Connect with us
Gie Review

Film

Gie Review: Melihat Sejarah dari Perspektif Soe Hok Gie

Salah satu film Indonesia terbaik dengan muatan sejarah yang idealis.

★ ★ ★ ★ ★
★ ★ ★ ★ ★

Gie merupakan salah satu film terbaik yang pernah masuk di bioskop Indonesia pada tahun 2005 silam. Disutradarai oleh Riri Riza dan diproduseri Mira Lesmana, film drama isu sosial ini dibintangi oleh salah satu aktor terbaik tanah air, Nicholas Saputra sebagai Soe Hok Gie.

Kualitas film Gie pun telah dibuktikan dengan diraihnya Piala Citra dalam ajang Indonesia Film Festival 2005 sebagai Best Film. Film ini diadaptasi dari buku bertajuk “Catatan Seorang Demonstran” yang merupakan publikasi dari buku harian Soe Hok Gie sendiri.

gie review

Miles Films

Gie adalah seorang pemuda keturunan Tionghoa yang tubuh di bawah kepresidenan Soekarno, hingga transisi menuju masa Order Baru. Selain suka menonton film dan mendaki gunung, Gie adalah sosok idealis yang sadar hukum, namun tak berpihak pada sosok pemimpin manapun. Memiliki wawasan luas dan pandai menulis, Gie mengambil bagian dalam gerakan menurunkan Soekarno dari jabatannya sebagai orang nomor satu di Indonesia.

Sejarah Politik Indonesia dan Pemikiran Soe Hok Gie yang Idealis

Bicara soal sejarah perkembangan politik di Indonesia pada masa transisi kepemimpinan Presiden Soekarno menuju Soeharto, ada gap besar antar golongan di Indonesia. Mulai dari pihak yang bergabung dengan PKI (Partai Komunis Indonesia), masyarakat yang masih terbuai dengan karisma Soekarno, hingga golongan ormas (organisasi masyarakat) yang menginginkan perubahan. Gie adalah sosok idealis yang memiliki pendirian sendiri dan cenderung netral.

Plot cerita yang disajikan juga kronologis dengan keterangan tahun yang jelas. Ada dua babak utama dalam film ini. Pertama adalah masa remaja Gie yang akan mengajak kita melihat bagaimana pemikiran dan cara pandang sosok ini terbentuk sebelum mengambil bagian besar dalam masyarakat.

Gie muda diperankan oleh Jonathan Mulia. Casting yang sangat sempurna karena Jonathan yang saat itu masih muda memiliki fitur wajah yang cocok dengan Nicholas Saputra sebagai Gie sebagai mahasiswa.

gie

Miles Films

Memasuki babak kedua, kita akan melihat bagaimana gaya hidup dan pemikiran Gie mengalami perkembangan yang natural. Sebagai mahasiswa yang lebih bebas, Gie tak hanya melihat dunia melalui buku, Ia pun berkesempatan untuk menonton film dan naik gunung bersama teman-temannya.

Porsi antara kehidupan pribadi dan isu sosial politik di film ini bisa dibilang cukup seimbang. Karena Gie sendiri sebetulnya tidak bersinggungan langsung dengan momen besar jatuhnya masa pemerintahan Soekarno. Kita akan lebih banyak melihat pergerakan “underground” yang tidak terlalu diekspos secara besar-besaran, berdampingan dengan kisah hidup Soe Hok Gie.

Karena buku “Catatan Seorang Demonstran” lebih penuh dengan pemikiran dan ideologi yang ada di kepala Gie saja, film ini diberi bumbu fiksi yang cukup banyak untuk dramatisasi. Salah satu hal yang disayangkan karena membuat nilai akurasi film ini jadi berkurang. Meski sutradara telah mengklaim bahwa film ini merupakan perpaduan antara interpretasinya dengan materi adaptasi buku.

Produksi Film yang Menghidupkan Latar Tahun 1960-an

Salah satu nilai plus dari film ini adalah produksinya yang totalitas. Berlatar pada tahun 1960an, Gie benar-benar menghadirkan visualisasi kota Jakarta dari masa tersebut yang nyaris sempurna.

Mulai dari penampakan jalan, gedung-gedung, kendaraan umum, hingga rumah latar rumah bergaya kuno yang sangat otentik. Begitu juga dengan makeup dan desain kostum, hingga penulisan dialog, setiap adegan secara konsisten menghadirkan produksi yang maksimal.

Sinematografi yang diaplikasikan juga semakin mendukung nuansa Indonesia lawas yang sangat kental. Dengan filter warna hangat sephia dan kualitas gambar yang raw, membuat kita lupa bahwa film ini diproduksi pada tahun 2000-an. Namun, konsep visual dan editing yang disematkan memiliki gaya yang cukup modern dan artistik.

Ada beberapa transisi yang dihadirkan secara absurd. Begitu juga dengan potongan mimpi Gie yang diulang, memberikan overshadowing sebagai bekal penutup film yang melankolis dan indah.

Sosok Soe Hok Gie yang Memiliki Pemikiran Menarik

Gie merupakan media publikasi yang sempurna untuk menimbulkan kesadaran sejarah pada generasi pada masanya. Memilih aktor Nicholas Saputra merupakan pilihan tepat secara kualitas akting dan kebutuhan komersil. Nicholas sendiri sebelumnya populer terlebih dahulu melalui film Ada Apa Dengan Cinta? (2002) sebagai sosok remaja rupawan yang dingin, Rangga. Lepas dari metode promosi tersebut, sosok Soe Hok Gie pahlawan yang bisa dibilang sangat relevan dengan generasi muda Indonesia di era modern.

Gie pada dasarnya sama seperti kita; pemuda yang menyukai film, seni pertunjukan, dan naik gunung. Dianugerahi dengan kecerdasaan, pemikiran yang idealis, dan keberpihakan pada masyarakat tertindas, membuat Gie merasa harus memiliki peran dalam perubahan. Ia menghormati Soekarno sebagai the founding father, Gie tak lantas selalu memihak pada sosok tersebut. Ia tak ragu mengkritik pemerintah jika merasa ada yang salah dalam kebijakan dan ideologi yang dianut.

Namun, hal itu juga tidak membuat Gie lebih mendukung pihak atau golongan mayoritas lainnya. Ketika semua orang sibuk melihat siapa yang berkuasa, Gie merupakan salah satu sosok yang sadar apa masalah sebetulnya; nasib masyarakat yang semakin sulit karena pemerintah yang korupsi. Ia tak mau melabeli diri sebagai Soekarnois, pemerjuang Orde Baru, maupun berusaha masuk dalam golongan tertentu, Soe Hok Gie hanya percaya pada apa yang Ia yakini benar.

“Lebih baik diasingkan daripada menyerah pada kemunafikan”

Pada akhirnya, Ia memang menjadi bagian dari dimulainya Order Baru. Gie memang bukan pahlawan yang mewujudkan kehidupan Indonesia kearah yang lebih sejahtera, namun Soe Hok Gie merupakan pahlawan yang menginspirasi generasi muda untuk memiliki prinsip dan intelektual tinggi sebelum terjun dalam perjuangan sosial politik. Sekarang kita sudah bisa menonton film Gie di Netflix.

Click to comment
Advertisement
Cultura Podcast
Connect