Connect with us

Film

The Silent Forest Review: Membongkar Budaya Pelecehan Seksual di Sekolah Tuli

Rekaman tragedi mengerikan yang disajikan dengan sangat sunyi.

★ ★ ★ ★ ★
★ ★ ★ ★ ★

“The Silent Forest” (2021) merupakan sebuah film yang menjadi debut sutradara Chen-Nien Ko dalam menggarap film dengan format panjang. Mengangkat kisah tentang pelecehan seksual yang terjadi di sebuah sekolah khusus untuk anak-anak tuli, Film ini mampu mengundang banyak komentar positif dari kritikus film di negaranya, Taiwan.

Film yang berhasil mendapatkan banyak nominasi dalam ajang penghargaan Golden Horse Awards ini, turut didukung oleh penampilan aktor senior seperti Yang Kuei-mei Liu Kuan-Ting, dan Chang Pen-yu.

Diangkat dari Sebuah Peristiwa Nyata Paling Memilukan dari Sekolah Tainan

Film “Silent Forest” mendapatkan banyak reaksi dari berbagai kalangan saat kemunculan perdananya pada 15 oktober 2020 lalu, banyak diskusi panas tentang film ini karena keterkaitannya dengan kisah nyata yang terjadi di sebuah sekolah luar biasa di Tainan.

Sejak awal dimulainya film, penonton telah diberikan informasi bahwa “Silent Forest” adalah sebuah adaptasi dari tragedi kekerasan seksual yang terjadi di sebuah sekolah khusus anak-anak tuli pada 2011 silam. Film ini mengangkat kisah yang sama dengan menyamarkan indentitas para korban yang terlibat.

Pada peristiwa memilukan tersebut, setidaknya tercatat 164 insiden pelecehan dan kekerasan seksual yang melibatkan banyak siswa dengan gangguan tuli dan seorang tenaga pengajar. Yang membuat kasus ini banyak diperbincangkan di permukaan adalah karena jumlah korban dari kalangan siswa hampir mencapai 100 orang. Tragedi terkutuk ini kemudian berhasil dibongkar oleh Humanistic Education Foundation setelah terjadi selama bertahun-tahun.

Kisah Orang-orang Terasing yang Tidak Pernah Menemukan Tempat Berlindung

Permulaan cerita “Silent Forest” dibuka dengan pengenalan karakter Chang Cheng (Tzu-Chuan Liu), yang pindah ke sebuah sekolah khusus untuk anak-anak tuli sepertinya. Ia menemukan dunia berbeda saat berada di tengah-tengah anak  dengan keterbatasan pendengaran yang sama sepertinya. Chang Cheng tidak lagi merasa terasing seperti di sekolah lamanya, dan dia berhasil membangun hubungan pertemanan dengan seorang gadis cantik yang sangat suka berenang, bernama Bei Bei (Buffy Chen).

Kebahagiaan Chang Cheng menikmati dunia baru tidak bertahan lama, saat ia berangkat sekolah dengan sebuah bus jemputan, Chang Cheng mendapati peristiwa mengerikan terjadi, dimana sahabatnya, Bei Bei digambarkan secara eksplisit mendapatkan perlakuan kekerasan seksual dari teman-teman lelakinya di belakang bus. Kejadian tersebut sangat mengganggu pikiran Chang Cheng, namun Bei Bei menganggapnya sebagai hal biasa dan tetap pergi bermain dengan orang-orang yang mengerjainya.

Kejadian yang dialami Bei Bei kemudian menjadi pintu pembuka kejahatan seksual yang bukan hanya sekedar peristiwa kriminal tetapi sudah menjadi budaya yang ada selama bertahun-tahun di sekolah. Dengan dibantu seorang guru muda, Wang Da Jun (Liu Kuan-Ting) mereka membongkar fenomena gunung es kekerasan seksual yang terjadi selama bertahun-tahun di sebuah sekolah luar biasa di wilayah Tainan.

Karakter-karekter Kompleks yang Berkembang dari Sebuah Lingkungan Spesial

Chen-Nien Ko mengarahkan para pemainnya dengan sangat cemerlang, penampilan Bei Bei yang menjadi key factor cerita ini mengundang simpati dengan sikap polosnya, ia begitu menderita tetapi kebahagiaannya juga tercipta dari lingkungan yang membuatnya terluka. Ada bias antara keluguan dan penderitaan terpendam dalam diri Bei Bei.

Karakter Chang Cheng memikul tanggung jawab sama seperti apa yang dirasakan penonton. Ia hadir sebagai satu-satunya orang normal dari kalangan siswa tuli yang berusaha menampilkan amarah, rasa frustasi, dan ketidakpercayaan atas semua yang terjadi dengan teman-temannya di sekolah.

Kehadiran tokoh Xiao Guang (Kim Hyeon-Bin) juga berhasil menarik simpati dengan perkembangan karakternya yang ekstrem, dari seorang pelaku menjadi korban. Walaupun format seperti ini sudah sering dijumpai, namun pembawaan aktor Kim Hyeon-Bin sepertinya layak mendapatkan pujian.

Secara singkat setiap karakter yang ada di film “The Silent Forest” bisa memukau sesuai porsinya masing-masing. Penggunaan dialog yang kebanyakan memakai bahasa isyarat juga menciptakan gambaran penderitaan yang teramat hening dan sunyi. Ada satu kalimat baru yang artinya tidak akan sama lagi ketika sudah selesai menonton film ini, yaitu “kita hanya sedang bermain-main” dengan gerakan bahasa isyarat yang khas, kata-kata itu sangat mengerikan.

Film dengan Pendekatan Multi Genre dengan Tema Suram

Visual “The Silent Forest” banyak menampilkan warna gelap, menghadirkan penampakan gang-gang tanpa penerangan, ruang-ruang kelas yang tidak terawat, dan gudang-gudang kotor yang menambah sisi suram keseluruhan cerita ini.

Chen-Nien Ko membuat film ini seperti film horor yang kelam, tetapi ada pendekatan magis yang terekam saat adegan Bai Bai dan Chang Cheng menjumpai sesosok dewa penolong saat mereka terhimpit situasi yang tidak ada peluang pertolongan dari manusia. “The Silent Forest” adalah film multi genre yang memiliki kekuatan dari segi cerita.

Pada akhirnya, film yang berhasil masuk banyak nominasi di ajang penghargaan Golden Horse Awards ini bisa menjadi drama yang mampu menguras emosi dan membuat frustasi. Film ini mungkin menampilkan warna cerah menjelang akhir, namun seperti pada kenyataannya bahwa kasus pelecehan dan kekerasan seksual tidak bisa dengan mudah diputus rantai kejahatannya, akan muncul pelaku-pelaku baru yang pada mulanya bernasib sial sebagai korban.

Click to comment

top gun maverick top gun maverick

Top Gun: Maverick Review – Sajian Nostalgia Yang Mendebarkan

Film

Chip ‘n Dale: Rescue Rangers Chip ‘n Dale: Rescue Rangers

Chip n’ Dale: Rescue Rangers Review

Film

Little Big Women Little Big Women

Little Big Women: Cerita Para Perempuan dan Cara Menyembuhkan Diri dengan Memaafkan

Film

Coda review Coda review

CODA Review: Antara Mimpi dan Menjadi Telinga Bagi Orang Lain

Film

Advertisement
Connect