Film

One for the Road: Road Trip Movie yang Emosional

Proyek kolaborasi internasional yang diproduseri oleh Wong Kar-Wai.

“One for the Road” (2021) merupakan film yang diarahkan oleh Nattawut Poonpiriya, sutradara asal Thailand yang sebelumnya sukses dengan “Bad Genius” (2017).

Film yang menceritakan perjalanan terakhir dua sahabat ini ditulis oleh Kai Nottapon Boonprakob, yang juga menulis naskah beberapa film Box Office Thailand seperti “May Who” (2015) dan “Suckseed” (2011).

Film ini merupakan proyek kolaborasi internasional antara Tiongkok, Hong Kong, dan Thailand yang diproduseri oleh Wong Kar-Wai. Dalam “One for the Road” nama-nama besar tidak hanya hadir dalam lini produksi saja, film ini juga menampilkan aktor-aktor besar Thailand seperti Thanapob Leeratanakajorn, Ice Natara, Violette Wautier, Chutimon Chuengcharoensukying, dan Ploi Horwang.

One for the Road

Perjalanan Dua Sahabat Melewati Kisah Cinta dan Penyesalan

Perjalanan pertama “One for the Road” dibuka di New York City, tempat dimana Boss (Thanapob Leeratanakajorn) menjalankan sebuah bar yang performa penjualannya kurang baik. Sebuah panggilan telepon dari Aood (Ice Natara) sahabat lamanya, mengawali rencana perjalanan dua sahabat ini mengunjungi berbagai tempat di Thailand. misi pertemuan terakhir Aood dengan para mantan pacar ini dijalankan untuk memenuhi permintaan terakhir Aood sebelum dikalahkan oleh penyakit kanker yang mematikan.

Terlepas dari perjalanan literal Boss dan Aood melintasi beberapa kota untuk mengembalikan barang kenangan Aood dengan mantan-mantannya, Alice (Ploi Horwang) seorang penari yang menyelinap pergi dari kehidupan Aood, Noona (Chutimon Chuengcharoensukying) mantan pacar yang pernah Aood lukai, dan Roong (Noon Siraphun) seseorang yang tumbuh dengan baik setelah berpisah dengan Aood. Film ini juga menceritakan penyesalan Aood sebagai seorang anak yang buruk bagi ayahnya.

Pada paruh kedua, film mengalihkan pusat perhatian pada Boss, bagaimana ia menjalani hidupnya sebelum dan setelah mengenal Aood. Karakter Boss berkembang menjadi tokoh sentral yang mengalami banyak masalah hidup dalam kilas balik film sebelum pertemuannya dengan Aood. Bagaimana hubungan Boss dengan ibunya, cinta pertamanya yang gagal, dan puncak konflik masa lalunya dengan Aood yang baru terbongkar setelah keduanya melakukan perjalanan terakhir. Film ini mengalir dengan narasi besar yang penuh dengan perasaan sentimental kedua tokoh utamanya.

One for the Road

Film dengan Banyak Sub-Plot yang Mudah Dinikmati

“One for the Road” merupakan sebuah film yang menghadirkan nilai artistik dan teknik bercerita yang penuh gaya. Film ini mengandalkan pengeditan yang mulus sehingga fokus antara masa lalu dan masa kini terasa seimbang dan tidak patah. Film juga bisa menempatkan diri dengan baik saat hanya diperlukan fokus cukup lama pada satu masa saja, ia tidak akan memaksakan untuk menghubungkannya dengan masa lalu atau masa depan.

Namun, ada juga lintasan masa dengan subplot yang disulap sangat baik sehingga pergerakan peralihannya begitu nyaman dilihat. Misalnya ketika Aood berputar melompati kilas balik hubungan dengan ketiga mantan pacarnya dengan momen pertemuan terakhir yang disandingkan begitu emosional dimata Aood.

Kemunduran gaya penceritaan terasa pada paruh akhir film, narasi yang dibangun begitu cantik pada sepertiga babak film dimainkan, mengubah arah narasi pada cerita Boss yang sangat kompleks, walaupun informasi tentang kehidupan boss sudah mendapat sedikit ruang di keseluruhan film, namun ditariknya tokoh Aood sebagai karakter kunci malah memberikan sedikit ruang kosong pada jalan cerita. Walaupun secara garis besar kemunduran ini tidak mempengaruhi emosi yang dibangun dalam film.

Penempatan Unsur Musik yang Mengagumkan

Mengikuti jejak film-film garapan Wong Kar-Wai, dalam film “One for the Road” Poonpiriya menempatkan unsur musik dalam momen-momen penting dalam film. Dalam momen reuni pertama dengan mantan pacarnya Alice, Aood berdansa dengan latar “Tiny Dancer” Elton John.

Selain itu musik juga merangkul rasa penyesalan Aood saat menabur abu ayahnya di sepanjang jalan tepian pantai dengan alunan “Father and Son” Cat Stevens. Kenangan Aood dan ayahnya juga ditampilkan melalui sebuah kaset rekaman siaran radio terakhir ayahnya dengan lagu-lagu Supertramp dan Frank Sinatra.

Walaupun terkesan manipulatif, peralihan kisah-kisah mantan pacar Aood terbilang cukup jenius dengan diwakilkan dengan pergantian side kaset pada setiap kenangan mantan pacar yang berbeda-beda. Pemilihan unsur musik yang menyatu dengan narasi cerita ini menambah kesan sentimental “One for the Road”.

Film yang tayang perdana pada 28 Januari 2021 di Sundance Film Festival dan berhasil memenangkan Special Jury Award for Creative Vision in the World Cinema Dramatic Competition ini sudah bisa disaksikan di Netflix.

Yaya Badriya

Contributor of Cultura Magazine. Sometimes I plant words and make them grow.

Share
Published by
Yaya Badriya