Connect with us
Representasi Budaya dalam Tayangan Komedi Situasi di Indonesia

Entertainment

Representasi Budaya dalam Tayangan Komedi Situasi di Indonesia

Dari Bajaj Bajuri sampai Tukang Ojek Pengkolan, mengikat penonton secara emosional melalui realitas yang dihadirkan.

Televisi sebagai salah satu media hiburan biasanya memikat para penonton dengan menyajikan acara-acara yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Salah satunya melalui acara hiburan keluarga yang memakai format komedi situasi atau lebih dikenal dengan sitkom.

Kehadiran sitkom memberikan pengaruh besar kepada masyarakat, melalui komedi-komedi yang dihadirkan pola pikir masyarakat secara lamban akan terbentuk dengan organik.

Banyak sitkom di Indonesia menampilkan budaya-budaya dari berbagai daerah dan mengangkatnya menjadi sebuah fenomena kultural yang lumrah terjadi pada masa sekarang, zaman yang orang-orangnya hidup berdampingan satu sama lain dengan latar belakang budaya yang berbeda-beda.

Situasi komedi yang memiliki umur panjang di televisi Indonesia, sebagian besar mengambil elemen budaya suatu daerah atau penggabungan budaya yang akhirnya bisa menjamah penonton dengan keterikatan hubungan emosional yang secara faktual memang relevan dengan kondisi masyarakat pada saat ini. Sitkom-sitkom berikut ini mewakili pengenalan budaya melalui tayangan komedi situasi di Indonesia.

Bajaj Bajuri (2002-2006)

Salah satu sitkom yang menjadi penanda kebangkitan acara-acara komedi serupa di televisi adalah “Bajaj Bajuri”, acara ini sangat digemari pada masanya dan menjadi salah satu penyumbang istilah “oneng” untuk menggambarkan orang yang dianggap kurang cakap dalam berpikir cerdas.

“Bajaj Bajuri” menemani perkembangan generasi 90-an bertumbuh, ditayangkan pada rentang waktu tahun 2002 sampai 2006 dan diproduksi lebih dari 1,000 episode selama masa penayangannya. Menampilkan kehidupan keluarga seorang supir bajaj bernama Bajuri (Mat Solar), Oneng (Rieke Diah Pitaloka), Emak (Nani Widjaja), Ucup (Fanny Fadilah) dan sekelompok masyarakat yang tinggal di pinggiran Kota Jakarta.

Sitkom ini berhasil menggambarkan fenomena kultural yang terjadi pada masyarakat Jakarta yang memang memiliki budaya asli Betawi, Melalui “Bajaj Bajuri” penonton diperlihatkan latar tempat, situasi, penamaan karakter, hingga penggunaan bahasa yang khas, hal tersebut menjadi potret realitas sosial dan budaya masyarakat Betawi yang ada di kehidupan ibukota.

Mat solar berhasil merepresentasikan sosok Bajuri sebagai orang betawi lugu dan tidak  berpendidikan tinggi yang bertahan hidup dengan penghasilan pas-pasan, tipikal masyarakat Betawi yang terpinggirkan oleh modernisasi di tanahnya sendiri. Selain mengangkat kebiasaan hidup masyarakat Betawi, “Bajaj Bajuri” juga sering tampil berani dengan memasukkan kritik-kritik sosial dalam balutan komedi.

Preman Pensiun (2015-2021)

Kisah tentang Kang Bahar (Didi Petet) yang memilih berhenti dari aktivitasnya menjadi ketua preman di Bandung Raya ini di tayangkan dalam lima musim dengan bongkar pasang pemain. Pada penayangan terakhirnya Kang Mus (Epy Kusnandar) menjadi pemeran utama setelah kepergian Didi Petet.

Komedi yang dihadirkan dalam “Preman Pensiun” merupakan potret dari fenomena sosial yang terjadi di Kota Bandung secara keseluruhan. Untuk orang yang pernah datang atau tinggal di Bandung “Preman Pensiun” bisa menjadi gambaran utuh kehidupan di kota kembang itu. Mulai dari setting-nya, konflik, bahkan dari segi bahasa “Preman Pensiun” tidak menggunakan bahasa dan logat sunda hanya sebagai tempelan saja, detail-detail istilah dan pengucapannya juga terlihat dipikirkan dengan sangat matang.

Penonton juga bisa diperlihatkan keragaman yang ada di Kota Bandung melalui karakter pendukung yang ditampilkan, Misalnya seperti kehadiran pencopet di angkot, tokoh-tokoh preman terminal, sampai karakter pedagang cilok. Secara keseluruhan “Preman Pensiun” adalah miniatur Kota Bandung dan potret kebudayaan sunda yang lengkap.

Tukang Ojek Pengkolan (2015-Sekarang)

“Tukang Ojek Pengkolan” atau lebih dikenal dengan TOP adalah komedi televisi yang ditayangkan di RCTI sejak tahun 2015. Menceritakan drama kehidupan para tukang ojek yang mangkal di sebuah gang kecil di pinggiran Jakarta, Rojak (Eza Yayang), Sutisna (Andri Sulistiandri), dan Purnomo (Furry Setya) merupakan tiga rekan dari latar belakang budaya berbeda, melalui percakapan-percakapan polos dan situasi konyol berhasil memancing gelak tawa para penonton.

Ketiga peran utamanya sangat merepresentasikan kondisi Jakarta sebagai jantung ibukota, tempat mencari penghidupan bagi semua yang ingin sukses, mereka datang dari daerah yang menandai heterogenitas penduduk Kota Jakarta.

Rojak mewakili anak betawi asli yang setiap harinya sibuk mencari penghidupan dengan menarik ojek. Sedangkan Sutisna adalah pendatang asli sunda yang mengadu nasib dan membangun keluarga di Jakarta, Ia digambarkan sebagai sosok lemah lembut dengan logat sunda yang kental.

Purnomo hadir sebagai orang Jawa dengan logat medok tetapi mencoba keras untuk tampak seperti anak Jakarta, Pur sangat mewakili orang-orang Jawa pada umumnya yang menggunakan kata “gue” yang terkesan maksa. “Tukang Ojek Pengkolan” memperlihatkan realitas Jakarta yang multikultural, dan mereka bisa hidup berdampingan.

Kehadiran sitkom-sitkom seperti “Bajaj Bajuri”, “Preman Pensiun”, dan “Tukang Ojek Pengkolan” secara tidak langsung memberikan gambaran bagi penonton televisi tentang fenomena sosial budaya yang terjadi di masyarakat Indonesia.

Keadaan yang tergambar dalam situasi komedi yang dihadirkan tersebut kemudian secara tidak sadar melebur dengan kehidupan faktual di masyarakat. Seperti hubungan timbal balik yang berputar, pada akhirnya ada bias antara siapa yang mempengaruhi dan siapa yang dipengaruhi oleh budaya dari tayangan-tayangan tersebut.

berlin money heist spinoff berlin money heist spinoff

Money Heist Spin-off: Serial Baru ‘Berlin’ Memulai Tahap Produksi

Entertainment

House of the Dragon (Episode 6) House of the Dragon (Episode 6)

House of the Dragon (Episode 6) Review: The Princess and the Queen

TV

Apakah James Bond Harus Selalu Kulit Putih?

Culture

Cyberpunk: Edgerunners Cyberpunk: Edgerunners

Cyberpunk: Edgerunners Review – Kebrutalan Menawan Petualangan David Martinez di Night City

TV

Connect