Connect with us
Lara Ati
BASE Entertainment

Film

Lara Ati Review: Rasa Asik Cari Jati Diri

Dengan nuansa asik yang sangat colorful, Bayu Skak hadirkan gejolak antara realita dan passion yang dimiliki setiap orang.

★ ★ ★ ★ ★
★ ★ ★ ★ ★

Setiap orang umumnya memiliki passion sebagai driving force untuk melakukan bermacam-macam hal yang mereka suka. Akan tetapi, realita yang seringkali terlihat pahit dan perlahan membuat semuanya terasa menyebalkan. Hal tersebut ingin disinggung oleh Bayu Skak dalam film terbarunya, ‘Lara Ati’.

‘Lara Ati’ merupakan film drama komedi hasil produksi BASE Entertainment dan SKAK Studios yang menjadi debut Bayu Skak sebagai sutradara tunggal. Dibintangi Bayu Skak, Tatjana Saphira, dan segudang bintang kenamaan lainnya, film ini berpusat pada kisah Joko yang galau tatkala ditinggal tunangan oleh mantannya setelah berusaha keras membanting tulang sesuai keinginan orang-orang sekitarnya. Namun, hadirnya Ayu memberikan warna dan sekaligus masalah baru yang harus ia tangani.

Lara Ati Review

Secara alur, narasi yang dibawakan cenderung linear dengan beberapa momen flashback untuk meng-enhance beberapa plot point. ‘Lara Ati’ sendiri akan lebih banyak berfokus pada Joko dan Ayu, dua insan yang dipertemukan melalui masalah mereka masing-masing. Walau begitu, porsi terbesar dalam film ini hadir dari perspektif Joko dan segala problematika dalam hidup, utamanya dari romansa dan pekerjaan.

Awal hingga pertengahan filmnya berhasil memperkenalkan deretan karakter dan konflik yang akan disajikan, namun tidak dengan konklusi akhir yang terasa kurang menyentuh, membuatnya tak beda jauh dengan berbagai film drama Indonesia yang sudah-sudah.

Bayu Skak sendiri membawa ‘Lara Ati’ sebagai media untuk menyinggung quarter-life crisis yang kerap dialami berbagai orang dalam hidup. Tentang bagaimana realita dapat mengubah persepsi orang dalam menjalani hidup dan memberikan dampak secara langsung maupun tak langsung. Representasi inilah yang membuat film drama komedi ini terasa mudah diserap bagi bermacam-macam lapisan masyarakat Indonesia.

Seperti seri film ‘Yowis Ben’, ‘Lara Ati’ juga hadir dengan dialog beraksen Jawa Timur yang mendominasi sepanjang durasi filmnya. Penggunaan dialog khas daerah serta setting bernuansa Jawa Timur-nya menjadikan film ini terasa sangat dekat, terutama bagi penonton yang tinggal di tanah Jawa. Akan tetapi, penggunaan subtitle untuk mendukung dialognya tampak kurang konsisten, menjadikannya cukup sulit dipahami untuk penonton yang kurang familiar dengannya.

Lara Ati Review

Tak hanya itu, representasi ‘Lara Ati’ juga terlihat cukup menarik melalui komedi yang diusung sepanjang filmnya. Dengan menghadirkan konsep komedi ala Ludruk, yang nantinya juga terselip di dalamnya, celetukan para karakternya tampak lebih alami dan asik sebagai selingan dari drama yang berpusat pada Joko dan Ayu.

‘Lara Ati’ hadirkan berbagai cast yang sebagian besar diseragamkan untuk berdialog dengan aksen Jawa Timur. Meski hadir sebagai pemeran utama, penampilan antara Bayu Skak dan Tatjana Saphira terasa kurang menggugah, utamanya dari Bayu Skak yang terlihat menjadi dirinya sendiri. Hal menarik justru hadir pada Keisya Levronka, Indra Pramujito, Benidictus Siregar, dan Dono Pradana yang dapat membuat film berlatar Malang ini terlihat lebih hidup. Belum lagi dengan kemunculan Cak Kartolo dan Ning Tini sebagai orang tua Joko yang selalu mampu mengocok perut dengan segala dialog pengundang gelak tawanya.

Seperti ‘Yowis Ben’ yang hadir beberapa tahun lalu, Bayu Skak tetap mengemas ‘Lara Ati’ dengan beberapa lagu bahasa Jawa sebagai benang merah dari main plot di dalamnya. Hadir dengan musik bernuansa indie-Jawa mendorong penonton untuk sing-along yang didukung dengan scene menarik seiring pemutarannya.

Berbeda dengan ‘Yowis Ben’ dan beberapa sekuelnya, ‘Lara Ati’ muncul dengan production value yang jauh lebih besar. Hal tersebut dapat dilihat dari visualnya yang cenderung colorful dengan sinematografi lebih baik. Walau begitu, hadirnya CGI pada salah satu sequence di dalamnya terasa berlebihan, menjadikannya kurang appealing meski screen time-nya tidaklah lama.

Pada akhirnya, ‘Lara Ati’ mencurahkan concern Bayu Skak mengenai quarter-life crisis yang dialami berbagai orang. Meski didukung dengan komedi ala Ludruk dan dialog beraksen Jawa Timur yang dekat dengan masyarakat, narasinya ditutup dengan cara yang kurang menyentuh layaknya beberapa film drama Indonesia yang sudah-sudah.

Big Night! Big Night!

Big Night! Review: Tragicomedy yang Merekam Realitas Sosial Kaum Miskin Filipina

Film

Apakah James Bond Harus Selalu Kulit Putih?

Culture

avatar remastered 2022 avatar remastered 2022

Avatar Review: Masih Relevan untuk Penonton Masa Kini

Film

The Outsider Review The Outsider Review

10 Film Hollywood dengan Estetika Jepang

Cultura Lists

Connect