Connect with us
Birds of Prey and The Fantabulous Emancipation of One Harley Quinn
Photograph: Claudette Barius/Warner Bros.

Film

Birds of Prey and The Fantabulous Emancipation of One Harley Quinn

Apakah emansipasi benar-benar ditampilkan atau hanya jualan saja?

★ ★ ★ ★ ★
★ ★ ★ ★ ★

Cathie Yan adalah perempuan Asia pertama yang menjadi sutradara bagi proyek film DC. Sebelumnya, ia memiliki karir yang cemerlang sebagai seorang jurnalis muda. Namun nampaknya Yan memiliki panggilan jiwa yang lain. Ia mengambil kuliah magister lalu memutuskan terjun ke dunia film. Setelah membuat beberapa film pendek, ia berhasil merebut hati DC dan Warner Bros untuk menyutradarai Birds of Prey: And The Fantabulous Emancipation of One Harley Quinn. Agar tak nampak mendompleng gerakan feminisme dengan sekadar memasang sutradara dan pemain perempuan, para pengisi soundtracknya pun dipilih dari musisi-musisi perempuan yang badass seperti Normani dan Doja Cat.

Birds of Prey benar-benar kebalikan dari Joker (2019). Bila Joker begitu kelam dan berat maka Birds of Prey menawarkan keceriaan tanpa batas. Meski kita tahu ini adalah kisah patah hati seorang Harley Quinn, tingkah lakunya justru mengocok perut. Ia memang ‘gila’ tapi ia tampil begitu manusiawi. Bila kita melihat, sebagai perbandingan, dengan superhero perempuan baik dari DC maupun Marvel maka ialah yang paling beda. Walau Harley Quinn memang bukan superhero tentunya.

Wonder Woman, Black Widow, ataupun Captain Marvel memiliki label yang sama yaitu strong female lead. Kita terbiasa melihat pemeran utama perempuan dengan label karakter strong yang justru mendekati atau menyerupai kualitas laki-laki. Karakter perempuan tersebut kita sebut kuat bila ia pintar berkelahi, jago membunuh, dan berotot. Mereka juga sebisa mungkin memilih tubuh yang bagus dan menggunakan pakaian yang menarik di mata lelaki. Para strong female lead ini akan tetap cantik meski bertempur sekacau apapun. Umumnya para strong female lead memiliki satu titik di mana ia memiliki love interest. Konsep tersebut tak hanya berlaku di film superhero belaka.

Pernahkah kita mendengar strong male lead? Atau bisakah kita memberi label strong female lead dengan melupakan ciri khas yang telah disebutkan tadi? Harley Quinn nampaknya berusaha melakukan hal itu. Tentu, Harley Quinn tak dapat dipisahkan sebagai kekasih Joker. Ia juga memakai hot pants dan tank top. Dalam Birds of Prey, Joker tak ditampilkan meski hanya secuil. Ia pun lebih sering dijuluki Mr. J bukan Joker. Film ini fokus pada sosok Harley Quinn secara utuh. Inilah menariknya. Pada scene awal Harley Quinn pun mengakui bagaimana ia mendapatkan privilege karena ia adalah kekasih seseorang.

Ketika menjadi perempuan single, Harley Quinn harus menolong dirinya sendiri dari seisi kota yang memusuhinya. Tapi ia tidak ditampilkan sebagai orang yang tak terkalahkan. Ia justru memilih sebisa mungkin menghindari pertempuran dan lari menyelamatkan diri. Harley juga tak merasa harus menutupi sisi keperempuanannya untuk mendapatkan label strong. Outift yang ia gunakan hingga tas pinggang yang ia curi dari pasar terlihat sangat kekanakan tapi itulah seleranya. Harley Quinn menunjukkan bahwa untuk menjadi kuat ia bisa tetap tampil kekanakan atau feminin semaunya.

Selain itu Yan mencoba mendobrak konsep yang sudah mendarah daging bahwa perempuan yang kuat dalam film-film harus masih muda dan seksi. Kalaupun ia tak lagi muda, maka ia harus berotot dan sangat garang seperti Linda Hamilton dalam Terminator Dark Fate sehingga tampak seperti saudara kembar Arnold Schwarzenegger. Yan justru memasang seorang ibu-ibu berusia 55 tahun bernama Rosie Perez yang memerankan Renee Montoya. Renee yang seorang polisi ini digambarkan mendapatkan ketidakadilan di tempat kerja karena ia seorang perempuan. Pada salah satu scene ia menggunakan kaos kedodoran.

Pernah melihat tokoh perempuan yang sok keren atau pura-pura keren? Nampaknya Yan menyadari betapa toxic-nya tuntutan industri perfilman global terhadap gambaran karakter perempuan. Karena itu Yan memasang Huntress yang diperankan oleh Mary Elizabeth Winstead. Huntress jelas terlihat berusaha keren meski berakhir canggung dan malah terlihat aneh. Meski demikian ini bukanlah aneh dalam artian buruk melainkan aneh yang berarti baik. Jempol juga patut diacungkan pada Ewan McGregor. Ini mungkin salah satu akting terbaiknya. Setiap scene yang memunculkan dirinya benar-benar menarik.

Namun di balik semua usaha Yan untuk merombak dan menciptakan inovasi dalam Birds of Prey, kekurangan pun tetap ada. Harus diakui paruh awal film terasa sedikit membingungkan. Selain kilas balik yang sedikit banyak, Yan juga nampak berusaha memampatkan seluruh informasi. Seakan seluruh karakter yang ada dipaksa untuk memiliki latar belakang yang kuat. Padahal adegan kilas balik yang diulang-ulang ini dapat membuyarkan konsenstrasi penonton. Apalagi motif kebencian Black Mask masih terasa kurang digali. Di luar itu, motif musuh-musuh Harley Quinn yang lain memang menarik.

Plot hole tentu saja masih ada dan tak dijelaskan hingga film berakhir. Untungnya hal tersebut tertutup dengan jokes yang melimpah dan sikap Harley Quinn yang cenderung nyeleneh. Tak dapat dipungkiri akting Margot Robbie adalah salah satu hal paling menghibur di sini. Harus diakui, kurang meledaknya Birds of Prey di pasaran bukan karena filmnya buruk tapi masyarakat yang masih belum siap dengan emansipasi. Justru karena kuatnya konsep emansipasi inilah yang membuat orang-orang berpaling. Ini adalah gambaran dunia kita di mana seseorang seperti Harley Quinn dianggap bukan siapa-siapa bila ia bukan kekasih seseorang.

Click to comment
Advertisement
Cultura Podcast
Connect