“Farha” (2021), debut panjang sutradara Darin J. Sallam, adalah film yang sengaja menolak spektakel. Ia tidak menawarkan adegan perang heroik, tidak membangun narasi kepahlawanan, dan tidak memberi penonton kenyamanan katarsis. Sebaliknya, film ini mengunci kita bersama seorang anak perempuan di ruang sempit, memaksa kita menatap sejarah dari sudut paling tak berdaya. Pilihan ini membuat “Farha” menjadi karya yang bukan hanya emosional, tetapi juga politis dalam cara yang sunyi dan tidak kompromistis.
Secara plot, “Farha” mengikuti kehidupan Farha, gadis Palestina berusia 14 tahun yang bercita-cita melanjutkan pendidikan, di tengah situasi menjelang Nakba 1948. Ketika kekerasan meletus dan desanya diserang, ayah Farha mengurungnya di gudang kecil demi melindunginya. Dari ruang sempit itulah sebagian besar film berlangsung. Dunia luar hanya hadir melalui celah pintu, suara tembakan, teriakan, dan fragmen peristiwa yang tidak sepenuhnya ia pahami. Struktur ini menjadikan “Farha” bukan film tentang peristiwa besar, melainkan tentang bagaimana peristiwa besar menghancurkan kehidupan paling kecil.

Dari sisi naskah dan screenplay, kekuatan utama “Farha” terletak pada ekonominya. Dialog minim, informasi disampaikan secara parsial, dan banyak hal dibiarkan tidak terucap. Pendekatan ini berisiko membuat film terasa repetitif, namun Sallam justru memanfaatkan repetisi sebagai strategi naratif. Rasa menunggu, ketakutan, dan kebingungan Farha menjadi pengalaman sensorik bagi penonton. Namun, di titik tertentu, penahanan informasi ini juga bisa terasa terlalu ketat, seolah film sengaja menahan kompleksitas konteks politik demi menjaga fokus emosional. Bagi sebagian penonton, ini efektif; bagi yang lain, ini bisa terasa sebagai penyederhanaan yang disengaja.
Sinematografi film ini bekerja dengan pendekatan yang sangat terkendali. Kamera sering berada dekat dengan wajah Farha, menegaskan subjektivitas pengalaman. Ruang sempit gudang difilmkan dengan framing yang menekan, nyaris tanpa ruang bernapas. Cahaya alami, bayangan keras, dan komposisi statis memperkuat rasa terperangkap. Ketika dunia luar sesekali terlihat, ia hadir bukan sebagai panorama, tetapi sebagai ancaman. Pilihan visual ini konsisten dan disiplin, meskipun di beberapa bagian terasa terlalu berhati-hati, seakan takut melanggar kesederhanaan yang sudah dibangun.
Akting Karam Taher sebagai Farha adalah fondasi emosional film ini. Ia membawa karakter tersebut tanpa melodrama, dengan ekspresi yang sering kali tertahan. Ketakutan, kemarahan, dan kebingungan muncul lebih banyak melalui tatapan dan gestur kecil ketimbang dialog. Inilah salah satu keputusan terbaik film ini. Peran pendukung, terutama sang ayah, berfungsi lebih sebagai simbol ketimbang karakter yang berkembang, dan ini terasa sebagai keterbatasan dramatis yang disengaja namun tetap meninggalkan rasa datar pada hubungan antar karakter.

Secara tematik, “Farha” jelas mengambil posisi. Film ini adalah kesaksian, bukan debat. Ia tidak berpura-pura netral, dan justru di situlah kekuatannya sekaligus sumber kontroversinya. Sallam memilih perspektif anak untuk menegaskan absurditas kekerasan politik: bagaimana keputusan orang dewasa, ideologi, dan kekuasaan militer berdampak langsung pada tubuh dan jiwa anak-anak. Namun, pendekatan ini juga membuat film rentan dituduh sebagai satu sudut pandang tunggal yang emosional tanpa eksplorasi kompleksitas sejarah yang lebih luas.
Sebagai karya sinema, “Farha” bukan film yang mudah ditonton atau “dinikmati”. Ia menuntut kesabaran dan kesiapan emosional. Kekurangannya terletak pada kecenderungan menjadi terlalu simbolik di paruh akhir, ketika pesan moral terasa mulai menggantikan dinamika dramatik. Namun justru karena ketidaknyamanan inilah film ini relevan dan penting.
“Farha” mengingatkan bahwa di balik setiap konflik geopolitik yang diperdebatkan di ruang-ruang kekuasaan hari ini, selalu ada anak-anak yang hidupnya ditentukan tanpa pilihan. Dalam konteks dunia saat ini, ketika kekerasan terhadap warga sipil terus dinormalisasi lewat narasi politik dan media, film ini menegaskan satu hal sederhana namun mendesak: kemanusiaan tidak boleh dikorbankan demi ideologi apa pun.
