Connect with us
Fast X
Cr. Universal Studios

Film

Fast X Review: Kembalinya Dosa Masa Lalu, Bagian Pertama

Beri perspektif baru namun tetap dengan ciri khasnya.

★ ★ ★ ★ ★
★ ★ ★ ★ ★

Dalam setiap aksi selalu saja ada reaksi yang dihasilkan setelahnya. Reaksi ini tidak selamanya bisa kita kendalikan, bahkan bisa jadi memberikan ancaman pada diri dan orang-orang lain di sekitar kita sekarang atau nanti. Singkatnya, ‘Fast X’ yang sedang tayang di bioskop membawa hal tersebut sebagai premis utamanya.

‘Fast X’ merupakan film action produksi Universal Pictures yang disutradarai oleh Louis Leterrier. Menjadi film kesepuluh dalam ‘Fast Saga’, film ini tetap hadir dengan ensemble cast seperti Vin Diesel, Michelle Rodriguez, serta Jason Statham, dengan Jason Momoa dan Brie Larson hadir sebagai cast baru di dalamnya.

Melanjutkan kisah dari ‘F9’, film terbaru ini berkisah tentang Dominic Toretto dan krunya di tengah konflik baru dengan Dante, anak dari Hernan Reyes. Perlahan tapi pasti, Dante berusaha untuk memecah belah kekeluargaan dalam kru Dom, memaksa sang pemimpin ini beraksi kembali demi menjaga keutuhan dari krunya.

Fast X

Secara narasi, premis yang diusung pada ‘Fast X’ tergolong generic mengenai balas dendam keluarga dari antagonis pada sekelompok protagonis. Film ini memang secara terang-terangan memanfaatkan rentetan plot hole yang disajikan dari film-film ‘Fast Saga’, terutama ‘Fast Five’ yang menjadi pondasi utama dalam installment terbaru ini.

Oleh karenanya, menikmati film terbaru pada seri ‘Fast & Furious’ ini tentunya akan lebih menyenangkan bagi penonton yang sudah menikmati franchise “balap liar jadi heist” ini secara keseluruhan demi memahami kontinuitas di dalamnya.

Pembeda narasi dari ‘Fast X’ dibanding film-film lain dalam ‘Fast Saga’ adalah akhirnya. Alih-alih dihadirkan sebagai satu film yang berdiri sendiri, film kesepuluh pada franchise tersebut seakan dihadirkan sebagai bagian pertama dari akhir kisah Dom dan rekan-rekannya. Tak heran, film ini menghadirkan cliffhanger yang sepertinya disajikan demi membangun hype pada dua sekuelnya dan bisa jadi membuat penonton jengah dengan kisahnya yang kelewat overarching.

Meski pada judul-judul awal ‘Fast Saga’ lebih dikenal dengan ciri khas mobil eksotis dan deretan balap liarnya, seri ini berubah drastis semenjak ‘Fast Five’ melalui kecenderungan pada heist serta kejar-kejaran dengan pasukan musuh sebagai penggerak ceritanya. Ciri khas baru ini yang dipertahankan pada ‘Fast X’, di mana penonton akan banyak menikmati adegan kejar-kejaran para protagonis melawan pasukan musuh dengan segala kegilaannya.

Fast X

Selain itu, franchise ini terkenal dengan tidak realistisnya deretan aksi pada scene-nya. ‘Fast X’ tetap mengusung hal ini dan memberikan kegilaan pemicu adrenalin sepanjang 141 menit pemutarannya.

Aksi-aksi di luar akal sehat seperti mobil yang terikat jaring besi namun masih bisa mengelak, mobil bersenjatakan meriam portabel melawan puluhan mobil SUV di tanah bebukitan, hingga mobil yang meloncat dari ketinggian untuk menghindari ledakan besar di jembatan, semua ini disajikan hampir tanpa jeda yang tetap mampu memuaskan penonton.

Sebagai seri yang berkelanjutan, ‘Fast X’ tetap hadir dengan ensemble cast dengan beberapa tambahan dalam kisahnya. Kru Dom tetap dengan ciri khasnya masing-masing serta chemistry menghibur seiring film, memberikan keasikan bagi penonton layaknya film-film sebelumnya. Hal yang membuat film ini menarik adalah kehadiran Jason Momoa sebagai Dante Reyes, sang antagonis utama.

Fast X

Dante Reyes memberi kesegaran dalam film ini, dimana karakter tersebut hadir sebagai villain yang sosiopat dan memiliki dendam sebagai dorongannya kala mengincar Dom beserta kru dan orang-orang terdekat mereka. Hal tersebut membuat eksistensi Dante Reyes ini bermakna, membuat segala aksinya terasa justified walau memang backstory dari sang karakter tampak agak disamarkan sebagai bentuk cliffhanger untuk climax dari franchise.

Dari segi teknis, ‘Fast X’ tentu hadir dengan lebih megah. Berbekal sinematografi fast-paced yang lebih steady dan scoring yang menghentak cukup berhasil dalam membangun momen-momen aksinya. Tak hanya itu, set design berlatarkan ragam landmark pada berbagai negara serta didukung penggunaan special effects yang sebagian besar berhasil melebur dengan scene membuat cinematic experience-nya menjadi berlipat ganda serunya.

Akhir kata, ‘Fast X’ adalah awal dari akhir ‘Fast Saga’ yang cukup memberikan kesegaran berkat hadirnya Jason Momoa sebagai antagonis utama di dalamnya.

Seperti biasa, jangan mengharapkan elemen realistis dalam film ini, karena semua adegan pemicu adrenalin penuh keseruan di dalamnya akan mengguncang nalar penonton dan itu yang membuat film ini worth untuk dinikmati di layar lebar. Walau begitu, cliffhanger yang tersaji pastinya akan membuat penonton semakin jenuh karena cerita franchise-nya yang tak kunjung usai.

Oppenheimer & Maestro Oppenheimer & Maestro

Oppenheimer & Maestro: Film Biopik yang Miliki Banyak Kesamaan

Entertainment

Tiger Stripes Tiger Stripes

Tiger Stripes Review: Body Horror Pubertas Akibat Minim Edukasi

Film

What to Stream on Valentine’s Day

Cultura Lists

Orion and the Dark Orion and the Dark

Orion and the Dark Review: Eksplorasi Keindahan dalam Kegelapan

Film

Connect