Connect with us
Review Film Mulan
Disney

Cultura Lists

3 Stereotip Karakter Perempuan Paling Kontroversial dalam Film

Tipe-tipe penokohan karakter perempuan yang problematik dan kontradiksi.

Telah mengalami perkembangan selama bertahun-tahun, industri perfilman telah menciptakan banyak stereotip karakter. Perempuan merupakan gender yang cukup dieksploitasi dalam film dengan stereotip tertentu, mulai dari damsel in distress pada era Golden Age hingga Silver Age di skena Disney Princess, hingga film horor atau slasher yang selalu mengaplikasikan perempuan pemberani sebagai protagonisnya.

Tak jarang sederet stereotip karakter tersebut terus didaur ulang dalam film yang terus rilis hingga saat ini. Pada era perfilman modern, mulai muncul stereotip-stereotip baru yang kontroversial. Sadar atau tidak sadar, para penulis naskah original maupun adaptasi novel terus mengangkat tipe-tipe karakter berikut ini.

Stereotip karakter perempuan dalam film yang kita bahas kali ini memiliki kecenderungan problematik dan kontradiksi. Meski dengan penokohan yang lemah, karakter ini cukup mendominasi skena perfilman mainstream.

The Mary Sue

Karakteristik:
Karakter perempuan terlalu sempurna hingga membosankan karena tidak memiliki kelemahan signifikan

Istilah Mary Sue pertama kali muncul dalam fandom Star Trek, ditulis oleh Paula Smith untuk proyek parodi bertajuk “A Trekkie Tale” pada 1973. Dimana dalam cerita tersebut ada karakter bernama Mary Sue, Letnan perempuan termuda yang baru berumur 15 tahun. Ide karakter tersebut merupakan penulisan satir dalam konteks idealisasi karakter perempuan dalam fan fiction Star Trek.

Mary Sue dalam literasi memiliki dua ciri khas; Penulis biasanya menjadikan dirinya sendiri sebagai protagonis, dimana Ia mewujudkan gambaran idealis dan sempurna akan dirinya sendiri. Kedua, karakter yang terlalu sempurna tanpa kelemahan berarti, namun memiliki latar belakang cerita yang tragis. Karakter bisa mendapatkan stereotip ini jika memenuhi salah satu atau kedua ciri tersebut.

Contoh karakter stereotip Mary Sue  populer dalam film adalah Tris Prior dari film series “Divergent”, dan Hua Mulan dari adaptasi live-action “Mulan”. Sering dibandingkan dengan Katniss Everdeen, Tris merupakan simbol revolusi dalam semestanya sendiri. Lahir dan tumbuh besar di fraksi paling konservatif, Abnegation, Ia diidentifikasi sebagai Divergent kemudian memilih untuk pindah ke fraksi yang lebih dinamis, Dauntless. Tentu saja Ia harus masuk Dauntless, karena kekuatan fiksi harus menjadi kemampuan utama yang dimiliki oleh seorang figur revolusi.

Mulan versi animasi Disney sejatinya memiliki prinsip tentang menerobos stereotip karakter wanita dalam skena Disney Princess. Idenya bukan untuk melampaui gender, namun menyetarakan posisinya dengan laki-laki sebagai prajurit yang bisa berkontribusi dalam perang. Sementara Hua Mulan mengubah plot cerita yang krusial tersebut menjadi gadis yang berusaha menahan dan mengontrol kekuatan besar yang telah Ia miliki dari kecil. Ketika dibutuhkan, penulis cerita tinggal melepas kekuatan Mulan dalam skenario pada bagian tertentu. Tidak ada usaha yang dilakukan oleh Mulan untuk bisa menyetarakan dirinya dengan prajurit lainnya.

Bella Swan

Waif Girl

Karakteristik:
Perempuan biasa cenderung membosankan, namun ‘spesial’ dan memiliki kehidupan percintaan yang dramatis

Menurut Roisin O’Connor dari Independent UK, karakter waif girl memiliki banyak sifat-sifat yang saling kontradiksi. ‘Normal’ namun spesial, canggung dalam bersosialisasi namun kerap menjadi pusat perhatian. Membosankan namun memikat, lugu namun sensual, perawan namun menggoda.

Waif girl awalnya lebih familiar di skena literatur, Stephanie Meyer menjadi salah satu novelis yang familiar untuk dijadikan contoh. Bella Swan merupakan karakter waif girl paling populer setelah diangkat menjadi film drama remaja, “Twilight”, dibintangi oleh Kristen Stewart.

Bella Swan memiliki penokohan yang cukup menjengkelkan, bukan karena Kristen Stewart tidak pandai berakting, namun karena aktris ini menghidupkan karakter dengan penulisan yang sudah lemah dari materi sumbernya. Meski tampak introvert dan canggung, pada hari pertamanya di kampus Ia langsung memikat satu kelompok murid (yang cukup populer) untuk menerimanya. Ia juga memiliki kecenderungan pasif-agresif ketika berhubungan dengan Edward Cullen.

Faktor yang mempengaruhi lahirnya stereotip waif girl adalah ide untuk memfasilitasi fantasi audience perempuan ‘biasa’ (alias fans service). Bahwa wanita biasa dan semembosankan Anastasia Steele juga bisa memikat CEO sukses hanya karena satu wawancara tak terduga dalam “50 Shades of Grey”. Bahwa remaja secanggung Bella Swan bisa memikat vampir tampan dengan kulit yang berkilau dari keluarga kaya.

Summer (500 Days of Summer)

Summer (Fox Searchlight/Everett Collection)

Manic Pixie Dream Girl (MPDG)

Karakteristik:
Perempuan dengan kepribadian eksentrik yang imajinatif, hadir untuk menyelamatkan protagonis laki-laki dari hidup yang membosankan

Sudah bukan stereotip yang asing lagi, MPDG masih menjadi stereotip karakter dalam film yang kontroversial dan populer hingga saat ini. MPDG pertama kali dicetuskan oleh kritikus film Nathan Rabin untuk memberi label pada Claire Colburn (Kirsten Dunst) dalam “Elizabethtown” (2003). Ia menjabarkan bahwa karakter MPDG merupakan karakter imajinatif yang terlahir dari gambaran penulis atau sutradara, akan karakter yang membantu karakter pria muda untuk merangkul kehidupan, misteri, dan petualangan tak terbatas.

Meski telah menyatakan bahwa MPDG sudah tidak relevan lagi digunakan untuk mengkritik karakter dalam film, tak lantas membuat media dan penulis naskah film berhenti berpatokan dengan stereotip satu ini.

MPDG memiliki karakteristik karakter unik dan eksentrik yang luar biasa spesial dan langkah. Karena imajinatif, karakter satu ini kerap memiliki idealisme tinggi dan tidak hidup dalam aturan masyarakat. Contohnya saja Stargirl (diperankan oleh Grace VanderWaal) yang punya peliharaan tikus lucu dan tidak ingin menggunakan smartphone hingga film keduanya.

Summer (Zooey Deschanel) dalam “500 Days of Summer” juga menjadi salah satu karakter MPDG modern paling populer. Dengan segala pesonanya, Ia berhasil memberikan kenangan bahagia sekaligus trauma patah hati yang mendalam bagi sang protagonis, Tom Hansen (Joseph Gordon-Levitt).

Seperti Stargirl dan karakter MPDG lainya, Summer hanya berperan sebagai booster bagi protagonis laki-laki yang terjebak dalam kehidupan membosankan, kemudian menghilang, dan secara ajaib telah mengubah kehidupan protagonist secara drastis.

The Outsider Review The Outsider Review

10 Film Hollywood dengan Estetika Jepang

Cultura Lists

Happiest Season Happiest Season

Rekomendasi Film Chick Flick 2020an

Cultura Lists

Kilas Balik Trilogi Baru Star Wars: Kehancuran Sebuah Franchise

Entertainment

My Missing Valentine My Missing Valentine

My Missing Valentine: Menyusuri Ingatan Satu Hari yang Hilang

Film

Connect