Connect with us
Kristen Stewart & Pablo Larraín (Photo: Jay L. Clendenin/Los Angeles Time)

Entertainment

Pablo Larrain: Sutradara yang Memahami Perempuan dalam Lara

Rumus film drama biografi publik figur perempuan khas dari Pablo Larrain.

Film biografi publik figur menjadi salah satu niche yang menghasilkan judul terbaik di industri perfilman dunia. “Spencer” menjadi film biopik terbaru dari Pablo Larrain tentang Putri Diana, Princess of Wales. Rilis pada November 2021, “Spencer” menjadi pencapaian monumental bagi Pablo Larrain sebagai sutradara, begitu pula Kristen Stewart sebagai aktris berbakat. 

Setiap sutradara terbaik memiliki ciri khas masing-masing. Layaknya Stephen Spielberg yang selalu menciptakan cult classic baru, hingga Jordan Peele yang membangkitkan kembali trend black horror. Pablo Larrain tampaknya mulai menunjukan identitas dari setiap karya filmnya; film biopik perempuan ikonik dengan pendekatan yang melankolis. 

Sutradara asal Chili ini debut melalui film “Fuga” (2006), film dalam bahasa Spanyol tentang seorang komposer yang berjuang dengan trauma masa kecil. Sepanjang karirnya, sebetulnya ada banyak niche maupun tema yang telah diangkat oleh Larrain sebagai karya filmnya. Namun, tampaknya Ia tidak pernah jauh bereksperimen di sekitar materi biopik dan kisah tragedi yang melankolis.

Beberapa film biopik yang sudah dieksekusi oleh Pablo Larrain di antaranya, “No” (2012) yang masuk nominasi Oscar, “Neruda” (2016), hingga “Jackie” (2016). Melalui “Jackie” Larrain menuai banyak pujian dalam mengeksekusi film biografi Jacqueline Kennedy pasca kematian suaminya, John F Kennedy,  yang tragis dan traumatis.

Pablo Larrain

Kristen Stewart & Pablo Larraín (Photo: Mark Mann/Deadline)

Melalui “Spencer” dan “Jackie”, Pablo Larrain semakin mantap dalam menentukan sentuhan khasnya dalam project film drama biopik. Genre film ini memiliki banyak saingan dan sudah berkali-kali diadaptasi oleh banyak sutradara berbakat lainnya, namun Pablo Larrain memiliki signature tersendiri yang menarik untuk dianalisa. 

Tidak Mengeksploitasi Plot Cerita yang Bisa Kita Temukan Sendiri di Internet

Film drama biopik kerap memiliki image sebagai film berkelas dan Oscar-worthy. Namun, ada banyak aspek yang perlu diperhatikan dalam menciptakan film biopik yang benar-benar berkualitas. Baik dalam segi naskah yang informatif, tanpa meninggalkan prinsip film sebagai sebuah karya seni.

Pada masa ini, butuh lebih dari sekadar penampilan aktor utama yang berbakat dan sinematografi menawan untuk mengeksekusi film biopik. Pablo Larrain memiliki metode pendekatan pada materi sumber (informasi sejarah yang faktual) yang cukup berbeda dari para sutradara dewasa ini. 

Daripada menyalin ulang sejarah menjadi naskah film dengan dialog, Ia memilih untuk memahami kisah tokoh yang hendak Ia angkat sebagai film. Hasilnya adalah sebuah naskah film drama biografi yang emosional dan mengekspos sisi lain dari seorang tokoh, sisi lain yang tidak pernah disorot oleh media. Aspek tersebut pun tercipta secara otentik dari hasil pemikiran Larrain ketika hendak memahami seorang tokoh sebagai manusia biasa, dibalik kamera paparazzi maupun headline media. 

Pada film “Jackie”, Larrain menggunakan momen wawancara eksklusif Jackie Kennedy sebagai latar cerita, diselingi dengan kilas balik dari tragedi yang Jackie alami. Sementara pada “Spencer”, Larrain benar-benar menyuguhkan latar cerita yang baru; yaitu ketika Putri Diana sedang menjalani liburan Natal sesuai dengan protokol Kerajaan Inggris. 

Pablo Larrain lihai menciptakan sebuah latar film biografi yang tidak generik, Ia terlihat sangat bebas dalam mengekspresikan visinya pada aspek ini. Namun, justru dari latar cerita yang personal dan sentimentil inilah, kita akan dibuat terpikat secara emosional, menjadi tribute yang tulus dan mendalam bagi tokoh yang sedang kita saksikan kisahnya.

Pemilihan latar cerita demikian juga menciptakan plot cerita yang lebih tidak terduga bagi penonton. Kisah Putri Diana selalu berakhir setelah tragedi yang Ia alami di Paris, begitu juga kisah biografi lainnya yang kita bisa temukan akhirnya hanya dengan browsing di internet.

Spencer

Pandai Memilih Aktris yang Tepat sebagai Bintang Utama

Pablo Larrain memiliki cukup banyak filmografi dengan penampilan aktris utama terbaik. Selain “Jackie” dan “Spencer”, ada film drama dengan protagonis perempuan lainnya yang telah dihasilkan oleh sutradara ini. Mulai dari “Ema” (2019), “A Fantastic Woman” (2017), “Gloria” (2013), dan masih ada beberapa judul lainnya.

Tak hanya memahami tokoh perempuan yang menjadi materi sumber untuk filmnya, Larrain juga ingin memahami aktris yang Ia pilih sebagai bintang utamanya. Karena pada akhirnya, film yang dieksekusi oleh Larrain tidak terlalu berat pada dialog, namun bagaimana seorang aktris menerjemahkan naskah menjadi penampilan akting yang emosional. 

Ada cukup banyak adegan dalam film Larrain yang hening dan sangat mengandalkan arahan visual. Seperti seorang perempuan yang sedang bercermin, entah apa yang sedang Ia pikirkan ketika melihat refleksinya. Perempuan yang menari di sebuah lorong kosong, atau ketika mereka berlari dalam sebuah footage artistik. Tanpa penampilan aktris yang mampu memahami visi Larrain, sebuah adegan tersebut akan menjadi adegan yang hampa. Dan untuk memastikan keberhasilan tersebut, sejauh ini Pablo Larrain selalu berhasil menemukan aktris yang tepat. 

Bahkan ketika jagat internet menghujat Kristen Stewart yang Ia pilih untuk mengeksekusi peran Putri Diana, Ia memberikan penjelasan yang profesional. Setiap aktris memiliki kharisma dan karakter wajah alami, membuat mereka seakan terlahir untuk memerankan karakter tertentu.

Tidak melihat pamor sosial atau pendapat media, Larrain lebih percaya dengan apa yang Ia butuhkan, kemudian mencari aktris yang Ia rasa mampu memenuhi kebutuhannya dalam mengeksekusi sebuah peran.

Kristen Stewart and Pablo Larrain on the set of ‘Spencer’ (Frederic Batier)

Pendekatan Naskah pada Kepribadian dan Keadaan Mental Tokoh

Pablo Larrain memilih untuk tidak mengeksploitasi plot peristiwa tertentu (khususnya pada “Spencer”) karena membutuhkan latar kisah yang memberi lebih banyak ruang untuk kita memahami kepribadian dan keadaan mental seorang tokoh. Pada akhirnya menghasilkan naskah yang tidak fokus pada momen penting dari sepanjang hidup tokoh tersebut, melainkan eksplorasi perasaan dan kekalutan yang dirasakan oleh seorang tokoh dalam sebuah kemalangan.

Pablo Larrain bisa jadi sutradara yang paling memahami perempuan. Tak sekadar mengangkat kisah perempuan ikonik, namun Ia memiliki angan atau asumsi tentang perjuangan pribadi yang bisa dialami seorang perempuan dalam tekanan dan trauma. 

Melalui “Jackie” kita bisa melihat akting menawan dari Natalie Portman sebagai janda biasa yang berusaha membendung traumanya, karena Ia masih punya tugas untuk membesarkan anak-anaknya. Tidak ada sosok Ibu Negara Amerika terbaik yang dipertunjukan dalam “Jackie”, hanya seorang perempuan yang juga bisa gelisah dan mengalami krisis setelah tidak lagi menjadi istri seorang Presiden. Just an ordinary woman

Sama halnya “Spencer”, Larrain berhasil menampilkan potret perjuangan Diana Spencer dalam tekanan protokol kerajaan. Hanya melalui rangkaian tiga hari liburan Natal yang Ia jalani, kini kita bisa memahami, ‘bayangkan bagaimana Diana hidup dengan perasaan terisolasi dan ratusan aturan selama bertahun-tahun?’.

Kita sudah tahu hal-hal besar yang dicapai oleh kedua perempuan ini melalui media, justru dengan memahami sisi rapuh dan kelemahan mereka, film biografi yang Larrain jadi lebih berdampak pada penontonnya.

The Outsider Review The Outsider Review

10 Film Hollywood dengan Estetika Jepang

Cultura Lists

Happiest Season Happiest Season

Rekomendasi Film Chick Flick 2020an

Cultura Lists

Kilas Balik Trilogi Baru Star Wars: Kehancuran Sebuah Franchise

Entertainment

My Missing Valentine My Missing Valentine

My Missing Valentine: Menyusuri Ingatan Satu Hari yang Hilang

Film

Connect