Connect with us
The Last of Us

Current Issue

Tren & Kegagalan Adaptasi Video Game dalam Industri Film

Upaya industri perfilman untuk memuaskan penonton film sekaligus para gamers.

Sudah menjadi hal yang umum bahwa film hasil adaptasi video game cenderung berakhir dengan mengecewakan. Sebut saja beberapa judul seperti ‘Mortal Kombat: Annihilation (1997)’, ‘Lara Croft: Tomb Raider (2001)’ dan ‘Resident Evil (2002)’ yang mana secara filmografi belum ada yang mampu memuaskan para penonton atau para penggemar franchise video game itu sendiri. Bahkan sejak tahun 1993, skor rata-rata Rotten Tomatoes untuk semua film adaptasi video game mainstream hanya mencapai 27%.

Sebuah karya film hasil adaptasi franchise video game memang bukan konsep yang baru dalam industri perfilman. Fenomena adaptasi ini pertama kali dipelopori oleh film Super Mario Bros. yang rilis pada tahun 1993. Film ini dibuat sebagai versi live-action dari franchise game populer Super Mario. Namun seperti yang bisa ditebak, penayangan film ini banyak mendapat respon negatif dari para audiens. Bahkan Bob Hoskins sebagai pemeran Mario mengatakan sendiri kepada The Guardian bahwa Super Mario Bros. merupakan salah satu film terburuk yang pernah Ia perankan.

Kegagalan yang Terus Berulang

Meski fenomena adaptasi video game dibuka dengan buruk, Super Mario Bros. dapat dibilang sebagai pemicu awal gelombang tren Hollywood dalam merealisasikan lebih banyak judul video game ke dalam format film. Sejak saat itu industri perfilman Hollywood getol memproduksi film-film live-action dari video game populer lain seperti Doom, Silent Hill dan Street Fighter.

Meski telah menggelontorkan budget produksi yang cukup besar untuk lisensi dan CGI, film adaptasi video game belum pernah ada yang bertengger di IMDB Top 100 Movies of all Time, atau setidaknya mendapatkan rating di atas 80% oleh Rotten Tomatoes.

Alasan gagalnya film-film seperti ini adalah substansi plot dari video game yang memang didesain berbeda dengan media entertainment lainnya. Video game cukup berbeda dengan film, musik, ataupun buku. Video game menyuguhkan cerita dengan pengalaman interaktif tersendiri bagi para pemainnya. Dunia dalam video game dirancang sedemikian luas agar para pemain mampu mengeksplorasi lebih dalam. Umumnya, butuh waktu belasan hingga puluhan jam untuk menamatkan sebuah video game, dan itu pun belum termasuk side quest bila ingin menamatkannya hingga 100%.

Dengan luasnya dunia serta fitur semacam ini, maka sangat sulit bahkan cenderung mustahil untuk mengompress semua cerita itu menjadi 2-4 jam durasi film. Pun kalaupun berhasil, presentasi akhir dari film akan kehilangan banyak substansi plot dari sumber aslinya.

Kritikus film sekaligus reporter untuk Looper, Brandon Pope mengatakan “bagaimanapun juga mereka (pembuat film adaptasi video game) akan menyimpang dari tema dan cerita video game asli, atau mereka berusaha terlalu keras untuk mengikuti tema dan cerita game namun tidak menyesuaikannya secara cerdas ke dalam format layar”.

Alasan lain yang membuat film hasil adaptasi video game cenderung gagal adalah pemilihan sutradara yang kurang kompeten dalam menerjemahkan materi video game ke dalam film. Penunjukan sutradara untuk proyek film jenis ini seakan dibuat asal-asalan. Contohnya saja penunjukan sutradara seperti John Moore (Max Payne), Andrzej Bartkowiak (Doom, Street Fighter: Legend of Chun-Li) dan Uwe Boll (House of the Dead, Bloodrayen) yang konsisten punya rapor merah dalam filmografinya.

Selain inkompetensi, latar belakang para sutradara ini bukanlah seorang gamer. Mereka tidak tumbuh besar dalam kultur video game sehingga membuat mereka tidak terbiasa mengubah sumber materi game menjadi film. Satu-satunya cara sebuah film adaptasi video game agar berhasil yaitu dengan mengarahkannya ke tangan sutradara yang memang paham akan industri video game dengan pengalaman yang cukup dalam industri cinema.

Review Mortal Kombat

Photo via IMDb

Tren Live-Action yang Semakin Membaik

Terlepas dari kerugian para production house Hollywood akibat gagalnya film-film live-action video game, lantas mengapa industri perfilman tetap mengadaptasinya hingga sekarang?”

Penjelasan paling sederhana untuk memahami ledakan adaptasi video game ini yaitu karena adanya faktor uang. Perlu diketahui bahwa video game merupakan industri entertainment dengan nilai pasar paling tinggi secara global. Industri video game bahkan lebih menguntungkan daripada film. Pada tahun 2021, total nilai pasar seluruh industri video game mencapai $175 miliar. Angka ini lebih besar dibandingkan nilai pasar industri film global yang bernilai $100 miliar.

Secara demografis, 80% pemain video game di AS berusia di atas 18 tahun. Adanya peluang antara uang dan bonus demografis inilah yang menjadi alasan para eksekutif perfilman di Hollywood mempertahankan tren pembuatan film adaptasi video game hingga sekarang.

“Video game telah berevolusi menjadi sumber hiburan arus utama, dan platform seperti Netflix ingin mempertahankan dan menambahkan apa yang sedang populer di kalangan pelanggannya yang berusia muda,” kata investor sekaligus peneliti industri game Joost van Dreunen.

Beberapa tahun terakhir memang ada sedikit kemajuan pada film-film adaptasi video game seperti Pokémon Detective Pikachu (2019), Sonic the Hedgehog (2020), Mortal Kombat (2021), dan Uncharted (2022) yang masih menghibur dan layak untuk ditonton.

Uncharted

Kemajuan film adaptasi video game yang cukup signifikan terlihat pada Uncharted (2022) garapan Ruben Fleicher. Meski tampil dengan plot yang cukup predictable, Uncharted masih mampu menyuguhkan visual dan akting yang cukup memuaskan para penggemar serial game eksklusif Uncharted.

Saat ini para penggemar video game dan film sedang antusias menanti serial HBO “The Last of Us” yang rencananya akan rilis tahun 2023. Serial ini diadaptasi dari karya masterpiece Naughty Dog dengan judul sama. Mengambil latar kisah post-apocalyptic serta diperankan oleh Pedro Pascal sebagai Joel dan Bella Ramsey sebagai Ellie.

Dengan melihat adanya perkembangan pada film-film hasil adaptasi video game, maka tak menuntut kemungkinan tren ini akan terus berlanjut. Bila dilakukan dengan benar dan digarap dengan serius, adaptasi ini dapat menguntungkan industri perfilman dan menghibur para penikmat film sekaligus para gamers.

Click to comment

Teka-teki Tika Review Teka-teki Tika Review

Teka-teki Tika Review: Wadah Eksperimen Tanggung Rasa

Film

Lineup Musisi Internasional di Java Jazz Festival 2022

Cultura Lists

oslo ibrahim java jazz 2020 oslo ibrahim java jazz 2020

Lineup Musisi Indonesia di Java Jazz Festival 2022

Cultura Lists

Django Unchained Django Unchained

Django Unchained Review: Kisah Balas Dendam Seorang Budak

Film

Advertisement
Connect