Connect with us
Everything Sucks Review
Netflix

TV

Everything Sucks Season 1 Review

Menceritakan problematika anak remaja tahun 1996.

★ ★ ★ ★ ★
★ ★ ★ ★ ★

Mungkin sudah bukan hal yang baru lagi bagi Netflix untuk menayangkan serial dengan tema kehidupan remaja. Stranger Things, Riverdale, dan 13 Reasons Why adalah contoh beberapa judul serial original Netflix bertema remaja yang sangat sukses. Namun, ada satu serial lainnya yang terlupakan, yaitu Everything Sucks.

Tidak seperti cerita Stranger Things yang bergenre sci-fi atau punya kisah yang berat seperti 13 Reasons Why, Everything Sucks memilih genre drama komedi dengan cerita yang sangat ringan dan menarik untuk diikuti. Everything Sucks merupakan karya dari Ben York Jones dan Michael Mohan yang dirilis pada 16 Februari 2018.

Everything Sucks Review

Netflix

Everything Sucks bercerita tentang banyaknya problematika yang dirasakan oleh anak-anak remaja dengan latar waktu tahun 1996. Berawal dari Luke O’Neil (Jahi Winston) dan kedua sahabatnya, yaitu McQuaid (Rio Mangini) dan Tyler Bowen (Quinn Liebling) yang baru saja memasuki jenjang Pendidikan SMA. Luke dan kedua sahabatnya optimis bahwa kehidupan SMA mereka akan sangat menyenangkan. Namun, ternyata masa remaja tidak semudah yang mereka bayangkan.

Kisah yang membuat kita bernostalgia

Everything Sucks mengambil latar waktu tahun 1996 dan berlatar tempat di sebuah kota bernama Boring, Oregon. Nuansa tahun 90-an sangat lekat dirasakan dalam serial ini karena penggunaan properti-properti yang bisa membuat kita bernostalgia.

Luke dan kedua sahabatnya memutuskan untuk mengikuti klub ekstrakulikuler A/V (Audio-Visual). Pada hari pertama, Luke langsung jatuh cinta pada seorang juru kamera klub A/V bernama Kate Messner (Peyton Kennedy). Ternyata Kate adalah kakak kelas Luke dan merupakan puteri dari kepala sekolah Boring, yaitu Ken Messner.

Kate digambarkan sebagai gadis yang pendiam dan penyendiri, sedangkan Luke digambarkan sebagai anak yang percaya diri dan selalu optimis. Luke memberanikan diri untuk mendekati Kate dengan segala cara. Mulai dari membantu Kate membersihkan kameranya sampai menghadiahi Kate sebuah album Oasis. Namun, kisah cinta Luke tidak selalu berjalan lancar.

Serial bagus dengan penikmat yang sedikit

Kabar mengecewakan datang setelah 2 bulan penayangan Everything Sucks. Tepatnya pada 6 April 2018, Netflix memutuskan untuk tidak meneruskan cerita dari serial ini. Mereka beralasan bahwa jumlah penonton Everything Sucks sangat sedikit dan tidak sebanding dengan usaha dan materi yang dikeluarkan untuk produksi serial tersebut. Tentu saja, hal ini sangat disayangkan karena Everything Sucks mempunyai cerita yang bagus dan tidak kalah dengan serial populer lainnya.

Mungkin alasan Netflix soal usaha dan materi yang tidak sebanding dengan jumlah penonton adalah alasan yang benar. Everything Sucks bukanlah serial yang dibuat asal-asalan. Banyak aktor dan aktris pendatang baru dalam serial ini. Namun, kemampuan akting mereka tidak main-main. Sinematografi dalam film ini juga unik. Beberapa adegan diambil dengan gaya zoom-in dan zoom-out yang kasar khas kamera low budget jaman dulu.

Everything Sucks Review

Netflix

Alur cerita dalam serial ini juga sangat rapi dan penuh dengan kesan dan pesan positif bagi para penonton, khususnya para remaja. Karakter-karakter dalam serial ini mengajarkan kita banyak hal melalui usaha mereka dalam menjalani masa remaja yang tidak selalu menyenangkan dan penuh dengan perubahan.

Everything Sucks memiliki cerita yang sangat menarik dan durasi yang cukup pendek di setiap episodenya. Serial ini sangat direkomendasikan untuk yang menginginkan tontonan ringan namun bermakna.

Click to comment
Advertisement
Cultura Podcast
Connect