Connect with us
the irishman review
Netflix

Film

The Irishman Review: Kisah Pembunuh Bayaran dengan Storytelling yang Hangat

Memiliki dialog berat dengan pengembangan cerita yang lambat namun berkualitas.

★ ★ ★ ★ ★
★ ★ ★ ★ ★

“The Irishman” merupakan film terbaru karya Martin Scorsese yang rilis pada 27 September 2019 di New York Film Festival. Namun, kita sudah bisa menontonnya secara streaming di Netflix semenjak akhir November lalu.

Film bergenre drama kriminal ini diangkat dari buku karya Charles Brandt berjudul “I Heard You Paint Houses”. Bercerita tentang seorang supir truk yang menjadi pembunuh bayaran bernama Frank Sheeran (Robert De Niro). Ia bekerja untuk keluarga Bufalino, keluarga mafia terkuat di Amerika Serikat pada zamannya.

“The Irishman” merupakan salah satu proyek besar dari Martin Scorsese tahun ini. Ia tampak meluapkan semua kemampuan dan memperhatikan banyak aspek penduduk dalam film ini agar menjadi film yang berkualitas dan sempurna.

Mulai dari pemilihan aktor-aktor ternama untuk memerankan tokoh-tokoh penting, screenplay yang kaya dialog, pengembangan cerita yang panjang namun berbobot, hingga unsur produksi seperti CGI dan properti untuk membangun suasana nostalgia Amerika pada tahun 60-an hingga 70-an. Semuanya disuguhkan bagai wine berkualitas tinggi dalam film berdurasi 3 jam 29 menit ini.

Kisah Berdarah yang Disajikan Secara Hangat

Berbeda dengan film-film mafia pada umumnya yang membuat kita bergidik dan melihat pelakunya sebagai pembunuh berdarah dingin, “The Irishman” memiliki gaya penyajian cerita yang hangat dan menyentuh sisi kemanusian kita juga bahkan untuk seorang pembunuh bayaran.

Film ini menggunakan alur cerita flashback, diawali dengan setting masa depan di sebuah panti jompo, tempat Frank Sheeran tinggal di masa tuanya. Ia akan bercerita kepada kita sebagai penonton tentang masa lalunya sebagai pembunuh bayaran dan seluk beluk “kriminal kerah putih” di Amerika Serikat.

Tak hanya melihat Frank Sheeran melancarkan aksinya membunuh orang tanpa hati nurani, kita juga akan melihat sisi hangat dari kehidupan mafia. Mulai dari menghabiskan waktu bersama anak-anak mereka, hubungan persaudaraan antar anggota mafia yang saling membantu satu sama lain, dan ketaatan mereka pada gereja untuk membaptis anak mereka.

Tokoh-tokoh Menarik dengan Kepribadian yang Kuat

Martin Scorsese memilih Robert De Niro untuk memerankan Frank Sheeran, seorang pembunuh bayaran yang juga ramah dan memiliki solidaritas tinggi. Joe Pesci mendapat bagian sebagai Russell Bufalino, pria pendiam yang tak banyak bicara namun memiliki kekuasaan yang besar. Aktor senior, Al Pacino berperan sebagai Jimmy Hoffa pemimpin dari union Amerika yang keras kepala dan memiliki harga diri tinggi.

Secara sekilas, frame memang dipenuhi dengan pria-pria berjas dengan stereotip yang sama. Namun, jika kita sudah mengenal masing-masing peran dari para aktor, kita bisa melihat perbedaan kepribadian dari masing-masing tokoh yang sangat kontras satu sama lain.

Dikemas Dengan Produksi Film yang Maksimal

Kita sudah berbicara tentang kualitas dari penulisan naskah dan akting setiap aktor senior, yang berkualitas dalam “The Irishman”. Inti film yang sudah berkualitas dikemas dengan produksi visual dan properti yang semakin menyempurnakan film drama berdurasi panjang ini.

Kita mungkin tidak sadar bahwa ada CGI yang digunakan dalam film ini. Penuaan yang terjadi pada setiap tokoh dalam visual ini merupakan hasil dari CGI berkualitas tinggi.

Setiap setting seperti rumah, restoran, bar, dan jalan-jalan di Amerika, mendukung atmosfer film mafia ini. Begitu pula gaya busana wanita yang ikonik pada tahun 60-an yang bisa kita lihat pada setiap tokoh pendukung. Penampilan visual ini memberikan sentuhan estetika dan vintage yang eye catchy.

Rodrigo Prieto sebagai pengatur sinematografi juga mengadaptasi berbagai gaya pengambilan gambar pada “The Irishman”. Mulai dari teknik panning yang akan membuat kita sebagai penonton “masuk” ke dalam film, panning cepat setiap adegan perbincangan yang sengit, hingga slow motion pada beberapa bagian untuk mengabadikan momen yang cepat secara artistik.

Namun, “The Irishman” mungkin bukan film yang akan digemari oleh semua kalangan. Bagi penggemar film “The Godfather” atau film-film mafia klasik lainnya, “The Irishman” bisa menjadi film yang sangat brilliant dan seru untuk ditonton.

Durasi yang panjang dengan adegan yang didominasi dengan perbincangan dan minim gejolak secara visual, berpotensi sebagai film yang cukup membosankan bagi sebagian kalangan penikmat film.

Namun jika dinilai secara profesional dari masing-masing aspeknya, secara keseluruhan, “The Irishman” mengobati kerinduan akan film mafia klasik yang berkualitas dan memanfaatkan teknologi perfilman modern untuk menyempurnakannya.

Click to comment
Advertisement
Cultura Podcast
Connect