Sebagai lanjutan dari semesta “28 Days Later”, film “28 Years Later: The Bone Temple” (2026) datang dengan beban ekspektasi yang tidak kecil. Waralaba ini sejak awal dikenal bukan semata karena zombie yang berlari cepat, tetapi karena keberaniannya memotret kehancuran sosial, paranoia kolektif, dan rapuhnya moral manusia saat struktur peradaban runtuh. Alih-alih sekadar memperbesar skala horor, film ini memilih jalur yang lebih muram dan reflektif—keputusan yang berani, sekaligus problematis di beberapa titik.
Dari sisi script dan screenplay, “28 Years Later: The Bone Temple” tampak ingin menggeser fokus dari survival fisik ke trauma jangka panjang. Judulnya sendiri menjadi metafora yang cukup gamblang: “Bone Temple” bukan hanya lokasi, tetapi simbol dunia yang membangun makna baru di atas puing-puing kematian.
Naskahnya dipenuhi dialog yang bersifat kontemplatif, terkadang nyaris filosofis, membahas ingatan kolektif, rasa bersalah generasional, dan bagaimana mitos baru lahir dari kehancuran lama. Sayangnya, ambisi ini tidak selalu diimbangi dengan ritme dramatik yang solid. Beberapa adegan terasa terlalu verbal, seolah film lebih percaya pada monolog ketimbang kekuatan visual.
Plot bergerak lambat namun konsisten, mengikuti karakter-karakter yang hidup dalam dunia pascawabah yang telah “menetap” dalam kehancuran. Tidak ada lagi kepanikan awal; yang tersisa adalah rutinitas hidup berdampingan dengan ancaman. Pendekatan ini menarik karena jarang dieksplorasi dalam film zombie arus utama. Namun, konflik utamanya kerap terasa abstrak. Taruhannya lebih bersifat eksistensial daripada konkret, yang bisa membuat sebagian penonton merasa terputus secara emosional.

Sinematografi menjadi salah satu kekuatan utama film ini. Kamera sering mengambil jarak, menempatkan manusia sebagai figur kecil di tengah lanskap yang dingin dan membusuk. Warna-warna kusam, komposisi statis, dan penggunaan cahaya alami memperkuat kesan dunia yang telah kehilangan vitalitasnya. Ada kesinambungan estetika dengan film-film sebelumnya, tetapi dengan pendekatan yang lebih asketis. Teror di sini bukan dari jump scare, melainkan dari keheningan panjang dan ruang kosong yang menyimpan sejarah kekerasan.
Dari sisi akting, para pemeran tampil terkendali dan serius. Tidak ada performa yang berusaha mencuri perhatian secara berlebihan. Emosi disampaikan melalui gestur kecil dan tatapan yang letih, mencerminkan karakter yang telah terlalu lama hidup dalam ketakutan. Pendekatan ini efektif secara tematis, meski membuat beberapa karakter terasa kurang berkembang secara dramatis.
Masalah terbesar film ini mungkin terletak pada ketidakseimbangan antara ambisi artistik dan kebutuhan naratif. “28 Years Later: The Bone Temple” jelas ingin menjadi lebih dari sekadar film horor; ia ingin dibaca sebagai alegori tentang peradaban, iman, dan cara manusia memberi makna pada trauma. Namun dalam prosesnya, film ini kadang melupakan urgensi emosional yang membuat dua film awalnya begitu membekas.
Sebagai karya dalam semesta “28”, film ini patut diapresiasi karena keberaniannya menolak formula. Ia menawarkan horor yang sunyi, berat, dan penuh simbol. Tetapi bagi penonton yang mengharapkan ketegangan intens atau konflik yang lebih tajam, pengalaman menontonnya bisa terasa dingin dan menjauh.

