Connect with us

Entertainment

Kilas Balik Trilogi Baru Star Wars: Kehancuran Sebuah Franchise

Trilogi penuh problematis dan perpecahan antar fandom Star Wars.

“Star Wars” adalah salah satu bentuk nyata dari fenomena pop-culture. Hampir setiap generasi mungkin mengenal “Star Wars”. Baik yang masa kanak-kanak atau remaja di era trilogi pertama, trilogi prekuel dan yang terakhir ada trilogi terbaru.

Trilogi pertama tentu diasumsikan untuk anak dan remaja di akhir 70an, trilogi prekuel bagi mereka generasi 90an dan trilogi terbaru dimaksudkan untuk meraih generasi paling akhir yaitu Gen-Z.

Star Wars: A New Hope

Star Wars: A New Hope (Lucasfilm)

45 tahun yang lalu, tepatnya tahun 1977, George Lucas menciptakan “Star Wars: A New Hope”. Perilisannya tidak semulus itu, terutama karena banyak publik yang meragukan kemampuan George Lucas dalam menciptakan film fiksi ilmiah. Studio 20th Century Fox waktu itu juga hampir membatalkan perilisan karena proses produksi yang begitu kacau.

Keraguan publik dan studio pun terbayarkan ketika “Star Wars: A New Hope” begitu laris bahkan menjadi salah satu film pertama yang berhasil menyentuh angka penjualan lebih dari ratusan juta dolar pada masa itu.

Setelah itu George Lucas merilis dua sekuel film yang tak kalah suksesnya yaitu “Star Wars: The Empire Strikes Back” (1980) dan “Star Wars: Return of the Jedi” (1983). Tak hanya film, penjualan merchandise pun menjadi salah satu penunjang kesuksesan “Star Wars” dan munculnya fandom yang kuat dari franchise “Star Wars”. Lucas tidak berhenti di situ, ia pun merilis trilogi prekuel yang rilis pada tahun 1999 (“The Phantom Menace”), 2002 (“Attack of the Clones”) dan 2005 (“Revenge of the Sith”).

George Lucas dan Darth Vader

George Lucas & Darth Vader

Di tahun 2012 terjadi peristiwa yang menghebohkan ketika George Lucas akhirnya menjual rumah produksinya LucasFilm kepada The Walt Disney Company. Keputusan tersebut menimbulkan pro dan kontra, bahkan fandomnya pun menilai George Lucas sudah membuang anak-anaknya. Dilansir dari Guardian Jett Lucas, anak dari George Lucas, mengatakan bahwa ayahnya merasa hancur ketika harus menjual “Star Wars” ke Disney.

Setelah perdebatan yang panjang akhirnya Disney mengumumkan bahwa “Star Wars” akan memiliki trilogi baru yang akan digarap oleh J.J Abrams, Rian Johnson dan Colin Trevorrow. Dilansir dari Collider, George Lucas mengatakan bahwa ide yang ia kembangkan untuk trilogi terbarunya tidak digunakan oleh pihak Disney dan ia sama sekali tidak tahu proses kreativitas dalam pengembangan trilogi terbarunya itu.

Carrie Fisher, Rian JOhnson dan Mark Hamill

Carrie Fisher, Rian Johnson & Mark Hamill

Trilogi “Star Wars” dimulai dari film “The Force Awakens” yang rilis pada tahun 2015. J.J Abrams sebagai sutradara sekaligus penulis yang dibantu oleh Lawrence Kasdan dan Michael Arndt. Kemudian Rian Johnson meneruskan di film “The Last Jedi” (2017). Colin Trevorrow yang harusnya menjadi sutradara trilogi penutup memutuskan mundur setelah terjadi perbedaan kreativitas dengan pihak Disney. J.J Abrams kembali dan merilis ”The Rise of the Skywalker” pada tahun 2019.

Sedari awal trilogi baru rilis, banyak pro dan kontra antara fandom “Star Wars”. Di satu sisi menganggap trilogi barunya memberikan nuansa yang sama ketika perilisan “A New Hope” tapi di lain pihak trilogi baru seperti menghancurkan nama besar “Star Wars”.

Kita akan membahas bagaimana trilogi “Star Wars” sebenarnya, apakah memang menghancurkan franchise atau justru memang menjadi “Star Wars” yang lebih baik dari sebelumnya.

The Force Awakens

Cerita yang lemah dan kurang magis seperti trilogi sebelumnya

Pertama-tama, perlu digaris bawahi bahwa cerita dari trilogi “Star Wars” pertama maupun trilogi prekuel tidaklah sebrilian itu tapi ada suatu momen yang menjadikan “Star Wars” begitu ikonik dan akan selalu dikenang.

Sebelum “Star Wars”, sudah ada film fiksi ilmiah lain yang memberikan cerita begitu brilian seperti “2001: A Space Odyssey” (1968) ataupun “The Day the Earth Stood Still” (1958). “Star Wars” sebagai cerita opera luar angkasa memberikan premise yang sederhana bahwa ada pihak baik dan pihak buruk. Ada pahlawan dan juga ada sosok penjahat yang keji.

George Lucas mampu membungkus hal yang sederhana tersebut menjadi sesuatu yang fenomenal lewat karakter yang ikonik seperti Luke Skywalker, Han Solo, Chewbacca, Princess Leia dan tentu saja Darth Vader.

George Lucas juga menciptakan semesta baru yang begitu luas hingga terasa bahwa semesta dalam film “Star Wars” seperti alam semesta di dunia nyata. George Lucas juga mampu menjadikan falsafah Jedi menjadi suatu falsafah baru yang bisa diaplikasikan dalam dunia nyata.

Ketika George Lucas menciptakan trilogi prekuel, magisnya memang tidak seperti trilogi pertama. Bahkan banyak pula yang menghujat (ingat Jar-Jar Binks). Hanya saja George Lucas berhasil membangun pondasi yang lebih kuat untuk semesta “Star Wars”. Bagaimana politik yang melingkupi Republik Galaktika begitu kompleks (meski perlu diakui banyak dialog yang begitu aneh).

Trilogi baru di bawah Disney dan dibantu oleh J.J Abrams dan Rian Johnson justru terasa carut marut. “The Force Awakens” dimulai dengan premise bahwa Luke Skywalker telah menghilang. Tentu dengan premise tersebut akan memicu adanya rasa penasaran akan seperti apa “The Force Awakens” dibawa oleh J.J Abrams. Hal itu ternyata dimaksudkan J.J Abrams untuk menciptakan karakter baru yaitu Rey.

Rey merupakan pemulung dari planet Jaku. Rey digambarkan sebagai perempuan biasa yang bertahan hidup dengan mencari onderdil dari bangkai pesawat dan juga karakter Finn sebagai mantan stromtrooper yang membelot dan kabur dari the First Order.

Dari sini sebenarnya sudah memberikan sinyal bahwa film “The Force Awakens” akan menjadi sekuel yang menarik. Sayangnya seiring berjalannya waktu film tersebut justru terasa seperti soft-reboot dari “A New Hope”. Beberapa momen yang terjadi di “A New Hope” dikemas ulang dalam bentuk baru dan dengan tokoh yang baru. Bagi fandom yang mengharapkan adanya fan service tentu akan menjadi suatu kesenangan tersendiri tapi bagi fandom yang mengharapkan cerita yang segar hal ini menjadi masalah besar.

“The Last Jedi” (2017) tidak lagi digarap oleh J.J Abrams. Kursi penyutradaraan berpindah ke Rian Johnson. Berbekal sebagai sutradara sekaligus penulis yang membuat gebrakan lewat film “Brick” (2005), “Looper” (2012) dan beberapa episode terbaik di serial “Breaking Bad” (2008 – 2013), fans memiliki harapan terbesar ke Rian Johnson. Apalagi melihat J.J Abrams yang menggiring “The Force Awakens” seperti soft-reboot. Hasilnya, film “The Last Jedi” justru semakin memisahkan di antara fandom “Star Wars”.

The Last Jedi

Perlu diakui bahwa “The Last Jedi” memang memberikan arahan cerita yang baru dan tidak terlihat seperti seri sebelumnya. Hanya saja karena “baru” ini mengakibatkan adanya kebingungan kepada penontonnya. Terutama perlakuan kepada karakter Luke Skywalker.

Mark Hamill sendiri mengungkapkan kekecewaan dengan cerita yang disajikan di “The Last Jedi”. Luke Skywalker justru diperlihatkan sebagai orang tua yang penuh amarah hingga akhirnya digiring ke akhir yang tidak sesuai harapan. Meski beberapa adegan dalam film “The Last Jedi” terkesan memorable tapi hal tersebut tidak sebanding dengan keseluruhan ceritanya.

J.J Abrams akhirnya kembali menyutradarai di penutup trilogi “Star Wars” setelah terjadi konflik antara Colin Trevorrow dengan Disney. Beberapa fans merasa bersyukur karena akhirnya “Star Wars” akan kembali jalurnya. Hasilnya, “The Return of the Skywalker” yang rilis pada tahun 2019 justru mendapat cercaan yang lebih parah daripada “The Force Awakens”. Terutama karena fan service yang berlebihan tapi tidak begitu memberi dampak besar.

Adanya anggapan pertempuran terakhir seperti meniru konsep dari “Avengers: Endgame” (2019). “The Rise of the Skywalker” bahkan meraih nilai terendah di situs Rotten Tomatoes dibanding dua seri pendahulunya.

Soft-reboot dan motivasi yang kurang jelas dalam cerita

J.J Abrams bagi beberapa penonton mungkin lebih dikenal sebagai sutradara yang mampu memanipulasi materi lama tapi terlihat seakan-akan baru atau bisa disebut juga sebagai soft-reboot. Meski karya J.J Abrams masih terbilang sedikit tapi mampu memberikan ciri khas. “Star Trek” (2009) meski bukan murni tulisan J.J Abrams, ciri khas fan service begitu terlihat. Meskipun “Star Trek” disebut sebagai film reboot, pada akhirnya flm itu tetap menunjukkan karakter Spock lama.

“The Force Awakens” menjadi langkah awal yang terbilang baik dan kurang dalam satu waktu. Terbilang baik karena penyajian fan service dan premise baru yang berdampak pada banyak teori-teori dari fandomnya terkait dengan premise baru tersebut. Karakter Rey sendiri sebenarnya jawaban atas pertanyaan minimnya karakter perempuan di dalam “Star Wars”. Memunculkan kembali konsep Darth Vader dalam bentuk Kylo Ren dan dibuat sekompleks mungkin hingga terlihat seperti penerus paling sah dari Darth Vader. Interaksi antara Kylo dan Rey memang menarik untuk ditunggu apa yang akan terjadi seterusnya.

Pertanyaan yang timbul di antara penonton adalah apa motivasi yang ada di film “The Force Awakens”. Adanya The First Order untuk mengembalikan kejayaan Galactic Empire masih terasa mengambang motivasinya. Apakah mereka memang berniat untuk menguasai galaksi seperti yang dilakukan pendahulunya? Seperti yang kita tahu Galactic Empire di Trilogi pertama pun sebenarnya masih meninggalkan banyak celah untuk dijadikan sebagai kerajaan yang jahat. Meski motivasi mereka terlihat jelas yaitu menguasai galaksi dan menghancurkan Jedi.

The First Order justru seperti hanya sebatas ucapan saja bahwa mereka seperti perlambangan fasis di era modern tapi sesungguhnya hanya gertakan sambal saja. Penjahat yang sebenarnya tidak pernah menyatakan dirinya jahat, tapi mereka memiliki alasan tersendiri untuk mewujudkan impiannya walau di mata orang lain hal tersebut menyimpang dari sistem sosial.

The First Order

Ambisi Snoke sebagai pemimpin The First Order hanyalah rasa takut terhadap Luke Skywalker. Bagi Snoke selagi masih ada Luke Skywalker maka masih ada harapan bahwa mereka (Resistance) akan mengalahkan dirinya.

Rian Johnson mungkin masuk dalam kategori pemecah harmonisasi di trilogi baru “Star Wars”. Setelah J.J Abrams membangun pondasi di “The Force Awaken”, Rian Johnson justru menghancurkan pondasi Abrams dan membuat “The Last Jedi” seperti jauh dari “The Force Awaken”. Seakan-akan banyak teori dari para fandom hancur begitu saja dalam film “The Last Jedi”. Rian justru memberi arah yang berbeda jauh dengan seri sebelumnya.

Segala teori yang muncul dari film “The Force Awakens” seperti siapa orangtua Rey? Siapa sebenarnya Rey? Siapa Snoke? Ada apa dengan Luke Skywalker? Semua pertanyaan tersebut seperti diselesaikan semudah itu di “The Last Jedi”. Hal tersebut yang mengundang amarah bagi para fans dan menganggap “The Last Jedi” seperti tidak ada komunikasi yang jelas antara J.J Abrams dan Rian Johnson. Rian seakan hanya melihat garis besar film sebelumnya dan membuat cerita sesuai visinya tapi tidak memperdulikan semesta yang dibangun di film sebelumnya.

Dan semua kekacauan itu ditutup dengan penutup trilogi yang bahkan memberikan kerusakan lebih parah dari sebelumnya. “The Rise of the Skywalker” oleh J.J Abrams akhirnya seperti menganggap apa yang terjadi di “The Last Jedi” tidak ada. Ada anggapan J.J Abrams seperti membalaskan dendam kekecewaan para fansnya karena film “The Last Jedi”. Hanya saja setelah kehilangan tokoh jahat di “The Last Jedi”, yang dilakukan oleh J.J Abrams adalah mengembalikan tokoh jahat di seri sebelumnya, Kanselir Palpatine.

the Rise of the Skywalker

Kehilangan motivasi dalam penceritaan ini berdampak besar dengan keberlangsungan tiap karakter yang ada di “Star Wars” trilogi baru. Rey ternyata masih memiliki darah dari Palpatine yang tentu saja meruntuhkan teori di “The Last Jedi” bahwa semua orang bisa menjadi Jedi.

Kylo yang sebenarnya dikonstruksikan dari film sebelumnya sebagai the next Darth Vader justru berubah menjadi pribadi yang kebingungan dengan dirinya sendiri. Penonton bahkan sudah tidak memperdulikan lagi dengan yang terjadi pada Finn.

Big Night! Big Night!

Big Night! Review: Tragicomedy yang Merekam Realitas Sosial Kaum Miskin Filipina

Film

House of the Dragon (Episode 6) House of the Dragon (Episode 6)

House of the Dragon (Episode 6) Review: The Princess and the Queen

TV

Apakah James Bond Harus Selalu Kulit Putih?

Culture

avatar remastered 2022 avatar remastered 2022

Avatar Review: Masih Relevan untuk Penonton Masa Kini

Film

Connect