Connect with us
My Beautiful Broken Brain Review

Film

My Beautiful Broken Brain Review

Ketika wanita berbakat dan brilliant harus belajar kembali setelah mengalami cedera otak.

★ ★ ★ ★ ★
★ ★ ★ ★ ★

Pada 2011, filmmaker Lotje Sodderland menderita stroke hemoragik secara tiba-tiba di usia 34 tahun. Penyakit tersebut membuatnya mengalami cedera otak yang berpengaruh pada hilangnya kemampuannya untuk membaca, menulis, dan berbicara dengan lancar. Lotje merasa kembali menjadi balita, namun juga masih memiliki pemahaman layaknya orang dewasa, hanya saja mengalami kesulitan dalam mengungkapkan pesan atau berkomunikasi karena keterbatasan yang muncul.

Namun, Lotje tidak kehilangan dirinya, kita akan melihat dokumentasi wanita yang kuat dan mau menerima kerapuhan yang sedang Ia alami. Sebagai filmmaker, dokumenter menjadi media paling tepat bagi dirinya untuk mengekspresikan diri. Dirangkai dari dokumentasi pribadi Lotje selama masa pemulihan dan terapi, “My Beautiful Broken Brain” (2014) menjadi dokumentasi yang mendeskripsikan pengalaman yang tidak mudah untuk dijelaskan.

My Beautiful Broken Brain Review

Kisah Kronologis Lotje Sodderland dengan Stroke Hemoragik

“My Beautiful Broken Brain” mungkin akan terasa tidak langsung memikat penontonnya pada babak pertama. Ada beberapa informasi yang mungkin akan sulit untuk kita pahami, terutama penjelasan medis tentang stroke hemoragik yang dialami secara tiba-tiba oleh Lotje. Meski dengan potongan footage yang tidak acak, naskah dokumenter disajikan dengan dengan kronologi yang jelas untuk membantu kita memahami cerita yang hendak disampaikan. Dimulai dari hari dimana Lotje mengalami serangan stroke, hingga akhirnya secara perlahan memulai terapi, hingga akhirnya menemukan pelajaran dalam fase kehidupannya di tengah penyakit yang sempat bikin Ia frustasi.

Tak mudah bagi seorang wanita seperti Lotje yang gemar bersosialisasi, cerdas, dan memiliki pekerjaan di industri film untuk memulai proses belajar dari nol lagi. Bukan amnesia, Lotje masih mengingat dirinya dan apa saja pencapaian yang telah Ia raih.

Bayangkan betapa frustasinya mengetahui bahwa Ia memiliki kemampuan kognitif tinggi, kemudian harus kehilangan kemampuan tersebut dan mengalami disorientasi karena kondisi otaknya yang sulit dideskripsikan dengan kata-kata. Ditambah pada saat itu Ia tidak bicara dengan lancar dan menulis untuk berkomunikasi dengan normal, untuk membuat orang memahami apa yang Ia alami.

Pengalaman Langkah Menemukan Sudut Pandang Baru dalam Kehidupan

Lotje menyebutkan bahwa ada stroke yang Ia alami membuka sudut pandang baru, kesadaran baru, akan sensasi visual yang tidak biasa. Ia mengibaratkan sensasi yang dirasakan seperti berada di ruangan merah dalam film ‘Twin Peaks’ karya David Lynch.

Selama masa adaptasi dengan sensasi baru yang Ia rasakan, Lotje memahami bahwa kesadaran bisa dimaknai sebagai hal berbeda dengan kemampuan otak, yang kita yakini selama ini ibarat mesin utama dalam rangkaian organ tubuh kita. Ketika mengalami disfungsional kognitif, Lotje belajar untuk mengandalkan kesadarannya (consciousness) untuk kembali mempelajari apapun untuk bisa hidup normal sedia kala.

Selain dokumentasi wawancara dari keluarga dan teman, dokumenter ini didominasi oleh rekaman video dari smartphone pribadi Lotje. Bukan karena Ia berniat untuk membuat film, namun hal tersebut Ia lakukan untuk membantu dirinya selama masa terapi. Mengalami cedera otak, Lotje merasa apapun yang Ia pelajari terasa sangat mudah dilupakan. Kita akan melihat sendiri bagaimana di babak awal untuk mengingat satu kata saja Ia harus berulang kali minta tolong pada lawan bicaranya.

Lotje merekam banyak footage random sebagai pengingat bagi dirinya sendiri. Bukan usaha yang sia-sia, kita akan melihat perkembangan kognitif Lotje pada footage pertama hingga pada akhirnya Ia kembali berkomunikasi dengan lancar. Kembali merangkai kalimat yang kompleks dan memiliki artikulasi yang bagus dalam mendeskripsikan pengalamannya selama 1 tahun terapi.

Lotje Sodderland yang Kuat dan Mampu Menerima Kondisinya untuk Bangkit Kembali

Film yang Ia sutradarai dengan Sophie Robinson ini diberi judul “My Beautiful Broken Brain” sebagai rasa bersyukur Lotje dengan stroke yang Ia alami. Berbeda dengan orang lumpuh yang ingin bisa berjalan lagi, penyakit yang dimiliki Lotje adalah kasus yang berbeda. Ia menyebutkan bahwa dirinya memaknai pengalaman ini sebagai anugerah, kesempatan tak terduga baginya untuk mengalami kehidupan dari sudut pandang yang baru. Yang mungkin hanya bisa dialami dengan sikap yang diambil oleh Lotje dalam menghadapi sesuatu yang pada awalnya adalah musibah.

Hal yang bisa kita pelajari dari Lotje Sodderland adalah bagaimana Ia tidak hanya sosok yang cerdas, namun juga kuat dan tidak mudah menyerah. Meski dengan segala ambisinya, Ia juga memiliki sikap lapang dada untuk menerima kemunduran kognitif yang sempat Ia alami. Ikhlas tampaknya menjadi kunci pertama yang meringankan langkah Lotje selama proses pemulihan.

Hingga akhirnya kehidupan memberikan balasan yang indah sebagai penutup kisah, salah satunya dengan kehadiran David Lynch yang menerima pesannya dan menjadi produser bagi film dokumenter ini. “My Beautiful Broken Brain” lebih dari sekadar kisah perjuangan seseorang dalam pulih dari penyakit. Namun juga bisa dimaknai sebagai contoh menerima fase terendah dalam hidup, kemudian mengubahnya menjadi anugerah dan pelajaran berharga.

Cyberpunk: Edgerunners Cyberpunk: Edgerunners

Cyberpunk: Edgerunners Review – Kebrutalan Menawan Petualangan David Martinez di Night City

TV

The Outsider Review The Outsider Review

10 Film Hollywood dengan Estetika Jepang

Cultura Lists

Happiest Season Happiest Season

Rekomendasi Film Chick Flick 2020an

Cultura Lists

Kilas Balik Trilogi Baru Star Wars: Kehancuran Sebuah Franchise

Entertainment

Connect