Connect with us
manisan buah
Photo by Francesco Ungaro from Pexels

Culture

Manisan Buah, Tradisi Asia atau Eropa?

Bukan hanya Cianjur saja yang memproduksi manisan buah-buahan.

Kalau kita pergi ke Cianjur, Jawa Barat, salah satu oleh-oleh yang dapat dibawa pulang adalah beragam jenis manisan. Ada manisan mangga, pala, murbei, hingga salak. Manisan itu dijual di dalam toples-toples kaca ukuran super besar. Tradisi membuat manisan buah di Cianjur dimulai sejak tahun 1950-an. Idenya berasal dari etnis Tionghoa. Sejak itulah kita mengenal manisan buah sebagai salah satu tradisi menikmati camilan di Indonesia. Cara membuatnya pun mudah sehingga kita bisa mencobanya sendiri di rumah.

Perbedaan manisan yang ada di Indonesia dengan di negara lain adalah kita membiarkan buah-buahan tersebut tetap terendam di dalam sirup gula. Di Asia Timur, buah-buahan akan diangkat dari kompor setelah cukup lama dimasak dalam sirup gula sehingga larutan gulanya akan mengeras seperti kristal. Ini menyebabkan sensasi makan manisan ala Indonesia dengan Asia Timur menjadi berbeda. Di sana, manisan buah alias candied fruit memiliki tekstur yang renyah dari lapisan gula yang mengkristal.

Sebenarnya istilah candied fruit ini telah dikenal ratusan bahkan mungkin ribuan tahun lalu. Berasal dari kata quandi yang dalam Bahasa Arab berarti “dibuat dari gula”. Sebelum gula ditemukan pada abad ketujuh masehi di India, peradaban dari berbagai pelosok dunia telah mengenal cara untuk mengawetkan buah-buahan dengan madu. Bisa dibilang sejarah awal terciptanya manisan bukan untuk menciptakan camilan yang manis melainkan mengawetkan buah-buahan agar lebih tahan lama. Kebudayaan Mesopotamia, China, Mesir, dan Roma telah mengenal buah-buahan yang berlapis madu.

Ada sedikit garis sejarah yang hilang mengenai mana bangsa pertama yang memiliki ide menciptakan manisan. Intinya, negara itu adalah negara di Benua Asia. Orang-orang Eropa sendiri baru mengenal manisan setelah bertemu dengan orang-orang Arab. Ketika Bangsa Arab digdaya di masa lampau dan berhasil menancapkan pengaruhnya di Benua Eropa, mereka pun ikut membawa pengaruh budaya yang kuat. Sementara itu China mencatat bahwa mereka mulai mengenal manisan sejak masa pemerintahan Dinasti Song (960-1279 Masehi).

Saat itu selir kesayangan raja jatuh sakit dan tidak bisa makan. Tabib yang saat itu merawat sang selir memiliki ide untuk menyajikan manisan buah hawthorne. Ini adalah sejenis beri-berian yang tanamannya berduri dan memiliki buah yang terasa asam. Buah haw ini lalu ditusuk dengan batang bambu sehingga seperti sate lalu dicelupkan ke dalam sirup gula hingga terbentuk lapisan kristal di bagian luarnya. Ternyata nafsu makan sang selir pun kembali dan ia menjadi sehat. Sejak itu manisan buah—masyarakat China menyebutnya tanghulu—dianggap sebagai obat yang manjur.

[addthis tool=”addthis_relatedposts_inline”]

Popularitas tanghulu menyebar hingga saat ini. Meski tanghulu tak lagi dianggap sebagai obat yang dapat menyembuhkan penyakit, tanghulu dikenal sebagai camilan pada musim dingin. Tanghulu dianggap sebagai budaya makan orang-orang di China Utara. Tentu saja negara tetangga pun ikut merasakan enaknya tanghulu karena adanya percampuran budaya. Orang Jepang menyebutnya mizuame alias water candy. Namun orang Jepang membuat sirup gulanya bukan dari gula dan air melainkan campuran beras dan malt.

Orang Korea menyebutnya strawberry hard candy alias ddalgi satang karena buah stoberi yang populer dimasak dengan cara ini. Malaysia, yang juga mendapat pengaruh kuat dari budaya China dalam makanannya, mengenal manisan buah dengan pendekatan sedikit ekstrim. Malaysia bahkan menyukai manisan bawang. Sementara itu di Eropa manisan buah justru menjadi lekat dengan budaya orang-orang Kristiniani. Manisan buah menjadi salah satu dari tiga belas hidangan pokok ketika makan-makan pada acara Natal. Orang Prancis menyebutnya sebagai confit fruit karena cara memasaknya yang lama. Confit adalah cara masak ala orang Prancis yang tak hanya melibatkan gula atau buah saja tetapi mereka juga menggunakannya untuk memasak daging.

Kini manisan buah mudah ditemukan di mana saja dan memiliki harga yang cukup terjangkau. Dahulu, manisan buah dianggap sebagai makanan mewah yang hanya dapat dinikmati para bangsawan. Hal ini karena gula adalah penemuan yang terhitung baru dan masih sulit dimiliki. Gula sendiri baru menyebar ke seluruh dunia di abad ke 18.

Click to comment
Advertisement
Cultura Podcast
Connect