Connect with us
Monsoon Review
Photo via empireonline.com

Film

Monsoon Review: Identitas Budaya Yang Hilang Pasca Perang

Performa Henry Golding sebagai emigran yang membawa trauma generasi di tanah airnya.

★ ★ ★ ★ ★
★ ★ ★ ★ ★

Perang tidak hanya mengambil nyawa dari mereka yang gugur di dalamnya, tetapi juga merenggut identitas dari mereka yang diasingkan. Dalam hal Perang Dunia Kedua contohnya, kelompok Yahudi terpaksa menyembunyikan identitas mereka agar tetap bertahan hidup, sementara rezim Nazi terus membunuh mereka yang tidak sempat menyembunyikan diri.

Dalam hal Perang Vietnam, dampaknya lebih rumit untuk dijelaskan karena identitas yang hilang adalah identitas mereka yang kabur bersama keluarganya ke negara lain. Bukan hanya identitas individu, tetapi trauma Perang Vietnam menjadi warisan turun temurun antargenerasi.

Kit (Henry Golding) kembali ke kota Saigon, Vietnam setelah sekitar 30 tahun menetap di Inggris bersama keluarganya. Dirinya baru berumur 6 tahun ketika keluarganya melarikan diri ke Inggris, menyelamatkan diri dari kekacauan Perang Vietnam yang dibuat panas oleh tentara Amerika Serikat. Jauh dari masa kecilnya yang samar, Kit melacak kembali akar identitasnya sembari mencari tempat yang tepat untuk menebarkan abu mendiang orang tuanya.

Ulasan film Monsoon

Monsoon

Monsoon tidak terburu-buru maupun menggebu-gebu dalam menunjukkan perasaan yang berkecamuk di dalam diri seseorang yang merasa kehilangan jati dirinya di tanah air sendiri. Justru, film ini bertumpu pada lambannya pergerakan kisah di tengah kota Saigon yang selalu bergerak cepat. Sang sutradara Hong Khaou menitikberatkan film pada dua bagian; satu bagian menunjukkan keadaan kota Saigon yang berubah dengan begitu pesat, para masyarakat dan pemukimannya, lalu bagian lainnya berfokus pada Kit yang bergerak pada pacuannya sendiri, perlahan menyesuaikan diri dengan ritme perkotaan Vietnam yang padat.

Dengan fokus pada visual dan alur yang mengalir perlahan, Monsoon mungkin bukan film yang cocok untuk semua orang. Minimnya dialog yang dimuat dalam film ini dapat menimbulkan kebingungan dan kebosanan tersendiri bagi beberapa jenis penonton. Namun hal tersebut justru membuat dialog dalam film Monsoon menjadi lebih spesial. Hong Khaou yang juga bertindak sebagai penulis skenario tidak menyia-nyiakan tiap baris dialog yang Ia tulis. Setiap ucapan membawa suatu beban tersendiri yang memberikan isi dan konteks dalam pengkajian karakter.

Monsoon

Photo via Variety

Dalam memerankan Kit, Henry Golding membuktikan dirinya sebagai aktor yang memiliki kedalaman peran jauh melebihi performanya dalam film Crazy Rich Asians (2018) yang menjadi awal penjulang karirnya. Kit tidak banyak berbicara kecuali dihadapkan dengan orang-orang yang memang menarik baginya, tetapi bukan berarti dia tidak ramah. Terdapat rasa ketidakpastian dalam setiap gerak gerik dan ucapannya, semacam rasa takut melakukan hal keliru yang dapat membuatnya diusir dari tanah airnya kembali.

Henry memberikan nuansa yang tepat untuk menggambarkan seorang emigran yang kehilangan identitas budayanya. Hampir seumur hidupnya dilalui di negara yang bukan tanah airnya, orang tuanya tidak membicarakan tentang negara asal mereka, dan bahasa ibunya pun telah ia lupakan. Maka ketika Kit akhirnya kembali ke Vietnam untuk mengebumikan, dan tanpa, kedua orang tuanya, tidak heran dirinya terlihat merasa tidak tepat berada di sana.

Selain Kit, Hong Khaou menciptakan karakter Lewis, seorang kulit hitam dari Amerika Serikat, yang merupakan anak dari tentara Amerika yang sempat ikut dalam Perang Vietnam. Keduanya menjalin hubungan yang tidak biasa, tetapi bukan karena keduanya adalah laki-laki, hal tersebut justru menjadi hal paling normal dalam film ini. Justru latar belakang keduanya yang begitu berseberangan–Kit dengan trauma generasi orang tuanya yang menjadi korban pengasingan Perang Vietnam dan Lewis dengan trauma generasi Ayahnya yang menjadi pembunuh dalam Perang Vietnam–yang membuat keduanya sangat berbeda dan sangat tepat untuk satu sama lain.

Kisah tentang pengalaman orang kulit hitam yang terjebak dalam keputusan Amerika Serikat untuk ikut campur tangan dalam Perang Vietnam telah banyak diceritakan. Hong Khaou sendiri menyadari ini dan memutuskan untuk menunjukkan dampak perang dari sisi lain, yaitu para natif sendiri. Dipadukan dengan kisah Lewis, Monsoon pada intinya adalah sebuah film pasca perang yang sangat mentah dalam pengisahannya.

Dengan visual yang indah, dialog yang menusuk dan mempertanyakan arti dari peperangan, Monsoon adalah karya yang penting untuk merefleksikan kembali betapa banyaknya identitas budaya yang telah hilang akibat agresi militer di seluruh dunia.

Click to comment
Advertisement
Cultura Podcast
Connect