Connect with us
Inspirasi daur ulang sampah puntung menjadi beton dari Conture Concrete Lab
Photo Courtesy: Conture

Art

Membuat Beton dari Bahan yang Tidak Monoton

Inspirasi daur ulang sampah puntung menjadi beton dari Conture Concrete Lab.

Boleh dibilang kalau beton adalah bahan bangunan paling krusial. Bahan ini bisa menentukan kuat-tidaknya pondasi suatu bangunan. Beton juga dikenal sebagai bahan yang fleksibel sehingga bisa dicetak dalam berbagai bentuk. Umumnya, beton dibuat dari semen, pasir, air, dan kerikil yang dicampur dengan perbandingan tertentu. 

Namun, sekarang ada inovasi beton yang dibuat dari bahan tak biasa, yakni dari sampah puntung. Inovasi ini tentu bisa menambah referensi bagi siapa pun yang ingin mendaur ulang sampah puntung atau hendak membuat beton dengan bahan tak biasa.

Adapun pihak yang membuat inovasi itu adalah Conture Concrete Lab. Mereka adalah studio desain produk besutan Febrian yang diresmikan pada 2013. Beton inovatif yang mereka hasilkan itu telah mendapat apresiasi dari para arsitek dan pecinta desain produk. Lantas, bagaimana proses terciptanya Conture Concrete Lab beserta produk inovatif yang mereka ciptakan itu?

Boleh diperkenalkan apa itu Conture Concrete Lab dan apa latar belakang terbentuknya?

Conture Concrete Lab (atau boleh disebut Conture aja) bisa dibilang merupakan studio desain produk yang punya concern untuk ngembangin produk beton. Sebelumnya, Conture udah ada sejak 2010 dan merupakan bagian dari project kita sewaktu kuliah. Baru pas 2013 kita resmikan Conture sebagai studio desain produk.

Conture sendiri sebetulnya singkatan dari concrete furniture, sesuai dengan produk yang kita produksi saat itu, yaitu furniture. Di tahun 2014 awal, kita bikin pameran di Jakarta dan dapet apresiasi dari arsitek-arsitek ternama. Dari situ kita pun jadi kenal dan dekat dengan mereka.

Inspirasi bikin beton dari sampah puntung yang kita lakuin boleh dibilang cukup organik. Jadi, saat itu beberapa klien kita tiba-tiba lapor dan bilang, “Mas Febri, ini sampah puntung banyak banget. Kira-kira bisa dijadiin apa nih sama Conture?” Dari situ kita coba riset dan akhirnya kita nemu metode sendiri buat ngumpulin sampah puntung dan mengolahnya jadi beton. Dan kita nggak nyangka kalau beton dari sampah puntung punya tekstur sendiri yang khas, serta banyak disukai orang.

Siapa saja pihak yang diajak kerjasama oleh Conture?

Tentu saja para arsitek yang udah tau karya kita kayak gimana. Kita juga bekerjasama dengan Parongpong untuk proses pembuatan betonnya. Mereka punya mesin hydrothermal yang bisa menyaring bakteri dari sampah puntung sekaligus membantu proses pembuatan beton.

Bagaimana cara Conture memasarkan produk beton yang kalian buat?

Kebetulan kita udah punya segmen pasar sendiri, yaitu para arsitek yang udah kita kenali. Kita tinggal bilang ke mereka, “guys, ini ada material baru (beton dari sampah puntung) nih.” Selain mereka, kita juga memasarkan produknya kepada para pecinta desain produk yang paham cara mengapresiasi karya kita.

Selain sampah puntung, apa ada project upcycle lainnya yang sedang dikerjakan oleh Conture?

Sekarang kita sedang intens bikin daur ulang limbah masker. Untuk proses daur ulangnya, kita masih tetap kerjasama dengan Parongpong.Dari project ini, kita coba ganti peran pasir pake hasil upcycle yang kita buat.

Apa yang jadi tujuan utama Conture dalam melakukan daur ulang sampah puntung? Apakah untuk mengurangi jumlah sampah puntung beserta dampak buruk dibaliknya atau untuk membuat sampahnya menjadi barang fungsional?

Lebih condong yang kedua, sih (membuat sampah puntung jadi barang fungsional, -pen).

Apa target atau impact yang diharapkan Conture terhadap project daur ulang sampah puntung yang kalian lakukan (terutama dampak bagi lingkungan)?

Ini lebih tepatnya mimpi kita, sih. Kita berharap karya daur ulang yang sudah dihasilkan bisa dipakai di berbagai sudut kota. Dengan begitu, desain tata kota bisa lebih lebih tertata, serta bikin sampah puntung lebih fungsional.

LabRana Menyalakan Lagi Tren Fotografi Analog LabRana Menyalakan Lagi Tren Fotografi Analog

LabRana Menyalakan Lagi Tren Fotografi Analog

Art

ruang rupa ruang rupa

ruangrupa: Pelopor Perkembangan Seni dan Kultur Kreatif

Art

Pentingnya Kolaborasi Dalam Berkarya Pentingnya Kolaborasi Dalam Berkarya

Pentingnya Kolaborasi Dalam Berkarya

Art

Ini Dia Beberapa Cara Biar Karya Seni lo Dikenal Semakin Menonjol

Art

Connect