Connect with us
Emma Stone
Cr. Art Streiber

Cultura Lists

10 Film Emma Stone Terbaik dan Terikonik

Mulai dari Zombieland, La La Land, hingga Poor Things.

Aktris rupawan dan berbakat yang diidolakan di panggung utama, karir akting Emma Stone sedang berada pada puncaknya beberapa tahun belakangan. Memulai karir pada era 2000an di film romcom dan komedi remaja, san bintang kini telah berada di spektrum berbeda dalam panggung perfilman global. Tak hanya film-film komersil seperti “The Amazing Spider-Man” dan “Cruella”, Stone kini lebih banyak tampil di film-film Oscar-worthy.

Bicara tentang Oscar, Emma Stone telah masuk nominasi sebanyak 4 kali dan telah memenangkan satu Best Actress. Termasuk tahun ini, ia kembali berkat penampilannya dalam “Poor Things”. Menjadi aktris berbakat dengan katalog film yang beragam dan menyenangkan, berikut sedert film Emma Stone terbaik dan terikonik.

Zombieland (2009)

Meski bukan film breakthrough-nya, “Zombieland” menjadi film yang populer dalam filmografi Emma Stone. Beradu akting dengan aktor-aktor yang juga kini telah sukses mulai dari Jesse Eisenberg, Woody Harrelson, dan Abigail Breslin, Stone memikat sebagai gadis paling cantik di tengah zombie apocalypse, Wichita. Kesuksesan film komedi ini tak lepas dari chemistry sempurna Stone bersama cast lainnya.

Tak hanya sudah menawan secara fisik, Emma Stone sebagai Wichita memikat dengan kepribadiannya yang kuat, sedikit licik, dan pembawaan juteknya yang malah bikin gemes. Kemampuan Stone mengeksekusi komedi dalam film ini juga tidak bisa disepelekan.

Easy A (2010)

“Easy A” menjadi film breakthrough dari Emma Stone. Ia berperan sebagai Olive Penderghast, yang berbohong bahwa dirinya sudah tidak perawan lagi untuk alasan tertentu. “Easy A” merupakan film komedi remaja ikonik karena tema dan skenarionya yang unik bicara tentang reputasi, persepsi remaja tentang kehidupan seks, dan gosip di lingkungan sekolah.

Emma Stone tampil menarik sebagai Olive dengan kepribadiannya yang cukup kompleks. Cerdik, percaya diri, namun dibaliknya memiliki kerapuhan dan kecemasan karena persepsi sosial. Stone juga memiliki chemistry berkesan dengan Stanley Tucci dan Patricia Clarkson yang berperan sebagai orang tua Olive.

Crazy, Stupid, Love (2011)

Sebelum “La La Land”, Emma Stone dan Ryan Gosling berperan sebagai pasangan dalam film romcom “Crazy, Stupid, Love”. Ia berperan sebagai Hannah Weaver, wanita muda yang terlibat dalam lingkaran romansa kompleks. Dalam film ini, ia beradu akting dengan aktor populer lainnya, mulai dari Steve Carell, Lio Tipton, dan Julianne Moore.

Pengalaman Stone dan Gosling sebagai pasangan dalam film ini, secara tak langsung telah memperkuat penampilan keduanya dalam “La La Land” di masa depan. Meskipun Steve Carell dan Ryan Gosling adalah bintang utama dalam film ini. Nama Emma Stone juga tidak bisa dilupakan dari kepopuleran “Crazy, Stupid, Love”.

The Help (2011)

“The Help” merupakan film drama dengan isu rasisme, dimana Emma Stone berperan sebagai Skeeter Phelan, seorang jurnalis. Skeeter melakukan wawancara dengan ART dengan ras kulit hitam tentang pengalaman mereka bekerja di rumah keluarga Amerika kulit putih. Skeeter memiliki misi untuk membangkitkan kesadaran akan isu rasisme di Amerika pada masanya.

“The Help” merupakan film yang diadaptasi dari novel, meskipun bersifat fiksi, ada kesan biopik yang terasa dari film ini karena latarnya yang relevan dengan sejarah. Emma Stone beradu akting dengan bintang Hollywood yang kini sudah terkenal dan beberapa juga telah dianguerahi piala Oscar. Mulai dari Jessica Chastain, Viola Davis, Octavia Spencer, dan Bryce Dallas Howard.

The Amazing Spider-Man (2012)

Emma Stone semakin populer di panggung utama sebagai Gwen Stacy dalam “The Amazing Spider-Man” dengan Andrew Garfield sebagai Peter Parker. Menjadi Gwen Stacy kedua dalam skena Spider-Man live action, penampilannya lebih berkesan karena dalam ‘Spider-Man’ versi ini, Gwen Stacy menjadi kekasih utama Peter Parker.

Gwen versi Emma Stone juga lebih memikat karena karakternya yang tak hanya rupawan, ia juga cerdas dan membantu Peter dalam skenarionya. Tak kalah dengan chemistry Tobey Maguire dan Kirsten Dunst dalam film seri “Spider-Man” pertama, Andrew Garfield dan Emma Stone juga memiliki chemistry yang mendukung kesuksesan dari “The Amazing Spider-Man”.

Birdman or (The Unexpected Virtue of Ignorance) (2014)

“Birdman” menjadi film yang membawa Emma Stone pada nominasi Oscar pertamanya dalam kategori Best Supporting Actress. Ia berperan sebagai Sam, putri dari sang protagonis yang dibintangi oleh Michael Keaton. Cukup berbeda dengan peran-peran sebelumnya, baik secara fisik dan karakternya.

Dimana ia berperan sebagai perempuan yang memiliki hubungan kompleks dengan ayahnya sekaligus perjuangannya pribadinya melawan kecanduaan obat. “Birdman” menjadi film breakout kedua Emma Stone di Hollywood untuk level panggung yang lebih tinggi. Menjadi buah dari keberaniannya keluar dari zona nyaman untuk akhirnya masuk dalam jajaran A-list saat ini.

La La Land (2016)

“La La Land” menjadi puncak karir dari Emma Stone dengan nominasi keduanya pada ajang Oscar 2017. Kali ini sebagai Best Actress dan berhasil memenangkan penghargaan Oscar pertamanya. Tampil sebagai sempurna sebagai Mia, Stone adalah cast sempurna untuk wanita yang memiliki mimpi besar sebagai aktris dalam skenario garapan Damien Chazelle tersebut.

Sebagai film drama musikal modern, “La La Land” menjadi kesempatan sempurna Emma Stone unjuk bakat di berbagai bidang. Mulai dari berakting, bernyanyi, dan menari. Penampilannya semakin solid dengan chemistry maksimalnya bersama Ryan Gosling sebagai kekasihnya, Sebastian.

Battle of the Sexes (2017)

Kembali satu film dengan Steve Carell, dalam “Battle of the Sexes” Emma Stone menjadi pesaing sang aktor yang sudah luwes dalam skena komedi tersebut. Dalam film ini, keduanya menjadi atlet tenis dengan pertandingan bersejarah dalam bidang olahraga, Billie Jean King dan Bobby Riggs. Naskah yang diadaptasi dari novel ini menjadi versi dramatis dari peristiwa sungguhan antara kedua atlet yang bertanding pada 1973.

Berbeda dengan pendekatan akting ala film biopik pada umumnya, Stone dan Carell lebih ditantang untuk membangun chemistry persaingan dalam nuansa humor. Berbeda dengan Carell yang sudah lebih populer di skena komedi dan konsisten di genre tersebut, Stone ternyata tidak pernah kehilangan sentuhan humornya, terbukti melalui penampilannya dalam film ini.

The Favorite (2018)

Bisa jadi kesempatan berakting paling langkah dan membuka potensi baru dari di Emma Stone adalah “The Favorite”. Dalam film sutradara eksentrik, Yorgos Lanthimos, Stone berperan sebagai Abigail, pembantu kerajaan baru yang bersaing dengan Sarah Churchill, dibintangi oleh Rachel Weisz. Dimana sepajang plot keduanya saling bertarung untuk memperebutkan hati ratu dengan mental yang tidak stabil, Ratu Anne, diperankan Olivia Colman yang memenangkan Best Actress Oscar melalui film ini.

Sementara Emma Stone mendapatkan nominasi ketiganya untuk kategori Best Supporting Actress. Kembali memberikan penampilan yang mencolok dalam filmografinya, naskah “The Favorite” menantang Stone untuk menunjukan akting yang lebih dramatis dan berani.

Poor Things (2023)

Setelah “The Favorite”, tampaknya Yorgos Lanthimos jatuh hati dengan penampilan Emma Stone dan kembali mengajaknya berkerja sama. Kali ini tak hanya sebagai bintang utama, Stone juga menjadi salah satu produser untuk film “Poor Things”. Film ini diadaptasi dari novel berjudul serupa karya Alasdair.

Berlatar di era Victorian, Bella Baxter adalah wanita muda yang hidup kembali setekah bunuh diri berkat seorang ilmuwan. Kebangkitannya membawa Bella melakukan perjalanan menarik bersama kekasih barunya. “Poor Things” membawa Emma Stone pada nominasi keempatnya di Oscar 2024 untuk kategori Best Actress.

 

Lost in Translation & Her: Kesepian dan Perpisahan dari Dua Perspektif

Film

Siksa Kubur & Badarawuhi di Desa Penari: Rayakan Lebaran dengan Film Horor Lokal

Entertainment

Monkey Man Monkey Man

Film & Serial Terbaru April 2024

Cultura Lists

Perfect Days Perfect Days

Perfect Days: Slow Living & Komorebi

Entertainment

Connect