Connect with us
2001: A Space Odyssey
Metro-Goldwyn-Mayer (MGM)

Film

Menyusuri Jejak Evolusi Manusia di Film 2001: A Space Odyssey

Monolith dan perkembangan teknologi manusia.

Film “2001: A Space Odyssey” merupakan salah satu mahakarya dari Stanley Kubrick yang rilis pada tahun 1969. Film ini pun dianggap sebagai film yang mendobrak di dunia perfilman terutama genre sci-fi. Kubrick membuat gebrakan dengan menunjukkan situasi–yang dikatakan akurat–terjadi di luar angkasa, seperti gravitasi nol, tidak ada suara di luar angkasa dan perlengkapan-perlengkapan yang ada di pesawat luar angkasa.

“2001: A Space Odyssey” menceritakan tentang perjalanan evolusi manusia dari masa manusia masih berwujud kera hingga manusia bisa menjelajah angkasa luar. Sepintas film ini akan terasa membingungkan dan terasa tidak jelas ketika pertama kali menonton. Penonton mungkin hanya merasakan kemegahan production design di film ini tapi jika ditanya maksudnya apa akan menjawab tidak tahu.

Pada kenyataannya memang film ini terasa rumit tapi sebenarnya sangat sederhana dengan catatan menonton film ini tidak hanya sekali tapi berulang kali. Film ini terbilang memiliki empat babak dalam penceritaannya. Babak pertama mengambil latar waktu zaman primitif, babak kedua ketika manusia sudah bisa terbang ke bulan, babak ketiga perjalanan ke planet Jupiter dan konflik dengan HAL 9000 dan terakhir adalah perjalanan transedental menuju puncak evolusi. Ketiganya berkaitan karena adanya monolith hitam.

Kehadiran monolith hitam tersebut menandai suatu kejadian penting akan terjadi, berhubungan dengan evolusi maupun sebagai penanda akan sesuatu. Kehadiran monolith yang dibarengi dengan musik yang begitu menyeramkan seakan mempertebal betapa monolith di film itu memiliki makna yang besar.

Babak pertama, awal dari kehidupan manusia dan sumber segala permasalahan

Babak pertama di film ini diperlihatkan situasi pada zaman purba dimana manusia masih berbentuk kera. Mereka diperlihatkan masih belum memiliki kebudayaan seperti zaman sekarang. Mereka masih memakan tumbuhan, berebut untuk meminum dan hanya bisa pasrah ketika diserang oleh hewan predator.

Sampai akhirnya muncul keberadaan monolith lengkap dengan pancaran matahari dan suara yang memekakkan telinga. Selang beberapa waktu kemudian salah satu kera tersebut menyadari bahwa tulang hewan bisa menjadi sebuah senjata. Kera dan kawanan tersebut akhirnya menggunakan tulang tersebut untuk melawan komunitas kera lainnya dan membunuh hewan semacam tapir. Dari situlah terjadi beberapa hal yang berhubungan dengan evolusi dari kedatangan monolith tersebut.

Pertama, kera tersebut menemukan penemuan terpenting dalam sejarah manusia yaitu senjata. Kedua, kera tersebut akhirnya menemukan makanan lain selain tumbuhan yaitu daging.

Kehadiran monolith tersebut juga memberikan dua pemaknaan, monolith sebagai pemberi jalan atas kesusahan dan juga sebagai pemberi potensi bencana. Pemberi jalan merujuk kepada akhirnya kera memiliki alat untuk membantu komunitas mereka bertahan hidup dan potensi bencana akhirnya memunculkan adanya gerakan bersenjata. Manusia menjadi lebih beringas dan menyerupai predator. Akhir babak pertama memberikan sebuah alegori tulang sebagai penemuan teknologi baru dengan pesawat angkasa luar yang memiliki kemiripan bentuk.

Babak kedua, manusia mencapai angkasa luar dan sebuah sinyal misterius

Penemuan senjata dari tulang tersebut memberi dampak adanya rasa haus manusia untuk menemukan penemuan baru lainnya. Manusia akhirnya bisa bepergian ke angkasa luar. Manusia mampu hidup di planet yang berbeda, manusia bisa mengatasi permasalahan oksigen di angkasa luar. Semua itu terjadi dari penemuan senjata dari tulang.

Ada dua hal menarik di babak kedua ini; makanan dan kehadiran monolith. Di babak pertama diperlihatkan dua jenis makanan yaitu tanaman dan daging. Di babak kedua ini pun diperlihatkan dua makanan yaitu makanan berbentuk jeli dan semacam roti lapis. Perkembangan yang begitu pesat terbukti dari yang hanya mengunyah daging mentah hingga mengubah makanan padat menjadi cair. Meskipun pada akhirnya mereka memakan makanan yang normal yaitu roti lapis dengan minum kopi.

2001: A Space Odyssey

Metro-Goldwyn-Mayer (MGM)

Perkembangan kebudayaan tersebut terlihat pula ketika terdapat kerumunan manusia, mereka berkomunikasi dengan baik tanpa harus ada kekerasan di dalamnya. Dr. Floyd berbicara dengan para ilmuwan dari Rusia. Menariknya adalah di film ini mereka terlihat berdamai, sedangkan di waktu film ini rilis (1969) Amerika dengan Rusia masih dalam konflik perang dingin.

Kehadiran monolith di babak ini berbeda dengan babak sebelumnya yang memberikan indikasi adanya evolusi. Di babak ini, monolith tersebut justru menjadi indeks. Ada sesuatu hal besar yang akan terjadi di adegan selanjutnya. Dan sekali lagi monolith tersebut dibarengi oleh musik yang memekakkan telinga dan pemandangan matahari separuh di monolith.

Babak ketiga, komputer pintar dan manusia yang berusaha melawannya

Monolith di babak kedua ternyata memberikan sinyal yang mengarah ke planet Jupiter. 18 bulan kemudian mereka melakukan penyelidikan ke planet Jupiter. Perkembangan teknologi yang diperlihatkan di babak ketiga adalah adanya komputer super pintar bernama HAL 9000 yang diklaim tidak pernah menunjukkan kesalahan satu kalipun ketika bekerja. Bisa jadi penemuan HAL 9000 merupakan puncak dari teknologi manusia karena berhasil menciptakan AI atau kecerdasan buatan. Bahkan HAL sendiri memiliki emosi dasar yang dimiliki manusia.

Seperti babak sebelumnya, makanan pun menjadi suatu hal yang perlu kita cermati. Karena makanan di sini juga seperti menandai adanya perkembangan kebudayaan manusia. Di babak ketiga ini diperlihatkan makanannya berupa makanan padat dan menggunakan alat makan seperti garpu atau sendok. Hanya dalam waktu satu tahun setengah terjadi perubahan cara makan.

2001: A Space Odyssey

2001: A Space Odyssey (1968)

Teknologi di babak ketiga ini benar-benar membuat manusia seperti lupa hal dasar dalam bergerak. Ketika Frank sedang berbaring di Kasur, Frank tidak lagi mengatur sendiri kondisi bantalnya tapi dia justru menyuruh HAL untuk menyesuaikan leher dengan bantalnya.

Monolith hadir di babak ini ketika David Bowman berhasil mengatasi pemberontakan HAL. HAL merasa bahwa manusia tidak bisa dipercaya sehingga HAL pun mengkudeta misi tersebut. Bowman menjadi satu-satunya yang selama. Kehadiran monolith tersebut seakan memberi pesan bahwa secanggih apapun itu teknologi, manusia adalah penciptanya dan manusia pulalah yang menghancurkannya.

Setelah itu Monolith seperti menjadi gerbang bagi Bowman untuk mencapai sebuah puncak dari fase evolusi. Monolith tersebut hadir di antara Jupiter dan Bowman dengan POD nya.

Babak keempat, puncak evolusi dan reinkarnasi

Babak keempat merupakan babak paling surealis. Hal ini seperti mendukung adanya anggapan bahwa Bowman dalam perjalanan transidental. Seakan Bowman akan mencapai titik puncak dari kehidupannya.

Sesampai di ruang setelah perjalanan transidental alias mencapai ruang pencerahan. Hal itu terlihat dari ruangannya dikelilingi tembok warna putih dan sekilas dekorasi ruangnya seperti pada zaman pencerahan. Konteks jaman pencerahan tersebut memang mengacu dengan apa yang terjadi di ruang tersebut. Adanya perubahan.

Di ruang tersebut waktu seperti berjalan begitu cepat meski terlihat normal. Hal itu terlihat ketika Bowman menoleh ia melihat dirinya yang lebih tua, menoleh lagi menjadi lebih tua dan hingga akhirnya terbaring lemah di ranjang karena begitu tuanya.

Menariknya adalah di fase penuaan tersebut adegan makannya menjadi lebih membumi dan etis. Bowman memakan seperti steak dengan pisau dan garpu. Sepintas terlihat adanya pengulangan dari babak pertama yaitu memakan daging. Bedanya lebih elok daripada sebelumnya.

Akhirnya, kehadiran monolith di babak ini menandakan puncak dari evolusi Bowman sebagai manusia dan ia pun berubah menjadi janin yang melayang di angkasa luar. Adegan janin tersebut dengan musik Also sprach Zarathustra seakan mempertegas pemaknaan adanya reinkarnasi. Makna Zarathustra dari Nietzsche adalah sesuatu akan berputar kembali. Sama halnya dengan adegan janin tersebut. Seakan-akan kehidupan manusia akan kembali terjadi seperti di babak pertama dan seterusnya.

Akhir kata, film “2001: A Space Odyssey” sekilas seperti sebuah ramalan karena film ini dirilis pada tahun 1969 sekaligus sebagai pemaknaan bahwa pada akhirnya kita sebagai manusia adalah sebagai pembuat suatu teknologi sekaligus sebagai penghancur teknologi itu sendiri.

Big Night! Big Night!

Big Night! Review: Tragicomedy yang Merekam Realitas Sosial Kaum Miskin Filipina

Film

Apakah James Bond Harus Selalu Kulit Putih?

Culture

avatar remastered 2022 avatar remastered 2022

Avatar Review: Masih Relevan untuk Penonton Masa Kini

Film

The Outsider Review The Outsider Review

10 Film Hollywood dengan Estetika Jepang

Cultura Lists

Connect