Connect with us
Saw X

Film

Saw X Review: Selalu Ada Kesempatan Kedua

Tampilkan pesan kehidupan dalam balutan sadisnya.

★ ★ ★ ★ ★
★ ★ ★ ★ ★

Dalam menjalani kehidupan, selalu ada pihak yang senantiasa menjalani kebaikan dan pihak lain yang menerapkan kejahatan seiring waktu. Meski begitu, kedua pihak ini tetap memiliki kesempatan kedua, terutama ketika nyawa sudah menjadi taruhannya. Singkatnya, ini yang ingin diusung pada ‘Saw X’ yang sedang bersemayam di bioskop Indonesia.

‘Saw X’ merupakan film produksi Twisted Pictures dari Lionsgate yang disutradarai oleh Kevin Greutert, sebelumnya menjadi sutradara dari ‘Saw VI’ dan ‘Saw 3D’ beberapa tahun silam. Membawa Tobin Bell dan Shawnee Smith sebagai regular cast dalam seri ‘Saw’ serta beberapa bintang baru seperti Synnøve Macody Lund, Steven Brand, hingga Michael Beach.

Saw X

Film ini berkisah tentang John Kramer yang didiagnosis kanker otak stadium akhir dan mencoba pengobatan khusus atas rekomendasi pengidap kanker lain. Akan tetapi, ketika ia mendapati bahwa pengobatan yang dijalani adalah penipuan, ia mulai menjebak berbagai orang yang terlibat ke dalam permainan mengerikan yang telah dirancang sedemikian rupa.

Dalam narasinya, ‘Saw X’ berlatar di antara ‘Saw’ dan ‘Saw II’, membuat penonton dibawa kembali ke masa-masa awal seri film ini hadir. John Kramer yang pada film-film terdahulu diposisikan sebagai mastermind dari ujian keji dan sadis, kali ini penonton dibawa mendalami kisah mengenai dirinya yang mencoba menghukum para pelaku kejahatan. Hal ini membuat film ini memiliki point-of-view yang berbeda dibanding beberapa film lain, di mana sebagian besar film dalam seri ini membawa penonton dari sudut pandang korban dari Jigsaw tersebut.

Terkait kontinuitasnya, ‘Saw X’ hanya melanjutkan premis mengenai kondisi medis John Kramer yang sedari film-film sebelumnya sudah dibangun, utamanya setelah ‘Saw III’. Selebihnya, film kesepuluh dalam seri ‘Saw’ ini membawa cerita baru yang belum pernah disebut dalam berbagai film dalam seri ini. Hal ini yang membuat penonton baru akan lebih mudah memahami plot utama seiring durasi, walau memang akan lebih fulfilling ketika ada beberapa momen yang melibatkan munculnya karakter lama hingga kehadiran tempat-tempat ikonik dalam serinya.

Kala membangun berbagai karakternya, ‘Saw X’ menggunakan dialog sebagai sarana utama seiring durasinya. Tobin Bell tampak berhasil menghidupkan karakter John Kramer yang tetap kukuh dengan moral compass-nya, bahkan ketika orang lain berlaku jahat terhadapnya. Akan tetapi, representasi dari para korban seperti Mateo, Gabriella, serta Cecilia Pederson sendiri tampak kurang disorot, membuat eksposisi melalui dialognya ini terasa minim dampak dalam membangun karakternya. Walau begitu, para cast tentunya cukup mampu dalam menghadirkan karakternya dengan baik.

Selain itu, aspek teknis dari ‘Saw X’ cukup patut diberi acungan jempol. Seperti film-film sebelumnya, penggunaan props dalam berbagai trap tampak believable, membuat berbagai adegan sadisnya tetap terasa masuk akal. Scoring yang menjadi elemen terbaik pada berbagai film di seri ‘Saw’ juga masih dihadirkan dengan baik, seringkali memacu adrenalin penonton pada beberapa adegannya. Selain itu, penerapan sinematografi dalam film ini tergolong mulus dengan transisi antara close-up shot, wide-shot, maupun fast-moving forward shot, memberikan sensasi desperate seiring durasinya.

Akhir kata, ‘Saw X’ adalah usaha baru untuk membangkitkan seri ‘Saw’ yang tergolong berhasil. Mengusung plot dari sudut pandang John Kramer seiring dengan bagaimana ia memberi permainan maut bagi orang-orang jahat yang unik dibanding film-film sebelumnya menjadikan film ini jauh lebih meaningful, baik bagi penikmat setia seri tersebut maupun penonton baru.

No More Bets No More Bets

No More Bets: Kisah Korban Penipuan dan Judi Online

Film

The Day Before the Wedding The Day Before the Wedding

The Day Before the Wedding: Balada Persahabatan Cosplayer Pengantin

Film

Arthur the King Arthur the King

Arthur the King: Cukup Menyentuh Walau Klise

Film

Lost in Translation & Her: Kesepian dan Perpisahan dari Dua Perspektif

Film

Connect