Connect with us
Mass
mass.movie

Film

Mass Review: Kekuatan Komunikasi Dalam Usaha Penyembuhan Pasca Tragedi

Ketika dua pasangan orang tua berkumpul di satu ruangan untuk berdialog dan menyembuhkan diri pasca tragedi penembakan di sekolah.

★ ★ ★ ★ ★
★ ★ ★ ★ ★

“Mass” merupakan film drama debut penyutradaraan dari Fran Kranz. Mungkin beberapa dari kita familiar dengan sosoknya sebagai salah satu aktor film horor, “The Cabin in the Woods”, ia berperan sebagai Marty Mikalski. Namun jauh berbeda dengan film horor yang ramai, kacau, dan riuh, “Mass” merupakan film dengan konsep minimalis dalam mengeksplorasi topik yang serius dan mendalam.

Dibintangi oleh Reed Birney sebagai Richard dan Ann Dowd sebagai Linda, serta Jason Isaacs sebagai Jay Perry dan Martha Plimpton sebagai Gail Perry. Keempat aktor ini ‘lah yang akan mendominasi sepanjang durasi film, berdialog selama kurang lebih satu jam setengah di satu ruangan.

Jay dan Gail adalah sepasang suami istri yang ingin bertemu dengan pasangan Richard and Linda. Sama-sama dirundung rasa duka yang mendalam pasca tragedi penembakan di sekolah, ini bukan ajang untuk mencari siapa yang salah, namun bagaimana menyembuhkan luka karena peristiwa yang sudah terlanjur terjadi. Buat penggemar film drama padat dialog, “Mass” bisa jadi yang sedang dicari-cari. Meski hanya berlatar di satu lokasi dan dibintangi oleh empat aktor yang hanya berdialog, dijamin ada banyak aspek unggul yang membuat pengalaman menonton kita jauh dari kata membosankan.

mass.movie

Bukan Mencari Siapa yang Salah, Namun Saling Memahami untuk Menyembuhkan

Gail dan Jay adalah orang tua yang anak laki-lakinya menjadi salah satu korban penembakan masal di sekolahnya. Setelah 6 tahun berlalu, mereka memutuskan bertatap muka dengan pasangan Linda-Richard, orang tua dari salah satu tersangka penembakan tersebut. Berempat mereka sepakat untuk melakukan pertemuan tertutup untuk mendengar cerita masing-masing dan mencari penyembuhan batin.

Ide akan dialog antara orang tua korban dan pembunuh sebagai premisnya saja cukup menarik; perbicangan seperti apa yang akan terjadi di antara dua kubu yang saling berlawanan ini? Untungnya, ini menjadi skenario diskusi yang beradab dan rasional antara kedua pihak.

Tanpa flashback atau editing yang berlebihan, kita benar-benar melihat dialog dengan alur yang teratur antara keempat karakter. Tampak terorganisir namun juga natural. Justru menjadi sesuatu yang memukau bagaimana semua ini berasal dari naskah yang ditulis dengan perencanaan. Fran Kranz jelas memiliki bakat juga dalam menulis naskah dengan alur realism. Melihat premisnya, mungkin timbul asumsi ini akan menjadi perbincangan emosional yang menguras tenaga. Namun, naskah “Mass” memiliki pendekatan aspek yang membuat perbincangan keempatnya tidak hanya omong kosong dan luapan amarah saja.

Bicara tentang topik tragedi penembakan masal di sekolah yang sudah menjadi masalah umum di Amerika Serikat, pembahasan tidak fokus pada regulasi senjata, politik, dan prinsip yang bersifat provokatif. Ini adalah pembicaraan dari hati ke hati, antara dua orang tua yang menyayangi anak masing-masing. Bahkan Richard dan Linda sekalipun yang anaknya adalah pembunuh dalam skenario ini. Mereka juga tidak lepas dari rasa berkabung dan penyesalan yang sama dalamnya dengan orang tua korban.

Pengembangan Atmosfer yang Natural dan Akting Masterclass

Awalnya “Mass” akan terlihat terlalu realistis hingga membosankan. Berlatar di gedung gereja umum, dua pelayan gereja terlihat mepersiapkan ruangan untuk suatu pertemuan sembari menyelesaikan pelayanan mereka di rumah ibadah tersebut. Judy, diperankan Breeda Wool menjadi salah satu karakter pendukung yang tampil terlalu ramah. Menimbulkan suasana yang kikuk pada beberapa adegan, namun ini menjadi pelengkap untuk konsep latar “Mass” yang dipresentasikan serealistis mungkin.

Ketegangan mulai terasa ketika Gail dan Jay tiba di gereja dan memasuki ruangan pertemuan. Jay pada babak awal menjadi sosok yang berusaha ramah untuk melindungi istrinya, Gail, yang terlihat menampung banyak emosi tertahankan.

Suasana adegan terasa semakin intens dalam keheningan sekalipun ketika pasangan Richard dan Linda tiba. Kedua pasangan memulai sesi dialog dengan basa-basi ramah namun terlihat jelas kesesakan dari setiap pihak di udara kosong ruangan. Richard dan Linda tampil dengan busana yang lebih formal. Dari kubuh pasangan ini, Richard menjadi pihak yang berusaha stabil dan terkontrol, sementara Linda menunjukan gesture yang lebih ramah dengan empati setiap kali berbicara. Martha Plimpton, Ann Dowd, Jason Isaacs, dan Reed Birney menampilakan akting berkualitas masterclass yang sangat memukai. Kualitas naskah dan akting menjadi kekuatan utama yang solid dari “Mass”, memang hanya itu yang dibutuhkan oleh film ini untuk berhasil.

Seiring kita menyimak berbincangan mereka, mungkin ada saatnya kita lupa kita sedang melihat empat aktor yang sebetulnya tidak benar-benar kehilangan anak mereka. Ini hanya skenario fiksi. Namun mulai dari naiknya nada bicara, tangisan yang pecah tanpa build up, hingga perdebatan yang tidak terhindarkan terlihat sangat otentik dan meyakinkan. Mungkin beberapa dari kita akan ikut menangis karena kita juga bisa merasakan luka, amarah, dan penyesalan yang dialami setiap karakter. Seakan dua anak yang dibicarakan benar-benar ada, padahal bahkan foto kedua anak dalam skenario ini sama sekali tidak ditunjukan ke penonton.

Perspektif yang Mencerahkan dari Dua Belah Pihak Orang Tua dalam Tragedi Penembakan di Sekolah

Mengangkat tema tragedi penembakan di sekolah sudah bukan topik baru di film-film dari Amerika Serikat. Kebanyakan deretan tersebut memiliki naskah yang menghakimi dan eksploitatif, namun alangkah sensitifnya Fran Kranz menulis skenario dengan kemungkinan kasus yang kerap luput dari masyarakat yang terlanjur dibutakan oleh rasa benci dan main hakim sendiri. Biasanya tragedi seperti memberikan latar belakang anak dari keluarga broken home atau orang tua yang menelantarkan bahkan menyakiti anak mereka. Sehingga anak-anak yang melakukan tindakan tersebut diasumsikan sedang melampiaskan amarah mereka. Orang tua mereka yang harus disalahkan.

Namun bagaimana dengan orang tua yang sudah berusaha sebaik mungkin untuk membantu anaknya? Beberapa tragedi besar yang tidak terduga sekalipun kerap terjadi di luar kendali, termasuk tragedi yang menimpah Richard dan Linda. Keduanya dipresentasikan sebagai orang tua yang beradab dan telah mengusahakan yang terbaik sebelum anaknya melakukan hal yang tidak terbayangkan tersebut. Lepas dari kesalahan yang telah anak mereka perbuat, mereka tak bisa dihakimi hanya karena masih mencintai anak mereka yang disebut psikopat oleh masyarakat luas.

Sementara untuk Gail dan Jay, ada cara lain untuk memaknai dan mengenang kepergian tragis dari anak mereka. Bagaimana berdamai dan mencari penyembuhan lebih penting daripada menyalahkan dan mendendam. Kedua prespektif ini memiliki kedalaman yang mungkin masih sulit dijangkau oleh beberapa dari kita. Hal ini yang Fran Kranz ajukan sebagai tatangan untuk penontonnya. Cara memaknai dan menyembuhkan diri dari tragedi dengan cara yang beradab. Dari awal pun keempat karakter memiliki motivasi yang baik dalam menyetujui pertemuan ini.

Pada akhirnya, “Mass” bisa menjadi pengalama spesial untuk kita menyimak topik pembicaraan yang sangat berat. Mungkin situasi yang tidak banyak dari kita alami, namun ada banyak pelajaran tentang memaafkan, isu parenting, serta mendapatkan kekuatan untuk tetap berempati sekalipun kita merasa sebagai korban dalam suatu tragedi.

No More Bets No More Bets

No More Bets: Kisah Korban Penipuan dan Judi Online

Film

The Day Before the Wedding The Day Before the Wedding

The Day Before the Wedding: Balada Persahabatan Cosplayer Pengantin

Film

Arthur the King Arthur the King

Arthur the King: Cukup Menyentuh Walau Klise

Film

Lost in Translation & Her: Kesepian dan Perpisahan dari Dua Perspektif

Film

Connect