Film

I Can Speak: Drama Komedi yang Membuka Jalan Terungkapnya Fakta Sejarah

Persahabatan tidak biasa antara nenek tua yang sibuk dan seorang PNS ambisius.

“I Can Speak” (2017) merupakan film garapan sutradara kenamaan Korea, Kim Hyun-seok yang pernah mendapat perhatian besar dengan drama “Cyrano Agency” (2010). Film ini membawa sejarah kelam tentang “Comfort Women” atau dalam Bahasa Jepang disebut “Jugun ianfu”, istilah yang dipakai untuk merujuk pada para perempuan yang dipaksa menjadi budak seksual Tentara Jepang pada masa Perang Dunia II.

Film yang mengantarkan nama aktris veteran Korea, Na Moon-Hee meraih banyak penghargaan sebagai Best Actress pada empat ajang penghargaan sinema Asia, diantaranya Blue Dragon Film Awards 2017 dan BaekSang Arts Awards 2018 ini tayang perdana pada 21 September 2017, dan berhasil menduduki puncak Box Office pada minggu pertama penayangannya.

I Can Speak

Belajar Bahasa Inggris untuk Bersuara di Hadapan Dunia

Film ini diawali dengan pertemuan seorang Pegawai Negeri Sipil ambisius bernama Park Min-Jae (Lee Je-Hoon), dan nenek Na Ok-Bun (Na Moon-Hee) yang selalu melaporkan segala tindak pelanggaran sekecil apapun di sekitar tempat tinggalnya. Ia setidaknya telah mengajukan komplain untuk 8.000 pengaduan sipil, dari mulai laporan tentang orang asing mencurigakan, sampai pelanggaran garis batas papan reklame yang menghadang jalur pedestrian.

Seiring perjalanan waktu persahabatan antara Park Min-Jae dan Na Ok-Bun terjalin, ambisi nenek Ok-Bun untuk bisa berbicara dalam Bahasa Inggris dan kecintaan adik Min-Jae, Park Young-Jae (Sung Yoo-Bin) pada masakan nenek Ok-Bun membuat keduanya mulai akrab.

Cerita “I Can Speak” yang pada awalnya bergulir manis dan menghangatkan di paruh awal film, berubah menjadi lebih emosional saat tujuan awal nenek Ok-Bun belajar Bahasa Inggris ternyata lebih dalam dari masalah personal sekedar ingin bisa berbicara dengan adiknya yang terpisah jauh di Los Angeles, namun mengarah ke tujuan yang lebih besar yaitu menyangkut kisah kelamnya pada masa lalu yang pada akhirnya mendapatkan simpati seluruh penduduk Korea.

Film yang Membantu Memahami Sejarah

Saat berbicara tentang sinema komersial berbasis isu atau sejarah, ada garis tipis antara eksplorasi cerita dan pemeriksaan data-data sejarah. Sinema Korea banyak memakai format ini untuk menghadirkan fakta sejarah yang dulu sempat senyap dipermukaan kemudian ditampilkan kembali dengan segala cara agar bisa membangun opini-opini yang pernah terbungkam.

Industri sinema jenis ini melaju perlahan namun selalu muncul dalam selang beberapa tahun belakangan, sebut saja “1987: When The Day Comes” (2017) atau “A Taxi Driver” (2017) yang membawa sejarah Korea dalam wahana film yang megah, dengan detail perlawanan seluruh komponen masyarakat kedua film tersebut bisa menyuarakan tindak ketidakadilan yang pernah terjadi di masa lalu.

Walaupun cara ini terbilang cukup berani, namun tidak ada yang bisa menyentuh dan menggugat fakta sejarah yang dibuat samar dalam media seni. Hanya negara yang sudah berdamai dengan sejarah kelamnya yang bisa mengizinkan film-film seperti ini ditayangkan.

“I Can Speak” berdiri di sisi sedikit berlainan dengan kedua film tersebut namun masih ada di jalur yang sama, narasi yang dibangun adalah melawan kekejaman tentara jepang yang notabene merupakan pengungkapan kesalahan pemerintahan negara lain, tidak heran jika pada akhirnya film ini mendapat sambutan hangat dari seluruh penduduk Korea.

Drama Komedi yang Berbelok Tajam pada Pengungkapan Sejarah Kelam

Jika dilihat dari segi alurnya “I Can Speak” adalah jenis film yang kurang mengeksplorasi penyajian konflik utamanya. Pada paruh pertamanya, film ini terbilang lebih cukup menyenangkan dengan drama komedi yang berpusat pada hubungan persahabatan tidak biasa antara nenek tua dan seorang pemuda awal umur 30an.

Tidak ada teka-teki yang mengarah pada isu “Comfort Women” kecuali beberapa adegan dangkal saat Ok-Bun bertemu dengan sahabat lamanya (sesama penyintas kekejaman Tentara Jepang) yang sedang sakit-sakitan. Baru setelah film melaju ke babak akhir, konflik utamanya dipasang dan secara terburu-buru seperti ingin segera diselesaikan.

Namun, walaupun dirancang dengan cara demikian film ini tetap bisa dinikmati dan menjadi salah satu rekomendasi film dengan ending yang bisa diterima semua orang. Tidak heran jika pada akhirnya “I Can Speak” terpilih untuk dukungan produksi film keluarga dari Korean Film Council.

Yaya Badriya

Contributor of Cultura Magazine. Sometimes I plant words and make them grow.

Share
Published by
Yaya Badriya