Connect with us
Dragon Ball Super: Super Hero Review

Film

Dragon Ball Super: Super Hero Review – Bukan Soal Goku dan Vegeta

Beri spotlight pada Gohan dan Piccolo yang telah lama tertinggalkan.

★ ★ ★ ★ ★
★ ★ ★ ★ ★

Bagi mayoritas penikmat anime, serial ‘Dragon Ball’ hanya berpusat pada Goku dan Vegeta dalam menghempas berbagai musuh pada setiap ceritanya. Walau begitu, masih ada sederet karakter seperti Gohan dan Piccolo yang memiliki banyak potensi, terutama di Cell saga beberapa tahun silam. Hal tersebut yang ingin kembali dihadirkan pada film terbaru dari karya populer Akira Toriyama berjudul ‘Dragon Ball Super: Super Hero’.

‘Dragon Ball Super: Super Hero’ merupakan film terbaru dari lini ‘Dragon Ball Super’ arahan Tetsuro Kodama dan naskah yang ditangani langsung oleh Akira Toriyama. Diisi oleh beberapa seiyuu seperti Masako Nozawa dan Toshio Furukawa, anime ini berfokus pada bangkitnya Red Ribbon Army yang menuntut balas dendam dan ingin kembali menguasai dunia. Piccolo yang mengetahuinya berusaha menghentikannya, secara tak langsung menyeret Gohan untuk kembali bertarung demi Bumi.

Dragon Ball Super: Super Hero

Hal menarik yang hadir dalam ‘Dragon Ball Super: Super Hero’ terletak dari main plot-nya. Alih-alih membebankan semuanya pada Goku dan Vegeta seperti yang sudah-sudah, kisah utama di dalamnya berfokus pada Piccolo, Gohan, dan Red Ribbon Army. Tiga elemen ini terasa sangat nostalgic, terutama bagi penikmat ‘Dragon Ball’ yang mulai jenuh dengan pergumulan tingkat semesta dan timeline.

Gohan dan Piccolo benar-benar difokuskan dalam film ini, membuat kisahnya menjadi lebih seru dengan ruang lebih untuk berkembang setelah bertahun-tahun dibangku cadangkan karena kombinasi Goku-Vegeta yang mulai overpowered. Karakterisasi yang dihadirkan dari dua karakter ini dibuat lebih humanis, menjadikan mereka lebih masuk akal dan tidak konyol seiring berjalannya cerita.

Akan tetapi, hadirnya Red Ribbon Army ini terasa agak sia-sia, terutama karena kurang besarnya dorongan dari kelompok antagonistik ini untuk menyeret combo Saiyan-Namekian ini dalam agenda utama sepanjang filmnya walau karakterisasi dari beberapa karakter dalam kubu tersebut terlihat menarik.

Dragon Ball Super: Super Hero Review

Bisa dibilang, ‘Dragon Ball Super: Super Hero’ adalah surat cinta dari Akira Toriyama bagi penikmat seri ‘Dragon Ball’. Prolog film ini memberikan deretan footage baru yang berisikan homage dari berbagai scene ikonik dari seri tersebut mulai dari ‘Dragon Ball’ hingga ‘Dragon Ball Z’, membuat penonton meresapi bagaimana series ini telah berjalan hingga kini.

Sekuel dari ‘Dragon Ball Super: Broly’ ini seakan ingin mengulang formula yang dihadirkan pada Cell saga, memberikan spotlight pada Gohan dan Piccolo dengan development menawan seiring dengan hadirnya musuh berbahaya dan diiringi dengan hadirnya transformation baru yang unik pada masing-masing karakter tersebut. Akan tetapi, main threat dalam film ini yang merupakan bentuk baru dari Cell tidak tampil maksimal, seakan sang killer android ini hanya menjadi cangkang kosong yang membabi buta tanpa motif pasti.

Di balik spotlight yang diberikan pada Gohan dan Piccolo dalam ‘Dragon Ball Super: Super Hero’, Goku dan Vegeta dihadirkan secara singkat dalam dua adegan. Hadirnya duo maskot ‘Dragon Ball’ tersebut seakan hanya sebagai fan service yang hampir tak bermakna, karena terasa out-of-place dengan main plot yang diusung.

Hal berbeda yang dihadirkan dari ‘Dragon Ball Super: Super Hero’ ini adalah gaya visual yang digunakan. Berbeda dengan ‘Dragon Ball Super: Broly’ yang sepenuhnya bermain dengan 2D, sang sekuel menerapkan animasi 3D-2D layaknya ‘Dragon Ball Z: Battle of Gods’. Penggunaannya dalam beberapa kesempatan terasa kurang mulus, walau tidak sepenuhnya mengganggu serunya film sepanjang 99 menit.

Pada akhirnya, ‘Dragon Ball Super: Super Hero’ adalah media penuh nostalgia yang memberikan kesegaran dari seri ‘Dragon Ball’ melalui fokus pada Gohan, Piccolo, dan Red Ribbon Army. Akan tetapi, munculnya fan service salah tempat dan main villain yang terasa kosong membuat film anime ini masih bercelah.

Big Night! Big Night!

Big Night! Review: Tragicomedy yang Merekam Realitas Sosial Kaum Miskin Filipina

Film

Apakah James Bond Harus Selalu Kulit Putih?

Culture

avatar remastered 2022 avatar remastered 2022

Avatar Review: Masih Relevan untuk Penonton Masa Kini

Film

Cyberpunk: Edgerunners Cyberpunk: Edgerunners

Cyberpunk: Edgerunners Review – Kebrutalan Menawan Petualangan David Martinez di Night City

TV

Connect