Connect with us
Parasite dan Representasi Industri Perfilman Asia di Tingkat Global
Josh Telles/Deadline

Entertainment

Parasite dan Representasi Industri Perfilman Asia di Tingkat Global

Mengapa kemenangan Parasite begitu fenomenal?

Sejauh ini, Indonesia belum pernah memenangkan penghargaan Oscar. Indonesia juga tidak selalu mengirimkan film untuk diseleksi dalam kategori Best International Feature Film. Partisipasi Indonesia untuk mengikuti seleksi tercatat sejak tahun 1987, dimulai dengan film Nagabonar. Perfilman Indonesia yang sempat mengalami pasang surut membuat negara ini sempat tidak mengikuti seleksi selama beberapa tahun.

Ketika lima tahun terakhir terjadi peningkatan pesat baik dari segi ragam genre, budget, maupun kekuatan skenario Indonesia pun mengirimkan beberapa film terbaiknya untuk mengikuti seleksi. Film-film bahkan patut masuk ke dalam daftar sebagai film dalam negeri yang terbaik sepanjang masa. Misalnya saja Marlina Pembunuhan dalam Empat Babak (2018) dan Kucumbu Tubuh Indahku (2019) yang kontroversial sekaligus mendobrak hal tabu.

Bagaimana dengan industri perfilman Asia sendiri? Sebenarnya secara umum, selama penyelenggaran Oscar sejak tahun 1956 bisa dibilang film Asia masih kalah saing dibanding film-film dari Eropa maupun Amerika. Tahun 1956 menjadi catatan penting dalam sejarah penyelenggaraan Piala Oscar karena itu adalah tahun pertama kalinya kategori Best Foreign Language Film diselenggarakan secara kompetitif, bukan sekadar dilabeli special achievement (pencapaian spesial) belaka. Pada tahun tersebut nominasinya berasal dari Jerman Barat, Prancis, Jepang, Italia, dan Denmark. Namun Asia sendiri baru mendapatkan kemenangan di tahun 1985 untuk kategori desain kostum dalam film Ran oleh Emi Wada.

Parasite film asia oscar 2020

Park mansion dirancang oleh arsitek fiksi Namgoong Hyeonja. | Neon

Nama Asia baru muncul kembali di tahun ini ketika Parasite memenangkan kategori Best Picture, Best Director, dan Best Original Screenplay. Kalau dihitung maka Asia baru muncul lagi ke permukaan 35 tahun kemudian sejak kemenangan pertamanya di tahun 1985. Apalagi Parasite menyabet banyak piala sekaligus. Tentu saja ini adalah kemenangan yang fenomenal. Jangan lupa, ada satu lagi kemenangan yang diraih oleh Parasite yaitu kategori Best International Feature Film. Sejauh ini, baru lima negara di Asia yang memenangkan kategori tersebut. Kemenangan pertama diraih oleh film produksi Taiwan yaitu Crouching Tiger, Hidden Dragon pada tahun 2000.

Kemenangan berikutnya diraih oleh Jepang di tahun 2008 melalui film Departures. Namun ini tak hanya kemenangan Benua Asia pada umumnya tetapi juga pencapaian besar bagi Jepang. Sebab Jepang merupakan negara Asia yang paling banyak dinominasikan dan mendapatkan kemenangan di Oscar. Pada tingkat global sendiri Jepang menduduki peringkat kelima sebagai negara yang paling banyak mendapatkan nominasi.

Jepang, misalnya, masih kalah dengan Italia yang telah membukukan 14 kali kemenangan. Meski demikian Jepang pun tetap menyuguhkan film-film terbaiknya meski belum meraih kemenangan kembali. Film lain yang layak diapresiasi adalah Shoplifters (2018). Sejarah berikutnya tercatat di tahun 2012 oleh Iran. Ini adalah pertama kalinya negara tersebut masuk nominasi Oscar sekaligus memenangkannya dalam film A Separation.

Sutradara film tersebut, Asghar Farhadi, mengulang kembali kemenangannya di tahun 2017 melalui film The Salesman. Baik film A Separation maupun film The Salesman sama-sama berlatar belakang kondisi sosial budaya Iran dan juga agama yaitu Islam. Pada film pertama, drama pasutri ini menggambarkan bagaimana dua orang yang saling mencintai terancam untuk berpisah.

Sayangnya berkas perceraian mereka ditolak karena dianggap “terlalu remeh”. Namun masalah dalam pernikahan mereka terus berlanjut dan menjadi semakin menyakitkan. Bisa dibilang A Separation adalah versi pendahulu dari Marriage Story. Sementara itu The Salesman juga menyorot kehidupan pasutri ketika mereka mendapat cobaan. Sang istri mendapat kekerasan seksual dari orang asing.

Mengingat Iran sudah dua kali memenangkan Oscar, kita dapat melihat pola yang menarik. Ada banyak negara-negara di Timur Tengah yang berkali-kali masuk nominasi Oscar meski jumlah terbanyak masih diraih oleh Jepang. Selain Jepang masih ada Israel di tahun 1964, 1971, 1972, 1973, 1977, 1984, 2007, 2008, 2009, hingga 2011.

Negara Timur Tengah lainnya yang masuk nominasi adalah Palestina dan Lebanon masing-masing dua kali. Negara-negara tersebut termasuk Iran dianggap panen nominasi karena mengangkat tema yang seksi seperti agama, budaya, dan krisis pengungsi. Masih ada lagi daftar negara Asia yang panen nominasi seperti India (3), China (2), Taiwan (2), Kamboja, Nepal, Vietnam, Kazakhstan, dan Hong Kong masing-masing satu.

Mengingat rendahnya representasi Asia sejak pertama kalinya Oscar diselenggarakan membuat penyelenggaranya mendapat kecaman. Oscar dijuluki ‘so white’ untuk menggambarkan betapa tingginya privilege yang dimiliki ras kaukasian. Selain itu Oscar juga dianggap misoginis karena seluruh nominasi Best Director hanya diisi oleh sutradara laki-laki.

Beberapa figur publik pun terang-terangan mengkritik hal ini seperti Janelle Monae dalam lagunya maupun Natalie Portman. Natalie bahkan membuat bordir berupa daftar nama sutradara perempuan yang sebenarnya layak mendapatkan nominasi. Sebenarnya kritikan tak hanya ditujukan pada Oscar saja tetapi juga acara bergengsi serupa. Joaquin Phoenix mengangkat isu rasisme dan Rebel Wilson dengan isu gender pada pidato kemenangan mereka di BAFTA.

Bicara soal rasisme, bagaimana dengan tanggapan publik kulit putih pada penyelenggaraan Oscar kali ini? Ternyata banyak yang masih berpandangan rasis dengan memprotes kemenangan Parasite. Mereka menganggap film yang harus ditonton menggunakan subtitle adalah film yang buruk karena merusak konsentrasi penontonnya. Walau tentu saja kemenangan Parasite tidak terpengaruh dengan protes tersebut, ini akan menjadi topik kontroversial yang suatu saat nanti harus dipecahkan. Bahwa publik, apapun latar belakangnya, harus mampu menerima kemenangan dari sebuah film yang tidak menggunakan bahasa yang sama dengannya. Film-film berbahasa asing pun layak direpresentasikan dan dihargai.

Click to comment
Advertisement
Cultura Podcast
Connect