Connect with us
10 Rekomendasi Film Indonesia Bertema Perjuangan Kemerdekaan
The East

Cultura Lists

10 Rekomendasi Film Indonesia Bertema Perjuangan Kemerdekaan

Sederet film klasik hingga modern Indonesia bertema perjuangan dan perang.

Tak terasa kita kembali memperingati HUT RI yang ke-77 tahun ini. Memasuki pandemi tahun ketiga, industri perfilman Indonesia mulai bangkit. Sayangnya, tahun ini sepertinya belum ada sajian baru film bertema perjuangan terbaru yang rilis di bulan Agustus.

Ada beberapa film dengan tema perjuangan kemerdekaan klasik hingga modern yang bisa kita tonton di streaming platform. Berikut berbagai rekomendasi film Indonesia bertema perjuangan lintas generasi.

November 1828 (1979)

Disutradarai oleh Teguh Karya, “November 1828” merupakan film klasik Indonesia yang memenangkan tujuh penghargaan di Festival Film Indonesia. Termasuk mendominasi sebagai Film Terbaik pada 1979 silam.

Film drama epos ini bercerita tentang sekelompok penduduk di suatu desa di Jawa. Mereka melakukan pemberontakan menentang pemerintahan penjajah Hindia Belanda. Dibintangi oleh sederet aktor lama Indonesia mulai dari Slamet Rahardjo, Rachmat Hidayat, El Manik, dan Yenny Rachman.

Janur Kuning (1979)

Satu lagi film perjuangan dari angkatan klasik adalah “Janur Kuning”. Rilis ditahun yang sama dengan “November 1828”. Kalau film ini cuma masuk nominasi Piala Citra, namun filmnya masih masuk jajaran klasik yang patut ditonton. Menceritakan perjuangan merebut kembali kemerdekaan Indonesia dari tentara sekutu. Dimana cerita fokus pada karakter Letkol Soeharto yang menyakinkan Jenderal Sudirman untuk kembali ke Yogyakarta.

Kadet 1947 (2021)

Merupakan film perjuangan terbaru Indonesia tahun kemarin,”Kadet 1947” bisa di-streaming di Netflix. Film ini diangkat dari kisah sejarah peristiwa misi serangan udara pertama Angkatan Udara RI di Semarang, Salatiga, dan Ambarawa pada 29 Juli 1947. Dimana sekelompok kadet alias calon AU yang masih terbilang amatir, melakukan penyerangan di markas pertahan Belanda.

Film ini dibintangi oleh sederet aktor muda masa kini, mulai dari Bisma Karisma, Kevin Julio, Omara Esteghlal, Marthino Lio, Wafda Saifan, Fajar Nugra, dan Chicco Kurniawan.

Merah Putih (2009)

Kalau film modern satu ini berlatar di masa perang namun naskahnya fiktif. Mengisahkan sekelompok pemuda tanah air dari berbagai latar belakang suku dan agama. Meskipun saling berbeda, tujuan mereka sama, yaitu memperjuangan kemerdekaan Indonesia.

Film ini dibintangi oleh aktor-aktor populer, mulai dari Lukman Sardi, Donny Alamsyah, Darius Sinathrya, Zumi Zola, Teuku Rifnu Wikana, dan Rudy Wowor. Dengan segmentasi penonton muda, film ini merupakan bagian dari ‘Trilogi Merdeka’ yang memiliki misi memupuk jiwa nasionalisme bagi pemuda pemudi modern Indonesia.

Naga Bonar (1986)

Biar tidak tegang terus, “Naga Bonar” bisa menjadi tontonan berlatar masa penjajahan dengan sentuhan komedi.  Film klasik Indonesia ini populer dengan dialognya, “Apa kata dunia?”. Dibintangi oleh Deddy Mizwar sebagai Naga Bonar, seorang pencopet yang sering keluar-masuk penjara di Medan. Ia juga menjadi tentara garis depan ketika Belanda melancarkan serangan di Sumatra Utara, padahal proklamasi sudah dikumandangkan di Jakarta.

Battle of Surabaya (2015)

Kini waktunya melihat perjuangan kemerdekaan yang terjadi di Ibu Kota Jawa Timur, “Battle of Surabaya”. Film perjuangan karya anak bangsa ini dieksekusi sebagai film animasi 2D, disutradarai oleh Aryanto Yuniawan. Musa, seorang remaja tukang semir sepatu menjadi protagonis dalam kisah ini.

Ketika perang semakin memanas, Ia menjadi bagian dalam perjuangan arek-arek Suroboyo sebagai kurir pada pertempuran 10 November 1945. “Battle of Surabaya” menjadi film animasi yang meraih banyak prestasi di ajang film lokal hingga internasional.

Doea Tanda Mata (1985)

“Doea Tanda Mata” merupakan film klasik Indonesia tentang dua orang perwira di masa perang. Meski keduanya memiliki latar belakang berbeda, mereka memiliki alasan yang sama untuk berjuang. Proses produksi film di bawah produser Alfani Wiryawan dikembangkan melalui riset dan pencarian informasi yang akurat dalam kegiatan Akademi Militer di Magelang yang menjadi latar film.

Soekarno (2013)

Momen proklamasi menjadi momen besar yang paling sering diingat kembali pada 17 Agustus. “Soekarno” menjadi film drama perjuangan yang paling pas untuk memperingati momen bersejarah tersebut. Dibintangi oleh Ario Bayu sebagai Soekarno, film ini merupakan sajian biopik Bapak Proklamasi RI yang akrab disebut Bung Karno.

Lebih fokus pada kisah Soekarno dalam memperjuangkan kemerdekaan RI secepatnya melalui proklamasi. Mulai dari usaha diplomatik hingga menyusun naskah proklamasi dengan tokoh-tokoh bersejarah lainnya.

Tjoet Nja’ Dhien (1988)

“Tjoet Nja’ Dhien”, dibintangi oleh aktris senior dan berbakat, “Christine Hakim”. Seperti yang kita ketahui dari pelajaran sejarah, Cut Nyak Dhien merupakan pahlawan nasional wanita paling garang dalam sejarah Indonesia. Ia boleh wanita, namun Ia mengambil peran sebagai pemimpin gerilya yang sempat membuat kewalahan tentara Belanda di Aceh.

The East (2020)

“The East” (De Oost) merupakan film yang sedang mengundang kontroversi setelah tayang di Festival Film Belanda 2020. Bercerita tentang seorang pemuda Belanda, Raymond Westerling, seorang pimpinan pasukan khusus yang melakukan pembantaian di Sulawesi Selatan.

Film ini bisa menjadi tontonan bertema perjuangan kemerdekaan RI dari sudut pandang yang menarik, yaitu Raymond Westerling sebagai tentara dari kubu Belanda yang mengalami dilema sebagai penjajah.

Big Night! Big Night!

Big Night! Review: Tragicomedy yang Merekam Realitas Sosial Kaum Miskin Filipina

Film

Apakah James Bond Harus Selalu Kulit Putih?

Culture

avatar remastered 2022 avatar remastered 2022

Avatar Review: Masih Relevan untuk Penonton Masa Kini

Film

The Outsider Review The Outsider Review

10 Film Hollywood dengan Estetika Jepang

Cultura Lists

Connect