Connect with us
Hiruk pikuk dunia pendidikan
Photo by Julia M Cameron from Pexels

Current Issue

Pendidikan Yang Membebaskan Dan Perjuangan Alexandra Elbakyan

Hiruk pikuk dunia pendidikan dan bagaimana meraih kebebasan.

Nadiem Makarim, Menteri Pendidikan yang menjabat saat ini, mengaku frustasi mengurus dunia pendidikan di Indonesia. Menurutnya kebijakan yang ia ambil tak bisa langsung dilihat hasilnya. Berbeda saat ia masih menjadi bos salah satu startup terbesar di Indonesia, Gojek, yang mana hasil kerjanya bisa langsung terlihat.

Ia juga sempat mewacanakan pendidikan jarak jauh menjadi permanen pada tanggal 3 Juli meski diralat kembali pada tanggal 14 Juli. Walau demikian tak dapat dipungkiri hal itu akan menjadi keniscayaan.

Tentu saja pendidikan jarak jauh bukan barang baru di Indonesia. Pada tingkat pendidikan tinggi terutama di Pulau Jawa umumnya perkuliahan diadakan baik secara luring (offline) maupun daring (online). Di beberapa universitas swasta terdapat persentase kehadiran yang dihitung berdasarkan absensi kuliah secara luring dan daring. Bahkan di Universitas Terbuka maupun kelas-kelas karyawan perkuliahan lebih banyak dilakukan secara daring.

Beberapa universitas pun telah bersiap-siap pada kemajuan zaman dengan membuat video pembelajaran internalnya masing-masing. Tak mau kalah dengan platform pendidikan seperti Ruang Guru misalnya, banyak universitas telah meminta dosen untuk merekam materi perkuliahannya. Namun materi ini hanya bisa diakses oleh anak didik universitas tersebut. Begitu pula modul-modul internal baik dalam bentuk cetak maupun file PDF dan Power Point juga sudah lumrah untuk mendukung pembelajaran jarak jauh.

Sayangnya sarana dan prasarana Indonesia masih kurang mendukung. Istilahnya, Jawa-sentris termasuk saat pandemi. Ketika pembelajaran jarak jauh digaungkan, hal ini mungkin tak masalah bagi anak didik di Pulau Jawa di mana ketersediaan listrik, internet, dan perangkat komunikasi sudah menjadi hal lazim. Bahkan sudah banyak anak berusia satu-dua tahun yang lincah menggerakkan jari jemarinya di layar ponsel maupun tablet. Ironisnya hal ini tidak berlaku di seluruh Indonesia.

Salah satu sekolah di Papua memutuskan mewajibkan seluruh muridnya memiliki ponsel untuk mendukung pembelajaran jarak jauh. Selama bertahun-tahun hanya satu provider yang menyediakan layanan internet di sana. Baru-baru ini saja provider lain mulai masuk Papua untuk menyediakan internet.

Ketimpangan ini hanya sedikit saja gambaran bagaimana pembelajaran jarak jauh akan menjadi masalah. Tak semua daerah berlari dengan kecepatan yang sama apalagi soal pendidikan.

KPAI sendiri sempat menyatakan kepada pemerintah agar lebih mendukung anak-anak Indonesia selama pandemi. Misalnya menggratiskan internet seperti yang dilakukan Vietnam. Sebab para orangtua murid sendiri sudah kewalahan mencukupi kebutuhan sehari-hari di saat pendapatan menurun karena pandemi.

Membeli kuota internet sungguh memberatkan. Apalagi buat orangtua yang memiliki banyak anak di usia sekolah. Ditambah lagi beberapa sekolah justru membebani muridnya dengan setumpuk pekerjaan rumah karena dianggap punya waktu belajar lebih panjang.

Pendidikan di Indonesia

Photo by Yusril Permana ali on Unsplash

Masalah di Indonesia mungkin hanya sebagian itu saja. Tapi masalah pembelajaran jarak jauh selama pandemi tak sekadar kuota atau ponsel pintar semata. Masalah lain yang patut diperhatikan adalah kesejahteraan anak.

Pandemi membuat banyak orang tertekan karena harus di rumah saja. Anak-anak pun merasakan hal yang sama. Apalagi anak-anak dengan kondisi spesial. Seorang anak yang dengan ADHD dianggap melanggar masa percobaannya karena tidak mengerjakan pekerjaan rumah. Ia ditahan. Ini terjadi di Negara Bagian Michigan, Amerika.

ADHD merupakan kondisi seseorang kesulitan memusatkan perhatian, hiperaktif, dan impulsif. Kondisi ini sangat memengaruhi seorang anak terutama ketika belajar. Grace, nama anak itu, tidak mengerjakan tugas-tugas sekolahnya selama pandemi. Sebelum pandemi ia telah ditetapkan dalam masa percobaan karena bertengkar dengan sang ibu dan mencuri ponsel temannya. Ia ketahuan dan menyatakan permintaan maaf.

Misalnya Grace yang marah dan mendorong sang ibu. Pertengkaran mereka terjadi karena hal-hal yang mungkin bagi orang lain sepele seperti memaksa bermain ke rumah teman atau tidak mau membersihkan kamar. Namun kondisi ADHD ini membuat Grace menjadi sulit ditangani oleh sang ibu.

Selama ditahan pun Grace telah menulis surat menyatakan permohonan maaf dan memahami bahwa ia menyia-nyiakan kasih sayang sang ibu. Namun apakah seorang anak harus ditahan karena tidak mengerjakan tugas sekolah di tengah pandemi dengan kondisinya yang spesial?

Pendidikan yang Membebaskan

Bila Paulo Freire masih hidup maka ia akan geleng-geleng kepala melihat ketimpangan sarana dan prasana kegiatan belajar di Indonesia. Apalagi ketika ia mengetahui kasus Grace di Amerika. Dengan kondisi spesial ditambah seorang minoritas di lingkungan kulit putih, Grace benar-benar menunjukkan kondisi yang underprivileged. Bila ia harus disamakan dengan anak-anak yang tak punya kesulitan dalam berkonsentasi pada pembelajaran jarak jauh jelas langkahnya takkan sama.

Freire adalah salah satu tokoh pendidikan paling berpengaruh di abad 20. Ia lahir dari keluarga kelas menengah di Recife, Brazil, tahun 1921. Krisis ekonomi saat itu memengaruhi hidup keluarganya. Selain tidak naik kelas, Freire pun merasakan perihnya menahan lapar.

Namun kondisi yang buruk ini justru membangun kesadaran baru pada Freire. Menurutnya ia bukannya bodoh atau tidak berminat pada pendidikan. Tapi rasa lapar terlalu menguasai pikirannya. Ini membuktikan kaitan kelas sosial dengan pengetahuan.

Ketika akhirnya kondisi keuangan keluarga membaik, Freire pun dapat melanjutkan pendidikan. Hasratnya pada dunia pendidikan membuatnya berkarir menjadi guru. Pada 1946 ia menjadi Direktur Departemen Pendidikan dan Kebudayaan di Negara Bagian Pernambuco, Brazil.

Karirnya terus menanjak sehingga akhirnya ia mendapat kesempatan untuk menguji coba teorinya. Dalam eksperimen tersebut ia membutuhkan waktu 45 hari untuk mengajari baca tulis 300 buruh tani di kebun tebu.

Kesuksesannya membuat pemerintah menyetujui program pemberantasan buta huruf ala Freire. Tak hanya untuk meningkatkan kualitas hidup, di masa itu syarat mengikuti pemilu adalah kemampuan baca tulis.

Freire membuat pelatihan untuk koordinator lapangan dalam usaha mengentaskan dua juta orang dari kondisi buta huruf dalam satu tahun saja. Sayang keberhasilannya lenyap ketika kudeta militer pecah untuk menumbangkan Presiden João Goulart yang beraliran kiri. Kudeta itu dibantu Amerika.

Prinsip pengajaran Freire dianggap subversif (usaha menumbangkan pemerintah). Ia ditahan. Walau akhirnya keluar dari tahanan ia diasingkan. Freire baru bisa kembali ke negaranya lebih dari 15 tahun kemudian. Namun dari Freire kita memahami bahwa pendidikan tidak bisa disamaratakan.

Orang yang tertindas seperti kata Freire—maksudnya underprivileged—pun bisa dan mampu menyerap ilmu. Hanya saja metode pembelajarannya harus disesuaikan dengan kondisi masing-masing. Karya paling fenomenalnya adalah buku berjudul Pedagogi Orang yang Tertindas.

Seperti kita tidak bisa berharap pembelajaran jarak jauh menjadi permanen di seluruh Indonesia bila akses listrik, jaringan internet, dan kepemilikan perangkat komunikasi belum merata. Anak-anak yang tertinggal bukan karena mereka tidak berusaha tapi kondisinya tidak menguntungkan.

Sudah seharusnya pemerintah memberikan jalan keluar terhadap anak-anak ini. Kalaupun mereka mampu membeli tablet atau ponsel pintar, masalah tidak selesai bila jaringan internet lambat dan listrik sering mati.

Alexandra Elbakyan

Alexandra mungkin tidak mengatakan bahwa ia dipengaruhi oleh Freire. Tapi jelas ia memiliki prinsip yang senada. Bahwa pendidikan harus membebaskan. Pendidikan seharusnya bisa diakses semua orang.

Bicara soal orang-orang yang underprivileged, maka Alexandra pun merasakannya. Ketika mengerjakan penelitian ia menyadari sulitnya mengakses jurnal-jurnal yang dapat mendukung tulisannya. Bila ia mengaksesnya sendiri, ia akan jatuh miskin sebelum penelitiannya selesai.

Misalnya kita mencari jurnal terbaru mengenai politik dan perempuan di platform Taylor & Francis Online. Untuk pembelian satu artikel selama 24 jam harganya adalah 44 dolar. Bila kita memutuskan membelinya selama 30 hari maka harganya menjadi 301 dolar.

masalah pendidikan

Photo by Lucrezia Cantelmo on Scopio

Di Indonesia misalnya untuk pendidikan setara magister maka minimal daftar pustaka berisi 20 buah artikel jurnal yang diterbitkan selama 10 tahun terakhir. Siapa yang mau menghabiskan 880 dolar hanya untuk membeli jurnal?

Sayangnya membaca mengutip, dan menulis jurnal terakreditasi sudah menjadi kewajiban bagi akademisi. Nilai penelitian seseorang yang menempuh pendidikan magister dan doktoral salah satunya berasal dari jurnal-jurnal yang mendukung penelitiannya. Ini juga akan memengaruhi ranking universitas tersebut di mata dunia. Akibatnya, banyak universitas menggelontorkan dana luar biasa besar untuk berlangganan jurnal-jurnal ini. Mahasiswa dapat mengaksesnya secara gratis di lingkungan kampus.

Universitas seperti Harvard pun mengaku kesulitan untuk memenuhi kebutuhan akses jurnal di lingkungan akademisnya. Dalam enam tahun ada penerbit yang menaikkan biaya langganan mereka hingga 145%.

Seorang yang menempuh pendidikan magister atau doktoral ingin menulis jurnal sebagai syarat lulus maka ia sendiri yang menanggung biayanya. Kampus hanya “membayari” biaya baca jurnalnya saja.

Inilah yang membuat pendidikan menjadi sulit dijangkau karena harga yang begitu tinggi. Lupakan biaya persemester yang dianggap “murah”. Bila tanpa akreditasi, di Indonesia biaya pemuatan jurnal mencapai 500 ribu. Jurnal yang terakreditasi mematok harga 1,5 juta. Namun ada universitas negeri yang mematok harga 9 juta dengan iming-iming tulisan lolos dalam 1 bulan saja.

Alexandra berusaha mendobrak kapitalisme di industri penerbitan jurnal dengan mendirikan Sci-hub. Ia sendiri yang melakukan coding untuk Sci-hub. Dengan Sci-hub kita bisa mengakses hampir seluruh jurnal yang ada di dunia.

Caranya dengan memasukkan nomor DOI sebuah artikel ke dalam website Sci-hub. Nantinya artikel tersebut akan muncul dan siap dibaca maupun diunduh. Tidak ada maksimum penggunaan, kita dapat memanfaatkannya sebanyak yang kita mau.

Sejak awal Alexandra mengerjakannya seorang diri termasuk mendanainya. Sci-hub yang berdiri sejak 2011 makin lama makin terkenal sehingga orang-orang mengusulkan agar Alexandra menerima donasi. Dari sanalah kemudian ia membiayai Sci-hub. Ia tentunya mendapatkan tuntutan dari penerbit besar karena dianggap telah mencuri. Namun Alexandra tidak gentar. Kini Sci-hub menjadi salah satu penyelamat terbesar bagi para akademisi di seluruh dunia.

Click to comment
Advertisement
Cultura Podcast
Connect