Connect with us
Spinning Out Review
Netflix

TV

Spinning Out Review: Bukan Serial Tentang Ice Skating

Terlalu banyak isu moral dan kemanusian yang ingin disampaikan.

★ ★ ★ ★ ★
★ ★ ★ ★ ★

“Spinning Out” merupakan Netflix Original Series terbaru yang sudah bisa ditonton sejak 1 Januari 2020. Dibintangi oleh Kaya Scodelario, January Jones, Willow Shields, dan Evan Roderick.

Dalam trailer promosinya, “Spinning Out” memberikan kita ekspektasi akan serial drama olahraga yang penuh dengan perjuangan mental dan batin serta berfokus pada karakter utama, Kat yang diperankan oleh Kaya Scodelario. Namun nyatanya, serial ini akan menyuguhkan lebih banyak konten cerita dari apa yang kita harapkan.

Kat Baker adalah seorang atlet ice skating single yang mengalami trauma semenjak dirinya jatuh di ring es. Setelah kejadian tersebut, performanya dalam membawakan tarian di atas es semakin menurun. Tak hanya kehilangan kemampuannya, Kat juga mulai kehilangan dukungan dari ibunya yang beralih fokus untuk mendukung Serena, adiknya yang juga seorang atlet ice skating.

Hingga akhirnya Kat mendapat kesempatan untuk kembali mengejar impiannya sebagai atlet ice skating pasangan bersama dengan Justin, laki-laki yang ingin Kat hindari.

Spinning Out Review

Netflix

Bukan Drama Tentang Ice Skating

Terdiri dari 10 episode, “Spinning Out” akan mengecewakan penonton dengan konten yang minim tentang ice skating. Mulai dari episode pertama hingga 4, fokus Kat dengan dunia ice skating-nya secara perlahan memudar hingga akhirnya merubah genre serial ini menjadi drama percintaan antara Kat dan Justin.

Ada beberapa scene yang menunjukan atlet-atlet ini berlatih dan tampil di arena es. Namun, lebih banyak waktu yang mereka habiskan di luar arena es.

Dari awal, kisah Kat telah memiliki premise yang jelas; seorang atlet yang trauma dan berjuang untuk kembali mengejar impiannya. Kat takut melakukan salah satu trick yang membutuhkan konsentrasi dan kemampuan sempurna. Butuh sekitar 2 episode hingga akhirnya Kat mau mencoba trick tersebut. Namun, momentum tersebut tidak ditampilkan dengan progress yang bertahap dan eksekusi akhir yang berlalu begitu saja.

Setelah episode itu berlalu, Kat sudah tidak takut lagi, namun kita harus bertahan selama 6 episode kebelakang untuk melihat hubungan Kat yang tak ada bedanya dengan drama romantis Amerika dengan karakter utamanya yang tidak pandai dalam mengambil keputusan. Tak hanya Kat, hampir semua karakter dalam serial ini memiliki sifat yang impulsif dan sikap pengambilan keputusan yang tidak jelas.

Terlalu Banyak Konten Kemanusian yang Ingin Disampaikan

“Spinning Out” juga tidak fokus dalam menentukan isu apa yang hendak ditonjolkan dalam ceritanya.

Kat dan keluarga merupakan satu set karakter yang sudah memiliki banyak masalah; keluarga disfungsional, anak dan ibu yang mengidap bipolar, dan anak remaja labil yang masih dalam masa pertumbuhan. Penulis telah memberikan banyak beban pada satu keluarga ini, namun tidak bertanggung jawab untuk menuntaskan semuanya dengan baik.

Kita juga akan disuguhkan konten kemanusian lainnya yang tidak dibawakan dengan maksimal. Mulai dari perjuangan atlet yang harus menyerah karena cedera, isu LGBT, kesehatan mental, pelecehan seksual, hingga isu rasial.

Semuanya hanya ditampilkan dalam berbagai potong adegan yang terkesan sebagai “tempelan” saja. Bukannya membuat penonton tersadar dan simpati, namun meninggalkan kekesalan dan kebencian tanpa solusi yang jelas. Banyak plot hole yang meninggalkan banyak tanda tanya.

Mencapai episode terakhir, penonton hanya akan bersyukur karena akhirnya serial ini selesai juga.

Secara keseluruhan, “Spinning Out” bukan serial drama yang akan membuat penonton puas jika berekspektasi tentang kisah seorang atlet ice skating dengan kisah perjuangannya mencapai mimpinya. Kat dalam serial ini tidak berhasil membuat kita percaya bahwa ice skating adalah hal terpenting dalam hidupnya. Koreografi dan tarian yang ditampilkan termasuk pendek dan kurang monumental.

“Spinning Out” lebih pantas dimasukan dalam kategori drama percintaan yang penuh dengan konflik dan berbagai isu kemanusian yang membuat penonton lelah.

Click to comment

Leave a Comment

Spenser Confidential Review Spenser Confidential Review

Spenser Confidential Review

Film

3 hari untuk selamanya review 3 hari untuk selamanya review

3 Hari Untuk Selamanya: Meratapi Kebebasan Semu

Film

50 Rekomendasi Kdrama Saat Di Rumah Aja 50 Rekomendasi Kdrama Saat Di Rumah Aja

50 Rekomendasi Kdrama Saat Di Rumah Aja

Cultura Lists

The Platform Review The Platform Review

The Platform Review: Kehidupan Keras Penjara Vertikal di Masa Depan

Film

Advertisement
Connect