Connect with us
desa penglipuran bali
All photos by Dicky Bisinglasi/ Cultura

Culture

Berkunjung ke Desa Adat Penglipuran Bali

Desa adat ini menerima penghargaan Kalpataru pada tahun 1995 dan berbagai penghargaan lainnya.

‘Pengeling’ yang berarti pengingat dan ‘Pura’ yang berarti tempat leluhur. Setidaknya dua kata ini yang menginspirasi kata “Penglipuran”, yang berarti sebagai sarana pengingat para leluhur.

Desa Penglipuran adalah desa adat yang terletak di Kelurahan Kubu, Kecamatan Bangli, Kabupaten Bangli, Bali, sekitar 45 km dari kota Denpasar.

Desa Adat Panglipuran Bali

Pemandangan Desa Adat Penglipuran dari udara menghadap ke arah selatan.

Pertama memasuki gerbang desa ini suasana tatanan asri dan simetris begitu terasa. Sebuah jalan utama desa yang tersusun rapi dari batu dengan rumah-rumah warga di kanan-kirinya. Wisatawan asing dan domestik datang dan pergi silih berganti. Beberapa masuk ke area pekarangan rumah warga hanya untuk sekedar melilhat-lihat, mendokumentasikan dengan kamera atau membeli souvenir.

Berkunjung ke Desa Adat Penglipuran Bali

Seorang anak perempuan sedang menunggu dagangan souvenir dengan bermain HP di pekarangan rumahnya.

Desa Adat Penglipuran adalah satu-satunya desa adat di Bali yang masih mempertahankan tata letak dan arsitektur tradisional khas Bali. Bentuk bangunan rumah satu dan lainnya jika dilihat sekilas sangatlah mirip, nampak seragam. Kemiripan dari tiap-tiap rumah terlihat pada pintu gerbang, atap dan dinding yang menggunakan bambu, lebar pintu gerbang hanya muat untuk satu orang dewasa.

Desa Adat Penglipuran Bali

Aktivitas Warga Sekitar

Menurut sejarah, masyarakat desa ini berasal dari Desa Bayung Gede, Kintamani. Konon, masyarakat Bayung Gede adalah orang-orang yang ahli dalam kegiatan agama, adat dan pertahanan. Karena kemampuannya, orang-orang Bayung Gede acap kali dipanggil ke Kerajaan Bangli. Tetapi karena jaraknya yang cukup jauh, Kerajaan Bangli akhirnya memberikan daerah sementara kepada orang Bayung Gede untuk beristirahat. Tempat beristirahat ini sering disebut sebagai Kubu Bayung, yang kini menjadi Desa Penglipuran. Inilah alasan yang menjelaskan kesamaan peraturan tradisional serta struktur bangunan antara desa Penglipuran dan desa Bayung Gede.

Konsep Tri Mandala

Dalam konsep Tri Mandala, tata ruang desa dibagi menjadi 3 zona sesuai dengan nilai kesuciannya. Zona tersebut kemudian disesuaikan dengan orientasi spiritual yang bernama “Kaja-Kelod”. Hal yang dianggap paling suci akan ditempatkan menuju Gunung Agung (tempat yang dianggap paling suci di Bali) dan kebalikannya hal yang paling tidak suci akan ditempatkan menuju laut.

Utama Mandala adalah tempat yang paling suci dan berada di paling utara, yakni Pura Penataran, tempat penyembahan Dewa Brahma (Dewa Pencipta) dan Pura Bale Agung untuk memuja Dewa Wisnu (Dewa Pemelihara).

Penglipuran Bali

Wisatawan mancanegara sedang memandang wanita lanjut usia yang menyunggi barang di kepalanya.

Madya Mandala adalah zona untuk manusia, yang letaknya di bawah pura. Disini masyarakat Penglipuran akan tinggal bersama dengan keluarganya di sebuah unit bangungan yang disebut sebagai Pekarangan. Saat ini desa dihuni oleh 985 jiwa dalam 234 keluarga pada catatan sensus terakhir. Mereka tersebar di 76 pekarangan yang terbagi rata di setiap sisinya dari total 112 hektar. Mata pencaharian penduduk mayoritas sebagai petani, pengrajin anyaman bambu dan peternak.

Nista mandala berada di paling selatan dan merupakan zona yang dianggap paling tidak suci. Oleh karena itu, zona ini berisikan kuburan desa dan Pura Dalem atau tempat pemujaan Dewa Siwa (Dewa Pelebur). Walaupun pemeluk Hindu tapi penduduk desa Penglipuran Bangli tidak mengenal upacara pembakaran mayat, namun langsung dikubur.

Desa Adat Penglipuran Bali

Suasana Desa Adat Penglipuran dengan jalan tersusun rapi dari batu dan deretan rumah yang nampak seragam.

Struktur tata letak satu unit pekarangan juga mengikuti konsep Tri Mandala. Utama Mandala di sebuah pekarangan akan berisi pura keluarga untuk menyembah dewa serta leluhurnya. Madya Mandala akan digunakan untuk aktivitas kehidupan sehari-hari (dapur, kamar tidur, dan lain lain). Terakhir, Nista Mandala biasanya digunakan untuk mengeringkan baju dan penyimpanan hewan ternak.

Sistem Hukum dan Perkawinan

Warga Desa Penglipuran mempunyai 2 jenis hukum yang mereka taati dan ikuti yaitu Awig-Awig (peraturan tertulis) dan Drestha (adat kebiasaan tak tertulis).

Mayoritas penduduk melakukan pernikahan dengan sesama warga desa. Oleh sebab itu sebagian besar penduduk masih terikat hubungan darah antara satu sama lain. Jika terdapat laki-laki dari Desa Adat Penglipuran yang menikahi gadis dari keluarga di luar warga Penglipuran maka dia tetap harus melakukan kewajiban yang dimilikinya sebagai warga Desa Adat Penglipuran.

Desa Adat Penglipuran Bali

Seorang wanita lanjut usia sedang mengasuh dua cucunya di sebuah pawon rumah, yakni tempat tidur di depan tungku dapur.

Bagi para lelaki Penglipuran mempunyai lebih dari satu istri merupakan hal yang dilarang. Jika seseorang mempunyai lebih dari satu istri maka ia dan istri-istrinya harus pindah dari Karang Kerti ke Karang Memadu (masih didalam desa tetapi bukan bagian utama). Hak dan kewajibannya sebagai warga Desa Adat Penglipuran juga akan dicabut. Setelah orang tersebut pindah, maka akan dibuatkan rumah oleh warga desa tetapi mereka tidak akan boleh melewati jalanan umum ataupun memasuki Pura dan mengikuti kegiatan adat. Ini merupakan bentuk penghormatan dan perlindungan terhadap kaum perempuan.

Bagi yang ketahuan mencuri, akan dihukum untuk memberikan sesajen lima ekor ayam dengan warna bulu ayam yang berbeda di 4 pura leluhur mereka. Dengan cara ini, semua penduduk desa akan mengetahui siapa yang mencuri, tentunya akan membuat efek jera.

Desa Adat Penglipuran Bali

Seorang wanita lanjut usia sedang berjalan dengan menyunggi barang di kepalanya.

Bambu

Sekitar 40% dari lahan desa adalah hutan bambu. Bambu Penglipuran merupakan salah satu bambu terbaik di Bali. Menebang pohon bambu di desa ini tidak boleh tanpa izin dari tokoh masyarakat setempat. Masyarakat Penglipuran memercayai bahwa hutan tersebut tidak tumbuh sendiri melainkan ditanam oleh pendahulu mereka. Oleh sebab itu bambu dianggap sebagai simbol akar sejarah mereka.

Hutan bambu seluas 37.7 ha (sebelumnya 50 ha) dan terdiri dari 15 spesies bambu yang seluruhnya berstatus milik desa. Sebagian dari hutan tersebut dikelola langsung di bawah Adat Desa sebagai Laba Pura (diperuntukan untuk pemeliharaan bangunan pura), sedangkan sebagian dikelola oleh beberapa penduduk dengan status hak pakai.

Desa Adat Penglipuran Bali

Tipat atau ketupat dalam bahasa Bali, yang sedang digantung pawon sebuah rumah. Tipat merupakan salah satu makanan pokok selain nasi putih.

Bambu juga dimanfaatkan untuk membuat bangunan maupun rumah. Mereka menggunakkan 4-5 lapisan bambu yang dikaitkan satu sama lain untuk membangun atap dan menganyam bambu untuk dijadikan dinding pembatas/dinding ruangan. Tetapi belakangan ini masyarakat Penglipuran sudah mulai menggunakkan konstruksi modern karena banyaknya bambu yang ditebang. Pekarangan dapat dimasuki melalui dua sisi dengan pintu utamanya yang berbentuk gerbang dan bernama “angkul-angkul’ dengan cat tembok berbahan dasar tanah liat.

Berikut adalah beberapa bangunan yang dibangun menggunakan bambu:

Pawon – Bangunan yang berfungsi sebagai dapur yang didalamnya terdapat lumbung padi serta tempat kecil untuk beristirahat. Pawon keseluruhannya dibangun menggunakan bambu termasuk atap, dinding, tempat tidur, bahkan peralatan makan yang terdapat di dalamnya.

Bale Sakenem – Bangunan tempat dilaksanakannya upacara agama yang hanya dikhususkan untuk keluarga. Upacara yang sering dilakukan pada Bale Sakenem ini adalah upacara Pitra Yadnya (Ngaben) dan upacara Manusa Yadnya. Bangunan ini memakai bambu sebagai atapnya.

Bale Banjar – Bangunan yang dapat digunakan bersama oleh seluruh masyarakat adat di Penglipuran. Bangunan ini tidak memiliki dinding, hanya memiliki tiang penyangga dan digunakan untuk prosesi upacara Ngaben masal dan pertemuan warga.

Sabet Berbagai Penghargaan

Tahun 1993, desa adat ini ditetapkan sebagai Desa Wisata Penglipuran dengan Surat Keputusan (SK) Bupati No. 115 tanggal 29 April 1993. Desa ini lantas tercatat menerima penghargaan Kalpataru pada tahun 1995. Karena masyarakat setempat dianggap mampu menyelamatkan lingkungan. Mereka mampu mempertahankan dan memelihara 75 hektar hutan bambu dan 10 hektar vegetasi lainnya yang menjadi ciri khas desanya. Selain itu, masyarakat di desa ini juga mampu mempertahankan adat budaya para leluhur dan juga tata kota serta bangunan tradisionalnya.

Desa Adat Penglipuran Bali

Pintu gerbang (angkul-angkul) menuju pura keluarga dengan dua arca penjaganya.

Penghargaan terbaru yang disabet berasal dari TripAdvisor berupa The Travellers Choice Destination 2016. Meski sebenarnya penghargaan ini dijatuhkan pada Pulau Dewata sebagai pulau kedua terbaik setelah Kepulauan Galapagos di Ekuador, nama Desa Wisata Pengliburan pun acap kali diperbincangkan. Hingga akhirnya desa ini dinobatkan sebagai desa terbersih ke-3 di dunia versi majalah internasional Boombastic bersama desa Desa Terapung Giethoorn di Provinsi Overijssel Belanda, dan Desa Mawlynnong yang ada di India.

Tahun 2017 mendapat penghargaan ISTA (Indonesia Sustainable Tourism Award) dengan peringkat terbaik untuk kategori pelestarian budaya. Penghargaan terbaru, Penglipuran dan Pemuteran masuk dalam Sustainable Destinations Top 100 versi Green Destinations Foundation.

Untuk memasuki Desa Adat Penglipuran, pengunjung dewasa domestik hanya perlu membayar tiket sebesar Rp 15,000, atau Rp 30,000 untuk wisatawan mancanegara. Sedangkan anak-anak domestik seharga Rp 10,000, dan Rp 25,000 untuk mancanegara.

Click to comment

Leave a Comment

cuci tangan cuci tangan

Bagaimana Sejarah Manusia dalam Menyadari Pentingnya Cuci Tangan?

Lifestyle

Tanaman Kopi di Desa Kahayya Tanaman Kopi di Desa Kahayya

Kahayya: Kopi dan Gerakan Literasi

Culture

Four Seasons Hotel Alexandria At San Stefano Four Seasons Hotel Alexandria At San Stefano

Solo Traveling Ke Tempat Bersejarah

Cultura Lists

Raja Ampat Raja Ampat

Narasi Lain dari Raja Ampat dan Miangas

Culture

Advertisement
Connect