“The Sadness” (2021) adalah film Taiwan yang sejak menit pertama menyatakan niatnya dengan jelas: ini bukan horor tentang sugesti, bukan pula alegori yang disamarkan dengan sopan. Karya debut Rob Jabbaz ini memilih jalur eksploitasi ekstrem, memadukan estetika splatter dengan kegelisahan pandemi, dan menyodorkannya tanpa filter. Hasilnya adalah pengalaman menonton yang melelahkan, mengganggu, sekaligus memancing perdebatan serius tentang batas etika horor kontemporer.
Plot “The Sadness” berangkat dari premis wabah virus yang mengubah manusia menjadi makhluk sadistik yang sepenuhnya kehilangan empati. Tidak seperti zombie klasik yang digerakkan naluri makan, para terinfeksi di film ini tetap sadar, berbicara, dan justru menikmati kekerasan yang mereka lakukan.
Cerita mengikuti pasangan muda yang terpisah di tengah kekacauan kota dan berusaha bertahan hidup serta saling menemukan. Secara struktur, narasi ini sangat sederhana dan nyaris linear, berfungsi lebih sebagai kerangka untuk rangkaian adegan kekerasan ketimbang sebagai cerita dengan perkembangan dramatik kompleks.

Dari sisi script dan screenplay, kesederhanaan ini bisa dibaca sebagai kekuatan sekaligus kelemahan. Naskah “The Sadness” nyaris tidak memberikan ruang bagi karakterisasi mendalam. Dialog digunakan secara fungsional, sering kali untuk menyampaikan kepanikan atau kebiadaban, bukan untuk membangun relasi emosional. Akibatnya, film ini tidak pernah benar-benar mengajak penonton peduli pada karakter, melainkan memaksa mereka menyaksikan kehancuran tubuh dan moral secara terus-menerus. Bagi sebagian penonton, ini adalah pendekatan yang jujur dan konsisten; bagi yang lain, ini menjadikan film terasa datar secara emosional meski ekstrem secara visual.
Sinematografi film ini cukup efektif dalam menangkap kekacauan urban. Kamera bergerak agresif, dengan framing sempit dan sudut yang sering kali membuat penonton merasa terjebak bersama karakter. Warna-warna kusam dan pencahayaan keras memperkuat nuansa dunia yang telah kehilangan kemanusiaan. Namun, ada kecenderungan repetitif dalam komposisi visual, terutama ketika kekerasan ditampilkan dengan intensitas yang sama dari satu adegan ke adegan berikutnya. Ketika semuanya ekstrem, tidak ada lagi eskalasi yang terasa signifikan.
Akting dalam “The Sadness” cenderung minimalis, dan itu tampaknya disengaja. Para pemeran memainkan teror, kepanikan, dan kegilaan dengan pendekatan fisikal ketimbang psikologis. Karakter antagonis yang terinfeksi tampil sebagai manifestasi kebiadaban murni, sering kali nyaris karikatural dalam kenikmatan mereka terhadap penderitaan orang lain. Pendekatan ini memperkuat horor visceral, tetapi juga menghilangkan kompleksitas moral yang bisa membuat film lebih berlapis.

Yang paling menonjol dari “The Sadness” adalah pendekatannya terhadap kekerasan. Film ini menolak sensor internal; mutilasi, kekerasan seksual implisit, dan penderitaan ekstrem ditampilkan secara grafis. Jabbaz jelas terinspirasi oleh tradisi horor ekstrem Asia, termasuk manga dan film Category III, namun ia memindahkannya ke konteks global pascapandemi. Pertanyaannya bukan lagi apakah kekerasan ini “perlu”, melainkan apa yang ingin dicapai dengannya. Di sinilah film ini menjadi kontroversial. Alih-alih membangun metafora sosial yang tajam, “The Sadness” sering kali terasa puas dengan provokasinya sendiri.
Namun, membaca film ini semata sebagai eksploitasi juga terlalu menyederhanakan. Ada nihilisme yang konsisten dalam visi film ini: gagasan bahwa peradaban adalah lapisan tipis yang bisa runtuh kapan saja, dan bahwa kekerasan bukan anomali, melainkan potensi laten dalam diri manusia. Film ini tidak menawarkan harapan, tidak memberi katarsis, dan tidak menyediakan jalan keluar moral. Dunia “The Sadness” adalah dunia tanpa pelajaran yang menenangkan.
Kelemahan terbesarnya adalah ketidakseimbangan antara ambisi tematik dan eksekusi naratif. Film ini ingin menjadi komentar tentang kemarahan kolektif, alienasi, dan dehumanisasi, tetapi terlalu sering memilih kejutan instan daripada refleksi yang lebih dalam. Akibatnya, pesan sosialnya tenggelam di bawah gelombang darah dan teriakan.
“The Sadness” adalah film horor yang akan memuaskan penonton yang mencari pengalaman ekstrem tanpa kompromi, tetapi mungkin mengecewakan mereka yang mengharapkan kedalaman psikologis atau alegori sosial yang lebih terstruktur. Ia penting sebagai contoh bagaimana horor pascapandemi bisa bergerak ke arah yang lebih gelap dan tanpa empati, namun juga menjadi pengingat bahwa intensitas saja tidak selalu cukup untuk menghasilkan makna yang bertahan.

