Connect with us
The Invisible Man
Universal Pictures

Film

The Invisible Man Review: Kiasan Terbaik Untuk Kekerasan Yang Tak Terlihat

Sebuah karakter klasik yang dibentuk ulang dalam jenis kisah baru yang lebih mawas di tengah pergerakan #MeToo.

★ ★ ★ ★ ★
★ ★ ★ ★ ★

Kasus mengenai hubungan abusif sepertinya mendapatkan perhatian yang semakin meningkat beberapa tahun terakhir sejak pergerakan #MeToo mulai terkenal.

Pada dasarnya, pergerakan ini meminta untuk masyarakat mulai mendengarkan korban kekerasan seksual. Namun bagaimana jika pelaku kekerasan tidak bisa terlihat? Film The Invisible Man menyuguhkan mimpi buruk baru untuk para penyintas dengan menggunakan karakter yang sudah dikenal sejak lama.

Dibuka dengan proses pelarian Cecilia dari tempat tinggal kekasihnya, Adrian, The Invisible Man sudah menunjukkan betapa mengerikannya kondisi di dalam hubungan abusif sejak awal.

Beberapa minggu sejak Cecilia kabur, Adrian dinyatakan meninggal karena bunuh diri. Namun justru mimpi buruk Cecilia dimulai sejak itu. Tanpa penampakan sedikit pun, Cecilia mulai percaya bahwa Adrian belum meninggal dan masih menguntit dirinya.

The Invisible Man Review

Universal Pictures

Film The Invisible Man sebenarnya sudah melalui jalan panjang sejak tahun 2006. Pada awalnya, film ini direncanakan menjadi bagian Dark Universe yang diciptakan oleh Universal Pictures untuk monster-monster klasik yang ingin dibangkitkan kembali di layar lebar. Namun sejak Dark Universe gagal dibuat, The Invisible Man akhirnya diserahkan kepada Blumhouse Production untuk diciptakan kisah baru yang sesuai dengan zaman.

The Invisible Man adalah sebuah karakter klasik yang pertama kali diciptakan oleh H.G. Wells. Sudah banyak adaptasi yang dibuat mengenai karakter ini, tetapi film keluaran tahun 2020 ini mengambil alur cerita yang sungguh berbeda dan sangat sesuai dengan zamannya.

Meski begitu, penokohan karakter The Invisible Man alias Griffin sendiri tetap cukup sesuai dengan kisah aslinya, seorang ahli optik yang menemukan cara untuk membuat dirinya tidak bisa terlihat.

The Invisible Man

Universal Pictures

Pemeran karakter Cecilia, Elizabeth Moss, sangat menguasai keseluruhan film ini dengan kantung mata dan gelagat paranoidnya. Bahkan cara dia berjalan perlahan ketika berusaha untuk kabur di awal film rasanya sangat menunjukkan betapa krusialnya adegan tersebut. Dari karakter damsel in distress yang tipikal, Elizabeth Moss berhasil membawa karakternya berkembang pesat dari situ.

Sejak awal film, pengarahan Leigh Whannell paling parah bisa membangkitkan trauma para penyintas kekerasan dalam pacaran, bahkan paling minim pun penonton dapat melihat betapa menyeramkannya terjebak dalam hubungan abusif. Ditambah dengan pembawaan musik ciptaan Benjamin Wallfisch, adegan-adegan yang hanya sekadar menunjukkan trauma yang menyebabkan korban menjadi paranoid juga cukup mengagetkan bagi penonton biasa.

Warning: spoiler

Leigh Whannell juga sudah menuliskan naskah The Invisible Man dengan sangat baik. Terdapat sejumlah dialog yang merujuk pada hal-hal yang sangat khas ditemui dalam kasus kekerasan.

Pada suatu adegan, Cecilia mengatakan bahwa Adrian selalu membuatnya merasa seakan dia gila. Dalam film, ia mengatakannya karena Adrian berhasil membuatnya menjadi tersangka pembunuhan dan ditahan di institusi penanganan sakit jiwa.

Namun dalam hubungan abusif, terdapat metode guilttripping yang membuat korban mempertanyakan realita yang dia ketahui sehingga merasa dia lah yang gila.

Secara keseluruhan, The Invisible Man adalah film yang sesungguhnya adalah kiasan paling tepat untuk kekerasan dalam hubungan yang tak terlihat. Karena dalam hubungan yang abusif, kekerasan yang dihadapi sering kali ditutupi oleh pelakunya, sebagaimana karakter The Invisible Man yang tidak terlihat tetapi bisa menyiksa korbannya terkena ganjarannya.

Pada akhirnya, mungkin situasi yang menyeramkan–baik disebabkan oleh hubungan abusif atau oleh seorang sosiopat jenius yang bisa membuat dirinya tidak terlihat – dapat dihindari jika orang-orang bersedia untuk mulai mendengarkan korban.

Click to comment
Advertisement
Cultura Podcast
Connect