Connect with us
petani pertanian indonesia

Culture

Pertanian Menjadi Sektor Yang Menarik?

Butuh kolektivitas yang erat dari berbagai sektor agar pertanian menjadi menarik.

Tahun 2018, Badan Pusat Statisik (BPS) merilis hasil survey Angkatan Kerja Nasional tentang penduduk berdasarkan status pekerjaan utama. Data di Februari tahun 2018 mencatat jumlah pekerja bebas di bidang pertanian yaitu 4.582.344. Angka ini adalah angka terendah jika menilik data 10 tahun terakhir.

Penyebabnya tentu beragam, salah satunya adalah arus urbanisasi yang terus meningkat jumlahnya. Center for Indonesian Policy Studies dalam siaran persnya 2019 yang lalu mengungkapkan bahwa penurunan pekerja sektor pertanian ini berpotensi memengaruhi produksi komoditas pangan nasional. Salah satu hal yang bisa berdampak atas kondisi ini adalah tingginya harga komoditas pangan.

Tentang urbanisasi, saya pernah bertemu dengan Anggoro, anak muda Dusun Cetho. Cetho adalah dusun di lereng Gunung Lawu (jalur pendakian dari arah barat), tepatnya di Desa Gumeng, Kecamatan Jenawi, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah. Cetho pada ketinggian 1500 mdpl terdiri dari 3 RT dan 108 KK mahsyur dengan potensi wisatanya. Anggoro bersama dengan kawan-kawan pemudanya yang lain lah yang turut mengambil peran untuk kemajuan sektor pariwisata ini. Mereka tergabung di Generasi Muda Hindu Cetho.

Anggoro sehari-hari melakukan aktivitas bertani untuk memenuhi kebutuhan ekonominya. Baginya, jika yang dikejar adalah uang, maka dengan bertani ia sudah bisa mendapatkan uang dalam kurun waktu satu minggu. Sedangkan jika merantau, kemungkinan besar mereka baru bisa mendapatkan upah setelah satu bulan.

Anggoro tentu tidak sendiri. Di Dusun Cetho, tidak banyak anak-anak muda yang memutuskan untuk merantau hanya dengan pertimbangan ekonomi. Bahkan banyak yang telah merantau dan memutuskan untuk pulang kembali ke desa mereka. Ada-ada saja alasannya, mulai dari kondisi geografis yang tidak seramah dusun mereka, hawa sejuk yang selalu membuat mereka rindu keluarga, dan tentu saja hitung-hitungan ekonomi yang dengan mantap mereka pastikan bahwa kalkulasi keuntungan jauh lebih tinggi yang mereka dapatkan di desa mereka dibandingkan jika mereka merantau.

Secara kolektif, masyarakat Cetho meyakini bahwa yang paling penting mereka lakukan adalah menjaga kearifan lokal. Kearifan lokal yang mereka jaga menjadi wujud syukur agar apa yang diperoleh di musim ini bisa menopang hidup mereka hingga musim berikutnya. Berbagai “ritual kesyukuran” masih terawat di tanah ini.

Di dusun ini bisa dijumpai bukti sejarah Kerajaan Majapahit, Candi Cetho dan juga Candi Kethek. Dengan berbagai rentetan sejarahnya pulalah, puri Dewi Saraswati telah dipindahkan dari Bali ke Cetho beberapa tahun silam. Meski menjadi bagian dalam sejarah Hindu, Cetho tetap jadi rumah yang nyaman bagi masyarakatnya yang menganut Hindu, Islam maupun Kristen. Meski, Hindu adalah mayoritas.

Dalam konsep komunikasi antaragama, pandangan inklusif agama dalam satu kelompok haruslah diimbangi dengan frekuensi dan intensitas interaksional antarkelompok agama (Purwasito (2015). Frekuensi interaksi inilah yang dijaga oleh masyaratkat Cetho, dalam sebulan terdapat tiga kali pertemuan rutin yang jadi wadah untuk masyarakat bertemu, ada atau tidaknya permasalahan menyangkut kedesaan maupun agama yang harus mereka musyawarahkan.

Bagaimana Dusun Cetho terbangun dengan inklusif adalah pesan bermakna yang perlu diresapi hari ini. Pemuda Cetho meski tidak merepresentasikan keseluruhan pemuda hari ini, namun mereka adalah representasi dari optimisme yang hadir dari pelosok desa. Pada dasarnya, agar pertanian menjadi sektor yang “menarik”, butuh kolektivitas yang erat dari berbagai sektor.

Bagaimanapun, penurunan jumlah tenaga kerja pertanian yang signifikan tidak bisa dipandang sebelah mata oleh negara yang pernah berhasil melakukan swasembada pangan di era lalu, dan terus mengusahakan kedaulatan pangan hingga hari ini.

Dalam hal ini, dari sektor pertanian padi saja, masalah tidak berhenti pada ketersediaan lahan, atau keberpihakan pemerintah hari ini yang dipertanyakan. Namun lebih dari itu, ketertarikan anak muda untuk meramu tanah mereka juga mulai menjadi ancaman. Padi, jagung, sayuran lainnya, tidak serta merta terhidang di atas meja kita, sebelumnya ada banyak tangan-tangan baik yang mengolah mereka dengan nilai-nilai hidup yang sakral.

Click to comment

Leave a Comment

cuci tangan cuci tangan

Bagaimana Sejarah Manusia dalam Menyadari Pentingnya Cuci Tangan?

Lifestyle

Tanaman Kopi di Desa Kahayya Tanaman Kopi di Desa Kahayya

Kahayya: Kopi dan Gerakan Literasi

Culture

Raja Ampat Raja Ampat

Narasi Lain dari Raja Ampat dan Miangas

Culture

Dataran Tinggi Dieng Dataran Tinggi Dieng

Dieng: Meruwat Anak Gembel, Merawat Tradisi

Culture

Advertisement
Connect