Film

Ghost Writer 2 Review: Film Indonesia dengan Nuansa Horor Thailand

Menaruh drama dan komedi sebagai elemen utamanya, Ghost Writer 2 seakan melupakan jati dirinya sebagai film horor.

Bagi penikmat horor, sinema horor Thailand belakangan ini kerap meleburkan elemen komedi dalam membangun premis di dalam setiap judul filmnya. Namun, hal itulah yang justru membuat sensasi horornya menjadi tenggelam di tengah segala drama dan jenakanya. Seperti itu pula yang terjadi pada film ‘Ghost Writer 2’.

‘Ghost Writer 2’ merupakan film komedi horor dari Starvision Plus yang disutradarai oleh Muhadkly Acho. Dibintangi oleh Tatjana Saphira, Deva Mahenra, dan Endy Arfian, film ini melanjutkan kisah Naya yang dikenal sebagai penulis novel horor best-seller walau membuatnya dicap sebagai paranormal. Tak lama kemudian, ia harus membantu satu hantu lagi bersama Vino, yang kali ini sudah menjadi hantu karena kecelakaan kala syuting.

Dari segi narasi, ‘Ghost Writer 2’ masih mengusung premis yang kurang lebih serupa dengan prekuelnya. Penonton akan kembali dihadapkan dengan Naya yang harus membantu hantu dalam mencari kedamaian di alam baka. Secara sistematika penceritaan pun bisa dibilang sama, di mana hal yang benar-benar membedakan hanya dari central character-nya.

Dalam elemen drama dan komedinya, ‘Ghost Writer 2’ memberikan major upgrade dari sang prekuel. Perjalanan Naya dalam memenuhi permintaan terakhir para hantu di sekitarnya, yang sekaligus menjadi refleksi dengan dirinya dan beberapa orang terdekatnya. Hal ini yang membuatnya terasa lebih mengharukan sepanjang durasinya.

Ghost Writer 2 Review

Tak hanya itu, sekuel dari ‘Ghost Writer’ ini juga tampil dengan komedi yang terasa lebih pol-polan. Segala selipannya sangat mudah untuk membuat penonton tertawa lepas, walau masih ada beberapa momen maupun dialog komedinya terasa menyerempet ke elemen dewasa yang harusnya bisa lebih teenage-friendly.

Akan tetapi, maksimalnya penggunaan elemen drama dan komedi justru membuat eksekusi horornya terlihat sangat minimalis. Meski dikemas dengan efek-efek horor yang cukup niat dan menggelegar, namun momen-momen tersebut malah mengundang gelak tawa. Inilah yang membuat ‘Ghost Writer 2’ seakan lupa dengan jati dirinya sebagai film horor yang tetap diminta untuk menebar ketakutan sepanjang penayangannya.

Pada departemen akting, Tatjana Saphira tetap tampil baik layaknya di ‘Ghost Writer’ 2019 lalu. Akan tetapi, Deva Mahenra yang terasa lebih mencuri perhatian dengan role-nya yang lebih besar dan pembawaannya yang lebih multi rasa. Selebihnya terasa tak terlalu menonjol, terkecuali Annisa Hertami yang tampil cukup baik dan menampilkan potensi besar sebagai pelakon peran dalam industri sinema Indonesia.

Secara teknis, ‘Ghost Writer 2’ tampil dengan production design dan value yang tampak serupa dengan sang pendahulu. Tak ada ada segi teknis yang tampil mencolok, seperti color tone yang cenderung cool, permainan kamera yang terkadang shaky, hingga penggunaan special effect yang masih berlebihan, membuatnya tak terlihat benar-benar di-upgrade.

Akhir kata, ‘Ghost Writer 2’ sejatinya adalah film drama komedi penuh kehangatan dalam petualangan bersama hantu. Embel-embel horor di dalamnya seakan hanya menjadi selipan yang membuatnya justru mengundang tawa sepanjang film.

Galih Dea

Bachelor of Computer Science with interest in content writing. Passionate in movie, game, and technology.

Share
Published by
Galih Dea