Connect with us
Lyodra Indonesian Idol 2020
Lyodra Indonesian Idol sesi ke-10. | ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A/wsj.

Entertainment

Indonesian Idol 2020: Pabrik Bintang Gen Z

Kesuksesan terbesar Indonesian Idol sekaligus menjadi pelajaran berharga: bahwa industri musik Indonesia telah berubah drastis.

Pada hari Senin, 9 Maret 2020 yang lalu, kompetisi menyanyi garis-miring reality show bertajuk Indonesian Idol menayangkan episode terakhir untuk musim ke-10. Dikemas sebagai “Konser Kemenangan” untuk sang juara (Lyodra Ginting, 16) dan runner-up (Tiara Andini, 18), episode tersebut turut menandakan bahwa musim ke-10 dari ajang pencarian bakat yang satu ini telah usai. Rasa-rasanya, sekarang adalah waktu yang tepat untuk melakukan evaluasi.

Mari kita mulai dari pernyataan yang satu ini: musim ke-10 ini adalah musim Indonesian Idol tersukses yang pernah diselenggarakan. Akhirnya, dibutuhkan waktu kurang lebih sepuluh tahun lamanya bagi para produser untuk menemukan resep sukses dalam ‘meracik’ seseorang yang sungguh bisa dikatakan sebagai Idola Tanah Air. Lebih dari itu, musim ke-10 ini juga menjadi potret yang sempurna mengenai bagaimana cara menjadi seorang artis di industri musik Indonesia yang telah berubah drastis.

Berikut ini adalah takeaway points yang dapat dipetik. Suka tidak suka, realita era modern menunjukkan bahwa inilah syarat-syarat yang harus dipenuhi untuk bisa menjadi seorang bintang.

1. Suka tidak suka, yang remaja adalah yang berjaya

Kita telah tiba di dekade baru–dekade yang didominasi oleh pemuda-pemudi Gen Z (kelahiran tahun 2000 ke atas). Oleh karena itu, lebih dari sekedar idola, dekade ini juga membutuhkan seseorang yang bisa menjadi “the voice of a generation”.

Terlepas dari kemampuan vokal dan bakat musikalitas yang tinggi, rasa-rasanya bukanlah sesuatu yang merugikan bahwa Top 3 dari Indonesian Idol musim ke-10 ini (Lyodra, Tiara, dan Ziva Magnolya) berusia 20 tahun ke bawah.

Bila mereka bertiga berpartisipasi di musim-musim yang lalu, mungkin mereka akan langsung dicap sebagai ‘hijau’ dan ‘amatiran’. Ironisnya, jumlah YouTube views yang membludak dan kehadiran mereka di berbagai celebrity vlogs dan variety shows menunjukkan bahwa mereka yang justru berkesempatan paling besar untuk menjadi artis profesional.

Music lovers kini sedang mencari seseorang yang tidak hanya berbakat, tetapi juga relatable. Dan, tidak ada idola yang lebih relatable selain idola yang sebaya dengan music lovers itu sendiri.

2. Suka tidak suka, pecinta musik tidak lagi menginginkan Cinderella. Mereka menginginkan seorang profesional

Melihat kembali semua ajang pencarian bakat sepanjang dua puluh tahun terakhir, seolah-olah ada satu benang merah yang menghubungkan segala macam format dan kemasan: narasi “from-zero-to-hero” adalah yang paling menjual.

Tidak ada yang paling sanggup mendongkrak rating selain ditemukannya Cinderella yang bukan siapa-siapa, sama sekali tidak punya pengalaman dalam bermusik, dan most likely berasal dari kelas ekonomi menengah ke bawah, yang kemudian melejit menjadi “Sang Juara” disusul tangis haru yang memeras mata.

Narasi tersebut terbukti sanggup menjual program televisi. Akan tetapi, narasi tersebut juga terbukti gagal menjual seorang bintang. Rasa-rasanya tidak perlu disebutkan nama-nama Cinderella yang berhasil menjadi “Sang Juara” untuk kemudian menghilang keesokkan harinya.

Musim ke-10 Indonesian Idol ini berbeda. Tidak lagi mencari Cinderella, para produser langsung berburu pemuda-pemudi yang tidak hanya sekedar ‘berbakat’, tetapi juga memiliki paket lengkap yang bisa dijual.

Tidak ada lagi kontestan dengan kisah sedih di hari Minggu. Bahkan, seluruh kontestan Top 15 musim ini memiliki satu kesamaan: memiliki daya tarik, berpengalaman bermusik, berkepribadian unik, memiliki eksistensi di ranah media sosial dan YouTube, dan sangat ambisius. Dengan mencetak idola yang kompeten, maka rating niscaya akan mengikuti.

3. Suka tidak suka, netizen terbukti menjadi juri yang sesungguhnya

Pengalaman pahit sempat dialami oleh panel juri Indonesian Idol musim yang lalu (musim ke-9, yang berhasil mengorbitkan Brisia Jodie, Marion Jola, dan Ghea Indrawari).

Setiap kali juri memberikan kritikan negatif, seluruh channel media sosial milik juri langsung dibanjiri oleh hujatan dari netizen dan penggemar berat kontestan yang bersangkutan. Suka tidak suka, kita tiba di era ketika opini musisi legendaris seperti Ari Lasso malah kalah kencang dengan suara ketikan pada tombol keyboard HP. Ironis memang, namun begitulah realitanya.

Semenjak musim ke-10 ini diluncurkan, produser mengerahkan usaha 200% untuk menggapai hati para netizen. Setiap kontestan senantiasa diekspos dengan liputan vlog, wawancara live streaming, syuting iklan, segmen gosip pagi, dan shout-out dari akun media sosial artis veteran lainnya. Bahkan di era digital ini, bad publicity is also considered as good publicity. Kini formulanya adalah: bakat + social engagement = BINTANG. Tidak ada kompromi.

Terlepas dari itu, realita ini memiliki pro dan kontra. Dengan netizen sebagai penentu nasib, setiap kontestan langsung memiliki fanbase sendiri yang kemudian menjadi modal mereka untuk menjadi artis profesional. Di lain pihak, realita ini dapat menggoda para calon artis ini untuk mengejar popularitas dan bukannya kualitas. Bukankah seorang artis pendatang baru seharusnya berguru dengan veteran seperti Ari Lasso dan Maia Estianty dan bukannya netizen tanpa identitas?

4. Suka tidak suka, penampilan memang menjadi faktor utama

Menilai kualitas seseorang berdasarkan paras memang adalah sesuatu yang dangkal. Akan tetapi, menjadi seorang bintang sama dengan menanggalkan segala macam kenaifan. Kita tiba di era ketika musik tidak sekedar untuk diperdengarkan. Musik kini hadir untuk dilihat, diperbincangkan, di-retweet, dan di-like.

Artinya, presentasi dari musik itu sendiri patut dipertimbangkan, mulai dari ujung kaki hingga ujung kepala.

Top 15 musim ini jelas adalah jajaran kontestan Indonesian Idol yang paling good-looking, paling fashionable, dan paling stylish yang pernah dicetak sejauh ini. Terlihat sekali bahwa setiap pilihan pakaian, aksesoris, dan bahkan potongan rambut telah diperhitungkan secara matang. Alhasil, mereka tidak hanya tampil dengan presentasi yang menarik, tetapi mereka juga memperkenalkan apa yang menjadi signature style mereka.

Ziva Magnolya tidak bisa lepas dari street style dan hair bun. Tiara Andini selalu hadir dengan girl-next-door look dengan elemen urban. Lyodra Ginting selalu tampak youthful dengan sentuhan avant-garde. Ketiganya mampu menjadi sampul majalah Billboard dan Cosmopolitan Indonesia. Itulah definisi seorang diva. Itulah definisi seorang bintang.

5. Suka tidak suka, kamu harus sanggup menjadi (literally) segala-galanya

Sebelum diumumkan siapa yang menjadi juaranya, persaingan antara Lyodra dan Tiara sangat sengit–dikarenakan keduanya amat sangat mirip. Kemiripan inilah kemudian mencerminkan syarat-syarat yang harus dipenuhi untuk menjadi seorang bintang (yang, ironisnya, terkesan lebih berat daripada syarat-syarat menjadi seorang pemimpin negara).

Untuk menjadi seorang bintang, kamu harus: muda tapi cerdas; sophisticated tapi tidak pretentious; humble tapi karismatik; relatable tapi respectable; selalu fashionable tanpa terkesan mengintimidasi; approachable tanpa terkesan lugu; aktif tanpa terkesan angkuh; menguasai Bahasa Indonesia, Inggris, daerah (dan mungkin sedikit Bahasa Korea); memiliki kecerdasan musik dari ranah Blackpink hingga ranah Didi Kempot; menguasai setidaknya dasar-dasar koreografi; menguasai setidaknya dasar-dasar aransemen dan produksi musik; tahu bagaimana cara membawa diri; tahu bagaimana cara mentertawakan diri; tahu bagaimana cara membaca situasi; dan bahkan tahu bagaimana cara menangis. Be extraordinary, but also ordinary at the same time.

Terlalu ribet? Betul sekali. Akan tetapi, ke-ribet-an itulah yang membedakan seorang bintang dan manusia biasa.

Kesimpulan:

Setelah 10 tahun berlalu, Indonesian Idol telah berevolusi dari reality show dengan rating raksasa menjadi portal untuk memprediksi arah dan haluan industri musik di masa depan. Indonesian Idol telah bergeser dari hiburan bagi penonton TV menjadi pendidikan bagi industri musik secara keseluruhan.

Berkat musim ini, kita semua mempelajari bahwa konsumen menginginkan artis muda, ambisius, yang eksis di media sosial, good-looking, berpotensi memiliki karier internasional, dan yang paling penting: bisa diterima oleh konsumen.

Begitu musim ke-11 dimulai, mari kita lihat idola seperti apa yang negeri ini cari. Hingga saat itu tiba, mari kita amati sejauh mana Lyodra dan kawan-kawan mampu melangkah–dari Studio RCTI menuju arena pertempuran.

1 Comment
Advertisement
Cultura Podcast
Connect