Connect with us
When My Love Blooms Review

TV

When My Love Blooms Review

Roda kehidupan berputar dan dua orang yang pernah saling mencintai kembali bertemu.

★ ★ ★ ★ ★
★ ★ ★ ★ ★

Akan sangat menarik bila film atau serial televisi dalam negeri dapat mengangkat isu-isu krusial seperti When My Love Blooms. Kekurangan dunia hiburan kita adalah masih kurang berani (atau tidak bisa) menyampaikan isu tersebut padahal sangat relatable.

Contohnya kesejahteraan buruh yang rendah, undang-undang yang merugikan rakyat, atau sesederhana kenaikan tagihan listrik. Kalaupun isu-isu tersebut diangkat, kebanyakan hanya berupa tempelan. Asal ada dan tidak dikupas komprehensif.

Kdrama When My Love Blooms mampu menampilkan kelebihannya dalam hal ini. Pada era 90-an, ada banyak demonstrasi mahasiswa. Pemerintah Korea dianggap terlalu kanan. Para mahasiswa memerjuangkan undang-undang untuk para buruh.

Tanpa ceramah bertele-tele drama ini mampu menampilkan gejolak politik dalam negeri. Mungkin, hal semacam ini belum akan dapat diraih oleh industri hiburan kita sebagai isu mainstream. Entah karena akan dikritik, tidak diminati publik, atau malah dicekal.

When My Love Blooms Review

When My Love Blooms | Viu

Korea menunjukkan superioritasnya dalam hal keberagaman isu yang bisa diangkat di industri hiburannya. Ditambah lagi isu-isu tersebut mampu dikemas ringan dan dibalut romance misalnya. Sebagai penonton kita jadi senang dan tak merasa seperti menonton siaran berita. Kalaupun dramanya sendiri dianggap terlalu berat, drama itu memiliki pasarnya sendiri. Namun keberagaman ini diperlukan agar dapat mendidik para penonton untuk lebih peka terhadap kondisi sosial negara.

Dua karakter utama dalam drama ini adalah seorang mahasiswa jurusan hukum yang vokal dan seorang mahasiswi yang berada. Namun roda kehidupan berputar. Si mahasiswa yang idealis dan benci pada kaum borjuis malah menjadi bagian dari kelompok tersebut. Ia menikahi perempuan kaya dan mendapatkan jabatan prestige. Ia juga mengingkari perjuangan buruh yang dulu ia bela. Kini ia menjadi penindas yang berhati dingin.

Sementara mahasiswi yang dulu hidup dengan baik kini serba kekurangan. Ia single parent yang ikut memerjuangkan gerakan kaum buruh. Anaknya dibully karena berasal dari keluarga miskin. Orangtua murid lain pun merendahkannya. Di sinilah titik yang memertemukan keduanya. Mereka bertemu kembali karena anak mereka berkelahi di sekolah. Han Jae Hyun, si mantan aktivis, akhirnya berhasil menemukan kembali cinta pertamanya di masa kuliah dulu yaitu Yoon Ji Soo.

Terlepas dari tidak masuk akalnya Ji Soo yang miskin bisa menyekolahkan sang anak di sekolah mahal, pertemuan mereka cukup mengesankan. Tidak klise tapi mengharu biru. Justru hubungan mereka ketika masih mahasiswalah yang terasa sedikit cringe. Namun itu dapat dipahami karena mereka masih sangat muda dan baru pertama kali jatuh cinta. Chemistry keduanya juga terjalin dengan baik dan mampu menampilkan patah hati yang dalam ketika bertemu lagi.

When My Love Blooms adalah jenis drama yang sendu. Namun selalu ada daya tarik pada drama bertipe seperti ini. Terutama bagi para penggemarnya skenario yang menarik ditambah pemain yang mendukung akan sangat dinantikan. Bagi beberapa orang, cinta pertama mungkin konsep yang overrated. When My Love Blooms menunjukkan bahwa hal itu masuk akal dan bisa sangat beralasan. Terutama bagi orang-orang yang hanya sekali itu saja merasakan kebahagiaan.

Click to comment

Leave a Comment

Advertisement
Cultura Podcast
Connect