Connect with us
Ukiran Toraja
All photos by Felisitasya Manukbua/Cultura

Culture

Amanat Leluhur dari Simbol Ukiran Bagi Masyarakat Keturunan Toraja

Simbol kehidupan masyarakat Toraja dalam Passura’ Toraya.

Toraja yang terletak di Sulawesi Selatan, menjadi daerah pariwisata dunia dengan adat istiadat yang masih terjaga baik, menawarkan berbagai jenis kearifan lokal kaya makna penuh inspirasi.

Salah satu kearifan lokal yang tampil dalam wajah polos Toraja adalah ukirannya. Ukiran Toraja atau yang disebut dengan Passura’ Toraya menjadi kekayaan turun temurun sejak ratusan tahun lalu.

Passura’ Toraya merupakan bentuk komunikasi dalam menyampaikan pesan moral dari leluhur kepada keturunannya. Walau tak pandai baca tulis, namun ukiran menjadi saluran paling efektif untuk menanamkan nilai-nilai moral tentang kejujuran, rela berkorban, ketekunan berusaha, kesetiaan pada pasangan, dan masih banyak lagi pesan-pesan penuh makna terungkap dari guratan-guratan halusnya ukiran Toraja.

Toraja

Photo: Felisitasya Manukbua/Cultura

Jumlah dan motif ukiran Toraja sendiri mempunyai banyak bahkan ribuan motifnya dalam seni kehidupan manusia Toraja. Namun, dibalik motif-motif ukiran tersebut masyarakat Toraja menjadikan ukiran sebagai simbol kehidupan alam semesta yang menghadirkan sebuah kesejahteraan dan alunan kebijaksanaan melalui bentuk dan liukan ukirannya serta empat warna dasarnya.

Ukiran Toraja sendiri penuh dengan makna indah, diistilahkan seolah dirangkai seperti tulisan prasasti. Proses perancangan ukiran juga memiliki aturan dan rahasia tersendiri untuk dijiwai bagi pengukirnya, terutama dalam membahasakan sebuah simbol dalam membingkai hidup dengan kejujuran dan kesucian dari makna ukirannya.

Orang Toraja

Photo: Felisitasya Manukbua/Cultura

4 Warna Dari Gelap Terbitlah Terang

Menurut Yans Sulo Paganna’ salah satu talenta khusus manusia berdarah Toraja ada pada seni ukir kayu. Orang-orang Toraja dianugerahi talenta tersebut dari kemahiran merias kayu dengan ukiran indah dengan motif yang beraneka ragam. Warna yang digunakan untuk menghiasi pun adalah warna alami yang dibuat khusus dari batu-batu yang sudah diasah.

Masih menggunakan alat tradisional seperti penggaris, pisau, bambu, batu asah, serta 3 warna yaitu merah dan kuning yang diambil dari tanah liat dan bukan sembarang tanah, kemudian hitam yang berasal dari arang belanga. Kayu yang digunakan untuk mengukir pun terbuat dari bahan kayu Uru.

Empat warna menjadi titik sudut arah mata angin yang dipegang erat dari nenek moyang orang Toraja, menghadirkan makna yang tidak sederhana. Makna tersebut diistilahkan ‘dari gelap terbitlah terang’, seperti pada warna putih dengan titik mata angin utara merupakan bagian wilayah dari deata atau Puang Matua. Warna kuning sendiri ada pada arah mata angin di timur wilayah dari kehidupan, kemudian ada warna hitam dengan titik arah mata angin selatan wilayah dari kepulangan ke alam baka atau yang dekat dengan istilah Malemo Sau’. Yang terakhir ada warna merah dengan titik mata angin bagian barat sebagai wilayah dari kebangkitan leluhur yang bangkit dengan jaya.

Makna Simbol atas Doa, Harapan, Status sosial

Walau terkesan sederhana dalam garis, lekuk, warna dan modelnya. Namun, ukiran Toraja tidak sembarang untuk digunakan dan diletakkan sekehendak hati. Kekhasan ini membawa sebuah susunan yang mempunyai makna, proses peletakan, pola dan ketaatan untuk menyesuaikan nilai-nilai yang ingin diungkapkan seperti doa, harapan, status sosial, kedudukan dan peran dalam keluarga.

Simbol-simbol dari ukiran Toraja mempunyai banyak arti dan makna hidup dari komunikasi leluhur untuk keturunannya.

Filosofi ukiran Toraja tersembunyi bagi orang-orang bijak dan pandai, namun dinyatakan dan dikumandangkan bagi orang-orang sederhana dan rendah hati. Maka dari itu, ukiran Toraja sesungguhnya adalah jawaban dari cara mereka mengajak orang untuk memaknai seperti apa manusia Toraja dalam proses kehidupan mereka sendiri yang sangat dekat dengan Sang Mahakuasa. Proses itu juga sebagai pemaknaan bagi masyarakat Toraja atas anugrah rahmat dan talenta yang diberikan.

Keseimbangan Tongkonan Melalui Ukiran

Ukiran Toraja biasanya diletakkan untuk menghiasi Tongkonan atau rumah adat masyarakat Toraja. Hubungan antara ukiran dengan Tongkonan juga sangat erat. Tongkonan juga akan semakin sempurna atas simbolnya yang tercipta melalui ukiran. Mempunyai makna dari atas ke bawah dengan istilah surga sampai ke bumi. Bagi masyarakat Toraja, menganggap Tongkonan dan ukiran adalah bagian yang mempunyai sinergi tersendiri atas keindahan bumi dan surga dalam doa yang tak tertulis.

Motif ukiran Toraja sebagai sistem kepercayaan seni hidup manusia Toraja dalam Tongkonan (rumah adat)

Motif ukiran Toraja sebagai sistem kepercayaan seni hidup manusia Toraja dalam Tongkonan (rumah adat)

Keterkaitan Tongkonan dengan ukiran Toraja menjadi sebuah bagian dari satu kesatuan yang tak dapat dipisahkan. Keduanya adalah satu dalam dua dan dua dalam satu. Secara jelas Tongkonan adalah bangunan yang berjiwa yang akan semakin hidup dengan ukiran untuk berbicara secara simbolis ketika dipandang.

Tongkonan sebagai rumah adat masyarakat Toraja ini juga dianggap sebagai ibu dimana rumah ini memiliki keterkaitan fungsi dalam ruangannya yang tidak sembarangan untuk ditempati. Sebagai gambaran pada bagian selatan rumah ini biasanya difungsikan sebagai tempat untuk kepala keluarga, kemudian pada bagian tengah difungsikan sebagai ruang makan atau tempat pertemuan keluarga. Selain itu bisa juga digunakan untuk menempati jenazah bagi orang yang sudah meninggal.

Semua bentuk pembuatan Tongkonan memiliki makna tersendiri, maka dari itu warisan berharga ini menjadi kepercayaan leluhur yang turun temurun bagi masyarakat Toraja sampai sekarang.

Click to comment
Advertisement
Cultura Podcast
Connect