Connect with us
sea fever
Photo: Gunpowder and Sky

Film

Sea Fever Review: Ancaman Monster dan Wabah Menanti di Laut

Di tengah lautan luas, Sea Fever memiliki segala hal yang gagal dimiliki oleh Underwater (2020).

★ ★ ★ ★ ★
★ ★ ★ ★ ★

Pada bulan Januari, Underwater (2020) rilis di seluruh bioskop sedunia dan mendapatkan komentar yang bervariasi. Beberapa kritik menyambut adanya film monster di dalam laut yang sangat jarang dijelajahi, tetapi beberapa lainnya merasa bahwa film tersebut terlalu bertumpu pada laga bertahan hidup tanpa menyuguhkan kisah yang berarti. Hingga film Sea Fever akhirnya dirilis secara digital.

Sea Fever menyuguhkan keseluruhan aspek perfilman yang sangat kuat dengan lika liku permasalahan dan karakter yang dinamis. Bukan hanya sekadar film monster laut, Sea Fever mengadopsi paham bahwa terdapat banyak hal yang belum diketahui mengenai makhluk laut, tetapi apa yang akan kita lakukan apabila mereka menjadi ancaman seluruh dunia?

Sea Fever

Sea Fever

Siobhan, seorang mahasiswa pendiam dan reklusif, terpaksa harus menjalankan penelitian di sebuah kapal penangkap ikan. Sebagai satu-satunya orang luar di kapal tersebut, Siobhan tetap menjaga jarak dari awak kapal lain. Hingga suatu waktu, kapal tersebut diserang oleh sebuah makhluk laut yang tidak pernah ditemukan sebelumnya. Sebagai seorang peneliti, Siobhan berusaha untuk mencari tahu apa makhluk tersebut, tetapi apakah para awak kapal lainnya akan mengikuti arahannya begitu saja? Ataukah mereka semua akan tenggelam dalam serangan demam lautan?

Disutradarai dan ditulis oleh Neasa Hardiman, film Irlandia ini menyuguhkan kisah, visual, dan performa kelas atas dari seluruh kru dan jajaran pemainnya. Melalui arahannya, Neasa Hardiman berhasil menangkap betapa terisolasinya seseorang ketika berada di lautan yang terbuka luas serta lorong-lorong dan ruang-ruang sempit di kabin awak kapal yang menimbulkan rasa klaustrofobik.

Sea Fever Review

Photo: Gunpowder and Sky

Tanpa menyampingkan garis besar cerita secara keseluruhan, Neasa memutuskan untuk lebih sering menyorot para karakter dari dekat dan memberikan kehidupan yang lebih nyata dari mereka walau hanya memiliki durasi 1,5 jam. Tidak seperti film monster umumnya, Sea Fever melakukan pendekatan naratif yang lebih personal dan mengetuk sisi kemanusiaan tiap orang.

(Warning: spoiler)

Sisi kemanusiaan yang diungkit dalam Sea Fever bukan hanya tentang itikad baik manusia dalam menolong manusia lain, tetapi juga ego yang sudah tertanam dalam diri manusia. Pada pertengahan film, Sea Fever sedikit bergeser dari sebuah film tentang monster laut menjadi tentang film potensi wabah.

Beberapa kritikus bahkan menyamakan keadaan dalam film tersebut serupa dengan keadaan dunia nyata saat ini yang tengah diterpa pandemi. Hal inilah yang membuat Sea Fever sebuah paket lengkap, karakter-karakternya sangat dinamis dan menggambarkan reaksi manusia yang berada di tengah ancaman penyakit.

Siobhan yang memiliki latar belakang peneliti tentu bertumpu pada sains untuk menunjukkan sisi kemanusiannya, yaitu dengan memaksa seluruh awak kapal untuk mengisolasi diri dalam kapal selama 36 jam untuk memastikan bahwa mereka tidak terinfeksi. Namun para awak kapal lainnya memiliki sisi kemanusiaan lain, yaitu mementingkan ego mereka untuk segera kembali ke daratan, tanpa peduli untuk memastikan apakah mereka akan membawa penyakit ke daratan atau tidak. Maka tak heran jika orang-orang menyamakan situasi dalam film ini dengan situasi nyata saat ini.

Sea Fever

Photo: Gunpowder and Sky

Bukan hanya penggambaran para karakter yang sangat manusiawi saja yang membuat mereka menjadi lebih hidup, para pemain film Sea Fever juga menampilkan performa terbaik mereka. Terutama Hermione Corfield yang menjadi pemeran utama dalam film ini. Sang aktris berhasil membawa karakter Siobhan dalam sebuah perjalanan yang mengubahnya dari seorang penyendiri menjadi seseorang yang rela mengorbankan dirinya sendiri untuk seseorang yang baru dia kenal beberapa hari sebelumnya.

Perkembangan karakter Siobhan didukung oleh performa Hermione yang menunjukkan konflik dalam diri sang karakter dengan sangat jeli dan alamiah. Performa sang aktris dapat membuat penonton mendukungnya, tetapi saat bersamaan tidak mendukung perbuatan sang karakter, sebuah permainan emosi yang sangat mahir dari sisinya.

Secara keseluruhan, Sea Fever memberikan segala hal, dan lebih, dari yang diharapkan oleh para pecinta film monster. Bukan hanya mengenai bertahan hidup di tengah serangan monster yang tidak teridentifikasi, Sea Fever juga membuat penonton mempertanyakan sisi kemanusiaannya. Di hadapan ancaman nyawa, apakah mereka akan memilih untuk menyelamatkan diri sendiri, atau menyelamatkan ribuan orang lainnya?

Click to comment
Advertisement
Cultura Podcast
Connect