunga Edelweiss yang dapat terlihat. Tapi tidak apa karena ini sudah cukup memuaskan rasa penasaran kami.

Pengalaman Mendaki Gunung Papandayan untuk Pemula

Terimakasih teman-teman yang saling membatu dan mengulurkan tangan

Pada perjalanan pulang kami melalui rute yang melewati hutan mati. Kami dapat melihat Pohon Cantigi yang tingginya melebihi tubuh manusia. Namun kami merasa seakan pohon-pohon ini hidup. Kami berjalan melaluinya dan berpegang padanya. Meskipun terlihat gersang tapi ini adalah tempat yang unik. Maka berakhirlah perjalanan kami dalam mendaki Gunung Papandayan.

Baca Juga Cerita Travel Lainnya:

1 Comment
Advertisement
Cultura Podcast
Connect