Connect with us
Prey
20th Century Studios

Film

Prey Review: Predator vs Perempuan Tribal

Konten terbaru dari franchise ‘Predator’ yang seharusnya bisa rilis di bioskop.

★ ★ ★ ★ ★
★ ★ ★ ★ ★

“Prey” merupakan film kelima dalam franchise ‘Predator’ sekaligus prequel. Kali ini disutradarai  dan ditulis oleh Dan Trachtenberg bersama Patrick Aison, kita akan menyaksikan materi baru yang segar dari franchise alien pemburu manusia ini. Sangat berbeda dengan empat film sebelumnya yang berlatar di peradaban manusia modern. Dimana Predator melawan tentara atau institusi militer dengan persenjataan canggih.

Berlatar 300 tahun lalu, Naru (Amber Midthunder) adalah perempuan muda dari suku asli (Comanche) yang dilatih sebagai penyembuh, namun memiliki ambisi untuk menjadi pemburu seperti saudara laki-lakinya, Taabe (Dakota Beavers).

Menjadi satu-satunya orang yang menyadari kehadiran makhluk asing di hutannya, Naru nekad berburu sendiri sekaligus membuktikan dirinya pada orang-orang yang selama ini meremehkan kemampuannya.

prey review

Teknologi Alien Bersanding dengan Tribal yang Serba Tradisional

Disambut dengan panorama alam yang masih natural serta peradaban suku asli dengan penampilan khas menjadi tontonan yang fresh. Tidak hanya dalam franchise ‘Predator’ namun genre film secara keseluruhan belakangan ini (yang lebih didominasi superhero dan laga modern).

Salah satu daya tarik naskah “Prey” adalah kontrasnya penampilan Predator dengan teknologi alien canggih, bersanding dengan sekelompok orang tribal dengan kapak, panah dan tombak saja. Konsep tersebut kemudian diwujudkan dengan desain produksi yang maksimal dan terlihat mahal. Kualitasnya sangat melampaui film-film ‘Predator’ sebelumnya.

Menonton “Prey” terasa seperti menyaksikan film bernuansa H.P. Lovecraft hibrida yang original, unik, dan belum pernah kita temukan sebelumnya. Tidak menyelipkan ‘Predator’ dalam judulnya juga membuat film ini signifikan dari franchise ini.

“Prey” menjadi esensi utama yang umum dalam film ini dan fleksibel untuk dikembangkan. Bisa diartikan manusia di Bumi sebagai ‘mangsa’, atau justru sebaliknya. Kiasan ‘berburu atau diburu’ menjadi pesan yang kuat dalam skenario “Prey”. Menarik bagaimana judul dan esensi skenario sangat sederhana dan umum, namun bisa menjadi bibit wahana berburu oleh setiap karakter di dalamnya.

Tak luput dari celah, “Prey” juga memiliki beberapa celah dalam ceritanya. Ada beberapa timeline yang terasa hilang. Serta penokohan Naru yang terlalu diremehkan pada babak pertama. Tak heran jika Naru sempat dijuluki sebagai ‘mary sue’ di media sosial “Prey” trending. Namun kekurangannya tersebut tertutup dengan poin positif yang lebih banyak.

prey

Kualitas Sinematografi dan Audio Juara serta Desain Predator yang Keren

Satu lagi kualitas yang paling juara dari “Prey” adalah desain produksinya. Mulai dari tata rias, kostum, hingga pemilihan lokasi di situs alam. Mulai dari Stoney Nakoda Nation dekat Calgary di Alberta, Kanada. Dan beberapa lokasi alam terpisah lainnya di sekitar Calgary termasuk Moose Mountain dan Elbow River.

Mulai dari pembukaan hingga sepanjang film, kita akan dimanjakan dengan panorama alam yang indah dan menawan, terutama pada setiap wide angle frame. Setiap adegan aksi juga dieksekusi dengan arahan kamera yang menangkap setiap gerakan yang dinamis.

Film ini juga unggul dalam segi audio. Mulai komposisi musik latar, mixing, hingga desain suara Predator yang khas. Musik latar dalam “Prey” menjadi elemen pendukung yang sangat mempengaruhi nuansa suspense dan mewujudkan penampilan Predator sebagai alien pemburu yang mengintimidasi mangsanya.

Desain Predator dalam “Prey” juga salah satu yang terbaik dalam franchise. Meski dengan penampilannya yang ekstraterestrial, tetap bisa melebur secara visual dalam film berlatar di era tribal.

Franchise Predator Terbaik yang Sayangnya Tidak Tampil di Bioskop

“The Predator” pada 2018 menjadi film terakhir dalam franchise monster alien ini yang rilis di bioskop. Padahal “Prey” memiliki potensi yang sangat besar sebagai rilisan bioskop dibandingkan dengan keempat film ‘Predator’ sebelumnya. Terutama karena desain produksinya yang maksimal dan memiliki perbedaan tema signifikan dari film-film ‘Predator’ lainnya.

Sangat disayangkan “Prey” hanya berakhir sebagai Hulu Original, yang kini sudah bisa kita tonton juga Disney+ Hotstar. Kalau bisa streaming di layar televisi, “Prey” menjadi salah satu film yang patut ditonton di layar besar.

Padahal bioskop tahun ini sudah mulai aktif dan profitable. Memutuskan franchise prequel ini hanya berjudul “Prey” sangat sesuai dengan konsep naskah, namun tidak cukup komersil.

Seharusnya tidak masalah asal dipromosikan dengan baik. Bisnis bioskop sekarang juga sudah berubah semenjak pandemi. Dimana originalitas dan konten baru adalah gambling bagi rumah produksi. 20th Century Studios seharusnya mempunyai rasa percaya diri yang lebih besar untuk “Prey”. Setiap kru film dan aktor yang terlibat dalam proyek ini sangat pantas menerima apresiasi lebih di layar lebar.

Big Night! Big Night!

Big Night! Review: Tragicomedy yang Merekam Realitas Sosial Kaum Miskin Filipina

Film

Apakah James Bond Harus Selalu Kulit Putih?

Culture

avatar remastered 2022 avatar remastered 2022

Avatar Review: Masih Relevan untuk Penonton Masa Kini

Film

The Outsider Review The Outsider Review

10 Film Hollywood dengan Estetika Jepang

Cultura Lists

Connect