Connect with us
indra lesmana
Photo via Sidartaimagingstudio.com

Music

Indra Lesmana: Little Things from the Heart Album Review

Apakah api itu masih menyala dalam jiwa Indra Lesmana?

★ ★ ★ ★ ★
★ ★ ★ ★ ★

Selama nyaris empat dekade lamanya, Indra Lesmana pernah menjadi artis/produser/instrumentalis paling produktif di Indonesia. Dengan jam terbang yang telah menjangkau Amerika Serikat, Australia, Jerman, dan Jepang, siapakah artis Indonesia–dulu dan sekarang–yang bisa mengatakan bahwa ia telah menggarap lebih dari 65 album sepanjang kariernya? Mungkin hanya Indra Lesmana.

Terlepas dari prestasi nan mencengangkan tersebut, bahkan seorang Indra Lesmana tidak luput dari yang namanya “krisis relevansi”. Music lovers yang kini didominasi oleh pemuda-pemudi milenial dan Gen Z mungkin lebih mengenal Indra sebagai ‘bokapnya’ Eva Celia dan bukannya sebagai legenda jazz Indra Lesmana. Apalagi, belakangan ini Indra Lesmana tampak lebih tertarik menjalin kolaborasi (ILP, Krakatau Reunion, LLW) atau menjadi instrumentalis (Surya Sewana, 2018) daripada menjadi bintang utama.

Kini, setelah penantian yang cukup lama, Indra Lesmana akhirnya memutuskan untuk kembali menjadi bintang utamanya–melalui Little Things from the Heart.

Little Things from the Heart Indra Lesmana

Satu hal utama yang patut dicamkan terlebih dahulu: Little Things from the Heart adalah album kompilasi lagu klasik dan bukan album orisinil. Oleh karena itu, jangan mengharapkan adanya lagu baru dari seorang Indra Lesmana yang–jujur saja–justru terasa mengecewakan. Terlepas dari itu, bukan berarti album kompilasi lagu klasik sebaiknya dipandang remeh jika diperbandingkan dengan album orisinil. Apabila digarap dengan apik dan kreatif, album kompilasi justru dapat meroket menjadi salah satu mahakarya industri musik (contohnya Yovie And His Friends: IRREPLACEABLE, 2013 dan Detik Waktu: Perjalanan Karya Cipta Candra Darusman, 2018).

Little Things from the Heart terdiri dari karya-karya Indra yang menapak tilas lanskap jazz pop di era 2000-an dan awal 2010-an. Lagu pembuka album “Sedalam Cintamu” langsung mengingatkan music lovers dengan era kebangkitan Jakarta International Java Jazz Festival dan periode ketika Indra Lesmana masih bernaung di stasiun radio FM. “Ingatlah” dan “Kisah Yang Indah” menjadi bentuk nostalgia bagi Indra Lesmana ketika dia menemukan bakat Monita Tahalea untuk pertama kalinya.

“Cerita Kita” seolah-olah mengisahkan titik awal Eva Celia untuk mengikuti jejak ayahanda. “Alternation” dan “Love Life Wisdom” menyegarkan memori pendengarnya akan proyek sampingan Indra Lesmana sebagai personil trio LLW (bersama Barry Likumahuwa dan Sandy Winata). Tentunya, bukan Indra Lesmana jika tidak menghadirkan para frequent collaborator seperti Dira Sugandi (“Love Life Wisdom”) dan Dewa Budjana (“The Rhythm Generation”).

Tidak lupa pula, “Jalinan Kasih” menjadi karya Indra yang paling mendekati mainstream pop di antara semuanya–sekaligus menjadi tribute Indra kepada almarhum Mike Mohede.

Sekarang: titik permasalahannya. Terdapat perbedaan signifikan antara konsep “memperkenalkan diri kembali” dan konsep “mengingatkan akan pribadi masa lalu”. Sayangnya, Little Things from the Heart malah menerapkan konsep kedua. Alhasil, album ini malah seolah-olah menjadi pernyataan bahwa Indra Lesmana PERNAH berkarya dan bukannya MASIH berkarya.

Sebagai contoh, mendengar kejernihan rekaman pada lagu “Ingatlah” dan “Renjana”, patut diragukan apakah lagu-lagu tersebut telah di-remaster atau jangan-jangan hanya sekedar copy-paste dari album aslinya. Selain itu, keputusan Indra untuk tidak me-remake lagu-lagunya juga menjadi pertanyaan tersendiri. Bukankah akan lebih menarik jika “Cerita Kita” dikemas ulang dengan vokal Eva Celia yang kini lebih mantap? Bukankah lebih segar jika “Ingatlah” tidak lagi dibawakan oleh Monita Tahalea kala remaja, tetapi oleh Monita Tahalea yang kini adalah wanita dewasa?

Pada akhirnya, tragedi terbesar dari Little Things from the Heart adalah tidak adanya rendisi baru atas lagu-lagu klasik ini. Bayangkan betapa briliannya jika “Jalinan Kasih” dinyanyikan kembali oleh artis yang juga berbakat (namun lebih kekinian) seperti Tulus atau Andmesh Kamaleng. Bayangkan bila justru Yura Yunita atau Maudy Ayunda yang membawakan “Renjana”. Bahkan, alangkah menariknya jika “Sedalam Cintamu” justru menghadirkan duet antara Indra Lesmana dengan vokalis yang lebih unexpected seperti Ardhito Pramono atau Danilla Riyadi. Tidak adanya kesegaran ini menjadikan lagu-lagu klasik tersebut terasa tidak lagi relevan dengan perubahan zaman.

Sesuai dengan judul album ini, 12 track di dalam album Little Things from the Heart adalah (semoga saja) secuil mungil dari rapsodi panjang seorang Indra Lesmana. Jangan menganggap bahwa apa yang ada di album ini adalah yang terbaik yang Indra Lesmana bisa berikan. Melihat portofolio yang sesungguhnya, justru adalah sesuatu yang membingungkan bahwa Indra Lesmana masih belum menerima Lifetime Achievement AMI Award.

Jangan biarkan api itu padam, Mas Indra. Jangan sampai padam.

IN A NUTSHELL:
+ Little Things from the Heart menjadi napak tilas jazz pop era 2000-an dan awal 2010-an yang cukup menuai rasa rindu
– Tidak adanya elemen yang baru dan segar menjadikan lagu-lagu Indra Lesmana terkesan “dated” dan lawas

TRACK PICKS:
“Sedalam Cintamu”, “Jalinan Kasih”, “Ingatlah”

Click to comment
Advertisement
Cultura Podcast
Connect