Film

The Princess Review: Putri Berjiwa Kesatria yang Serba Instan

Aksi Joey King sebagai putri tangguh dalam dongeng yang biasa saja. 

“The Princess” (2022) merupakan film Hulu Original terbaru yang kini sudah bisa di-streaming di Disney+ Hotstar. Dibintangi oleh Joey King, Ia berperan sebagai tuan putri yang dijodohkan untuk menjamin pewaris tahta di kerajaannya. Ketika Ia menolak untuk menikahi Julius (Dominic Cooper), Ia harus menerima konsekuensi yang mengancam keselamatan keluarga dan kerajaannya. Namun, Julius mungkin telah memulai penindasan dengan putri yang salah.

Cukup trending di media sebelum rilis, “The Princess” terlihat memiliki konsep badass princess yang ingin disuguhkan. Mendobrak citra putri-putri dalam semesta medieval yang biasanya anggun dan lemah. Selalu menjadi korban yang diselamatkan, serta piala piala untuk dimenangkan.

Sebetulnya film ini memberikan ekspektasi akan dongeng putri yang klise. Mengagung-agungkan emansipasi wanita dan feminisme yang kini telah memiliki definisi baru, girl power. Jujur saja kebanyakan dari kita mungkin tidak memiliki ekspektasi tinggi untuk film ini. Apakah “The Princess” mampu membuktikan dirinya sebagai dongeng tuan putri tangguh yang menyajikan kisah baru?

Sekuen Bertarung Seru dengan Koreografi yang Detail

“The Princess” setidaknya akan membuat kita terkejut dengan elemen laganya. Buat penggemar film full action dengan adegan bertarung bertubi-tubi, film ini mungkin bisa menjadi hiburan yang memacu adrenalin.

Film dengan durasi kurang lebih satu setengah jam ini didominasi dengan adegan laga bertarung yang variatif. Koreografi duel maupun pertarungan kelompok memiliki arahan yang sangat detail. Jatuhnya memang cukup repetitif, namun setidaknya selalu ada senjata dan koreografi baru yang disajikan dalam setiap kesempatan.

Joey King menampilkan potensinya sebagai aktris laga dengan sangat maksimal. Terlihat usaha dan kerja kerasnya dalam mewujudkan setiap adegan bertarung yang menjadi bagiannya. Mulai dari mengayunkan pedang, hingga berstrategi dengan sumber bantuan yang terbatas. Selain King, dua aktris lainnya, Ngo Thanh Van dan Olga Kurylenko juga tampil maksimal dalam setiap adegan bertarung. Apalagi ketika ketiganya bertarung dalam satu ruangan. Adegan tersebut merupakan adegan bertarung terbaik dalam “The Princess”.

Transformasi Tuan Putri sebagai Kesatria yang Instan

Satu-satunya transformasi yang menarik Joey King dalam “The Princess” adalah transformasi gaun pernikahannya. Secara bertahap berubah menjadi tampilan kesatria yang tangguh sekaligus menawan. Akan mengingatkan kita pada transformasi gaun pernikahan dalam film thriller “Ready or Not” (2019). Namun pengembangan karakter sang tuan putri terasa instan.

Meski dalam promosi kita sudah diberi gambaran tentang konsep badass princess, film seharusnya mampu memberikan latar belakang cerita yang lebih mendalam. Penonton seakan dipaksa untuk kagum dengan tuan putri tangguh ini hanya karena Ia terampil dalam bertarung. Ia tidak mau menjadi putri biasa yang dijadikan piala untuk dinikahi. Pada titik ini poin cerita serupa sudah generik. Sudah banyak juga putri-putri tangguh yang menjadi ikon dalam budaya pop dewasa ini.

Ketika kita bertanya-tanya, mengapa putri satu ini bisa bertarung? Kita cuma akan dibawah ke adegan flashback dimana Ia berlatih dengan pelayannya. Semua jawaban serba instan dan terasa satu dimensi. Bahkan beberapa karakter jadi terlihat hanya ada untuk melengkapi cerita saja. Banyak elemen dalam film ini terlihat seperti dummy tanpa jiwa, karena tidak ada penokohan yang mendalam.

Alur Cerita Berlatar Medieval yang Tidak Memiliki Nyawa

“The Princess” memiliki semesta medieval sebagai latar cerita yang terasa hampa. Ada banyak latar generik yang seharusnya tidak dilewatkan oleh penulis naskah. Mulai dari latar belakang kerajaan, latar belakang raja dan ratunya, hingga latar belakang antagonisnya; Julius dan Moira, menjarah kerajaan tanpa aturan main yang jelas.

Film ini ingin menghadirkan citra putri tangguh yang baru, yang lebih berpihak pada tren girl power di era modern. Namun pola cerita dan plot yang diadaptasi sudah kuno. Mulai dari pembukaan, konflik, hingga akhir cerita. Secara keseluruhan sangat bias dengan protagonis dan memiliki akhir yang bisa ditebak.

Babak awal “The Princess” terasa sudah menjadi adegan pertengahan dalam suatu kisah. Dimana  sang putri tiba-tiba sudah pandai saja melakukan perlawanan. Mengapa pembatalan pernikahan saja bisa menjadi penjarah yang besar seperti ini? Apa kontribusi raja sebelum akhirnya jatuh di tangan Julius? Plot cerita seakan sudah tidak sabar menunjukan aksi sang putri. Tanpa mengenal antagonis terlalu dalam, justru membuat penonton cepat bosan dan malas dalam menyimak konflik yang sedang berlangsung.

Pada akhirnya, “The Princess” boleh menghadirkan banyak adegan bertarung yang seru. Joey King juga memberikan penampilan laga dengan semangat yang terlihat jelas sebagai sosok putri tangguh. Sayangnya, ada banyak elemen dalam “The Princess” yang terlihat seperti rekayasa fantasi tanpa nyawa.

Bernadetta Yucki

Writer, hardcore movie enthusiast who believes in pop culture.

Share
Published by
Bernadetta Yucki