Connect with us
Little Fish
IFC

Film

Little Fish: Ketika Perasaan Lebih Kuat Daripada Kenangan

Tandingan “Eternal Sunshine and the Spotless Mind” dengan latar cerita yang lebih realitis dan melankolis.

★ ★ ★ ★ ★
★ ★ ★ ★ ★

“Little Fish” merupakan drama romance sci-fi yang disutradarai oleh Chad Hartigan. Naskah ditulis bersama Mattson Tomlin yang diadaptasi dari cerita pendek bertajuk sama oleh Aja Gabel pada 2011. Dibintangi oleh Olivia Cooke dan Jack O’Connell, keduanya adalah sepasang kasih, Emma dan Jude, yang kemudian diceritakan menikah dan menjalani kehidupan sebagai suami istri.

Kehidupan cinta mereka yang tampak harmonis dan penuh kenangan bahagia harus terancam karena adanya virus NIA (Neuroinflammatory Affliction). Suatu virus yang cara kerjanya sama seperti alzheimer, namun dalam skenario ini menjangkit umat manusia seperti pandemi yang tidak ada obatnya.

Cinta pasangan ini pun diuji ketika Jude mulai menunjukan tanda-tanda kehilangan ingatan, terutama kenangan indahnya bersama Emma. Akankah Jude juga melupakan rasa cintanya pada Emma?

“Little Fish” sempat tayang perdana pada 2020 dalam film festival, namun perilisan globalnya harus tertunda karena pandemi hingga 2021, dan kini “Little Fish” sudah bisa di-streaming di Netflix.

Little Fish

Lebih Melankolis Dibandingkan dengan “Eternal Sunshine and the Spotless Mind”

Banyak yang menyadari “Little Fish” memiliki konsep cerita yang sama dengan film romance sci-fi 2000an, “Eternal Sunshine and the Spotless Mind” yang dibintangi oleh Jim Carrey dan Kate Winslet. Sama-sama menyandang genre sci-fi, “Little Fish” sebetulnya sangat subtle dalam menampilkan genre tersebut dibandingkan dengan ‘Eternal Sunshine’ yang terlihat sekali nuansa off beat dan quirky-nya.

Film Chad Hartigan ini memiliki narasi yang terlihat lebih realistis, hanya pandemi NIA saja yang menjadi elemen sci-fi dalam skenario ini. Terasa lebih immersive dan dekat dengan realita karena rilis pasca pandemi COVID-19.

Jatuhnya film drama romansa ini lebih melankolis, bittersweet, dan sekilas seperti film drama pada umumnya, namun memiliki konsep cerita yang memikat secara emosional. Mengangkat tema seputar kenangan dan ‘bagaimana kita tidak bisa melupakan perasaan’.

Plot “Little Fish” juga tidak dipresentasikan secara linear. Ada flashback yang hampir terasa campur aduk dan tidak terstruktur. Cukup membuat bingung pada awal pertama menonton. Namun bisa jadi itulah poin dalam film ini, kisah cinta Emma dan Jude yang dipresentasikan sebagai fragmen-fragmen kenangan indah maupun sedih yang acak. Cocok dengan tema virus kehilangan ingatan yang menjadi ancaman utama dalam kisah ini.

Chemistry Olivia Cooke dan Jack O’Connell yang Mencuri Hati

Emma dan Jude mungkin bukan pasangan fiksi dari film yang cukup ikonik, namun kisah mereka pasti akan tinggal di hati penonton untuk waktu yang lama. Olivia Cooke dan Jack O’Connell berhasil menyajikan chemistry yang cukup kuat untuk penonton mendukung kelancaran dari hubungan Emma dan Jude lepas dari ancaman yang seiring berjalannya waktu menelan semua kenangan akan perjalanan cinta mereka yang indah.

Emma adalah seorang dokter hewan, sementara Jude adalah seorang fotografer. Sebagai pasutri muda, keduannya membangun rumah tangga kecil yang berkecukupan dan harmonis bersama seekor anjing bernama Blue. Hubungan cinta mereka juga dipresentasikan dengan pas, tidak terlalu cheesy, namun cukup mesra dan mendalam untuk menjangkau hati penonton.

Karena skenario ini tidak akan berhasil tanpa chemistry yang kuat dan meyakinkan dari pasangan utamanya. Penonton harus patah hati dan dibuat hancur ketika hubungan mereka tidak berhasil, dan objektif tersebut berhasil diwujudkan melalui penampilan Cooke dan O’Connell.

Tidak Perlu Paham Plotnya untuk Tersentuh dengan Kisah Cinta Emma dan Jude

“Little Fish” mungkin tidak senyentrik ‘Eternal Sunshine’, namun memiliki berbagai elemen yang jelas tidak mainstream dan generik sebagai film drama romansa. Film ini merupakan salah satu yang memiliki naskah dan eksekusi unik. Mulai dari latar yang ajaib; latar sci-fi tidak pernah terasa serealistis ini, plot non-linear, plot twist, dan cukup mind-bending.

Mungkin banyak dari kita juga tidak akan langsung paham ketika menonton untuk pertama kalinya. Sayangnya, film ini terlalu bikin sedih penonton untuk ingin menonton film ini lebih dari sekali hanya untuk memecahkan plot sesungguhnya.

Namun, kekuatan dari film romansa yang cukup memutar otak ini adalah ketika kita tidak perlu paham plot runtut dari kisah Emma dan Jude untuk merasakan dampak emosional.

Film ini memiliki presentasi yang sudah cukup untuk membuat penontonnya merasakan cinta, haru, patah hati, dan apapun jenis emosi yang akan muncul di hati penonton setelah film berakhir. Intinya hanya, Emma dan Jude saling cinta, kemudian bagaimana perasaan mereka lebih kuat daripada kenangan yang mungkin saja bisa mereka lupakan suatu hari nanti.

The Iron Claw Review The Iron Claw Review

The Iron Claw Review: Biopik Tragedi Pegulat Von Erich Bersaudara

Film

Furiosa A Mad Max Saga Review Furiosa A Mad Max Saga Review

Furiosa: A Mad Max Saga Review – Masa Lalu dan Dendam Furiosa

Film

Monkey Man Review Monkey Man Review

Monkey Man Review: Bukan John Wick Versi India

Film

The First Omen The First Omen

The First Omen Review: Prekuel Horor Religi Lebih Sinematik

Film

Connect